Published On: Thu, Oct 27th, 2016

Batu Merah dan Amahusu Jadi Desa Percontohan Program PATBM

desa batumerah

desa batumerah

Desa Batu Merah serta Amahusu dijadikan sebagai desa percontohan program Pelatihan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) yang merupakan salah satu program andalan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A).

Selain dua desa di Kota Ambon yang jadi daerah percontohan di Maluku, dua desa lainnya yang juga jadi percontohan adalah Desa Hatu dan Tulehu di Kabupaten Maluku Tengah. Setelah terpilih menjadi desa percontohan oleh pihak kementerian, maka para aktivis dari keempat desa tersebut resmi mengikuti PATBM yang dipusatkan di Manise Hotel, Ambon, Rabu (26/10).

Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) Maluku, Sadlie Ie, mengaku, program ini merupakan program unggulan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam hal ini Deputi Perlindungan Anak.

“Program ini diikuti aktivias yang ada di empat desa yang jadi percontohan perlindungan terhadap perempuan dan anak,” ungkap Ie kepada wartawan disela-sela kegiatan tersebut.

Menurutnya, aktivis di keempat desa ini, baru saja dibentuk berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 354 Tahun 2016, tentang Penetapan Kabupaten/Kota Percontohan Pelaksanaan PATBM.

Empat desa tersebut dipilih berdasarkan pada besarnya rasa peduli masyarakat mereka untuk mengatasi masalah kekerasan, baik kepada perempuan maupun kepada anak.

“Pemilihan desa percontohan ini juga merupakan desakan dari Kementerian P3A. Indikator utama jadi desa percontohan adalah, ada rasa peduli masyarakat disana untuk sama-sama mengatasi masalah kekerasan pada perempuan dan anak selain ini, tidak ada persyaratan khusus lainnya,” ujarnya.

Ia mengaku, memang jumlah desa yang dijadikan sebagai desa percontohan, sangatlah jauh dari apa yang diharapkan oleh pihak kementerian namun pemprov berharap agar kedepannya akan ada desa-desa lainnya yang bisa bergabung untuk menjadi desa percontohan.

Disisi lain, pelatihan para aktivis yang peduli terhadap kekerasan pada anak dan perempuan ini, sangatlah baik. Hal ini mengingat, walaupun telah ada regulasi-regulasi yang dibuat oleh pemerintah pusat, namun tingkat kekerasan pada anak dan perempuan semakin meningkat. Bahkan yang lebih fatal lagi, tindakan kekerasan tersebut berasal dari orang terdekat para korban.

“Saat ini, semakin banyak regulasi yang ada, semakin tinggi pula tindak kekerasan pada anak, yang parahnya tindakan kekerasan itu dilakukan oleh orang terdekatnya. Oleh sebab itu, pelatihan kepada para aktivis ini merupakan langkah yang baik, karena tiba saatnya aktivis yang telah mengikuti pelatihan dapat ikut serta bantu pemerintah dalam meminimalisir tindak kekerasan tersebut,” tukasnya. (Siwalima)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>