Published On: Mon, Jan 18th, 2016

Diincar KPK, Trio “A” Malah Dapat Proyek Rp 500 Miliar

Share This
Tags

394d8469589703c9de3d235cbb507797_XLGAGAL di APBNP, Trio “A” lolos menggarap tujuh paket di APBN 2016. Nilainya lebih dari Rp 500 miliar. Itu baru di Tenggara Raya, belum Pulau Seram yang tinggal menunggu hasil tender.  Mungkinkah KPK melacak?

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), tengah mengincar aliran dana suap yang diduga hasil pantungan pengusaha ternama di Maluku yang dikenal dengan istilah “Trio A”  ini belakangan terungkap, bila ketiga pengusaha yang salah satu bernama Abdul Khoir telah ditangkap dan ditahan  di Hotel Prodeo KPK, telah lolos tender tujuh paket proyek di APBN 2016, sebesar Rp 500 miliar.

Tujuh paket proyek di Balai Jalan dan Jembatan Maluku, Maluku Utara  berlokasi di Maluku Tenggara Raya. Data Kabar Timur di Kantor Balai Jalan dan Jembatan Maluku menyebutka, proyek jalan tahun 2016, khusus Maluku Tenggara Raya,  dibenarkan dimenangkan tiga pengusaha itu, salah satunya Abdul Khoir dengan bendera PT Windu Tunggal Utama.

Menurut data itu, dari total Rp 500 miliar APBN 2016 untuk infrastruktur jalan di Tenggara Raya itu, berlokasi di, Serwaru, Larat, Tepa, Kisar, Wetar dan Moa. “Jadi ada, ruas-ruas jalan baru  di daerah itu, seperti di Larat dan Selwaru dikerjakan  trio “A” salah satunya Abdul Khoir itu,” beber sumber itu.

Dikatakan, data ini belum termasuk mega proyek yang sama  di Pulau Seram, yang saat ini dalam proses tender yang bakal segera diumumkan dalam waktu dekat. Hanya saja, bertepatan dengan ditangkapnya Abdul Khoir, maka pengumuman pemenang tender “akal-kalan” ini dipending.

Mendapatkan mega proyek di Tenggara Raya sebanyak itu, tampaknya belum dirasa cukup.  Tak pelak, ke-tiganya langsung urunan untuk berburu paket lagi proyek di APBNP 2016, melalui Damayanti Anggota DPR RI. Alhasil, belum berujung untung, Abdul Khoir sang “eksekutor” keburu ditangkap KPK bersama Damayanti dan dua stafnya dalam operasi tangkap tangan (OTT), KPK, pekan lalu.

Abdul Khoir sang juru loby sekaligus “eksekutor” proyek APBN di Balai Jalan dan Jembatan, Maluku dan Maluku Utara ditangkap, dua pengusaha “A” mulai dirundung “ketakutan.”  “Bukan tidak mungkin bila KPK melakukan pengembangan dan pengeledahan di Kantor PT Windu Tunggal Utama, dua pengusaha ini bisa terseret,” ungkap sumber Kabar Timur di Kantor Balai Jalan dan Jembatan Maluku.

Apalagi, kata dia, bila benang merah ini dikait-kaitkan dengan proses tender sejumlah paket proyek APBN 2016 yang telah dimenangkan ketiga pengusaha ini bisa saja dibatalkan. “Kita tunggu saja, action KPK dalam membongkar skandal suap dalam proyek-proyek APBN di Balai Jalan dan Jembatan Maluku, pasti bakal banyak yang terseret. Termasuk juga Kepala Balai Amran Mustari,” ungkap dia.

Sementara itu, salah satu pengusaha asal Maluku memberikan apresiasi atas kerja KPK yang telah membongkar skandal suap pengusaha Maluku terhadap Anggota DPR RI.  Dia mengatakan, upaya ‘kejahatan” dengan menyuap Anggota DPR RI untuk menopoli proyek APBNP di Pulau Seram harus dibongkar.

“Amran Mustari Kepala Balai Jalan dan Jembatan Maluku dan Maluku Utara, tahu persis soal masalah ini. Dia—Amran—tidak bisa cuci tangan. Mereka semua berkomplot,” kata salah satu pengusaha asal Maluku kepada Kabar Timur, di Ambon, Minggu.

Menurutnya, media harus mengawal masalah ini sehingga tidak lagi ada menopoli proyek yang selama ini terjadi di Balai Jalan dan Jembatan, Maluku dan Maluku Utara.  “Abdul Khoir ditangkap KPK bersama Damayanti poilitisi Senayan, menjadi bukti bahwa ada kejahatan suap yang selama ini hidup di Balai Jalan dan Jembatan itu,” katanya.

Karenanya, dia mengkritik, Kapala Balai Amran Mustari yang mengaku tidak tahu menahu soal “kejahatan” ini menyusul bos PT Windu Tunggal Utama ditangkap KPK. “Jangan kelabui publik, kejahatan ini sudah diketahui bersama. Bahkan, tender tiga pengusaha  yang dikenal berinisial “A”  pada paket proyek APBN 2016, tidak lepas dari permainan suap-menyuap itu,” tuding dia.

Dia sepakat bila, pengusutan KPK terkait penangkapan Abdul Khoir tidak berhenti disitu.  Pasalnya, benang kusut ini harus diurai. Apalagi tangkap tangan KPK bersama bukti dana jumbo tidak ansih milik PT Windu Tunggal Utama.

“Dana itu, berasal dari hasil patungan pengusaha-pengusaha yang selama ini menguasai proyek infrastruktur jalan dan jembatan di Pulau Seram.  Istilahnya, uang kecil beli uang besar. Ini yang harus diungkap,” tudingnya.

Yang menarik, terungkap juga, bila mega proyek Rp 500 miliar APBN 2016, yang telah lolos tender dimenangkan, PT Windu Tunggal Utama, di Selwaru dan Larat,  juga lolos dengan sistim yang sama, tapi lewat anggota DPR RI lain yang tugasnya  di Badan Anggaran (Banggar).

“Anggota DPR RI sempat masuk Ambon beberapa kali, dari Dapil Sulawesi Selatan, asal Partai Beringin,” ungkap sumber di Kantor Balai Jalan itu. Lanjut dia,  mega proyek jalan di Selwaru dan Larat, dalam tender dimenangkan PT Windu Tunggal Utama. Sedangkan, Tepa, Kisar, Wetar dan Moa, digarap atau dimenangkan duo pengusaha yang dikenal berinisial “A” yang juga partner Abdul Khoir.

“Total paket semua berjumlah tujuh. Modusnya sama menyuap anggota DPR RI. Tapi, untuk proyek yang dianggarkan APBN 2016 ini berjumlah tujuh paket ini, Trio “A” gunakan oknum anggota DPR RI yang bermarkas di Badan Anggaran,” sebutnya.

Menurutnya, data siapa sang anggota DPR RI di Badan Anggaran yang kerap digunakan Trio “A” untuk loloskan paket-pekat jumbo proyek ratusan miliar di Balai Jalan dan Jembatan Maluku dan Maluku Utara sudah tidak asing lagi bagi kalangan pengusaha Jasa Konstruksi di Maluku.

“Dengan tertangkapnya  Abdul Khoir, kejahatan ini harus segera diungkap. Tidak hanya untuk paket APBNP, tapi  proyek APBN 2016, pun harus diungkap. Sebab, modus “kejahatan” sama dengan apa yang diungkap KPK itu,” bebernya.

Diberitakan sebelumnya, lembaga super body ini terus melakukan pendalaman pemeriksaan terhadap Damayanti, Abdul Khoir bos PT Windu Tunggal Utama dan dua tersangka lainnya. Inisial trio “A” yang disebut-sebut itu salah satunya Abdul Khoir. Kendati duo “A” lainnya, yang diduga ikut dalam patungan dana itu masih dirahasiakan.

“Setelah mengeledah ruang kerja Damayanti di DPR RI, penyidik KPK akan menuju Ambon di kantor PT Windu Tunggal Utama. Di Ambon KPK akan bertindak sama seperti yang dilakukan di ruang kerja Damayanti,” ungkap Pelaksana Harian Kabiro Humas KPK, Yuyuk Andriati.

Tapi, kapan pengeledahan markas PT Windu Tunggal Utama, KPK menolak membocorkan rencana itu. “Ya tunggu saja. Pastinya, untuk memperkuat semua bukti pengeledahan itu akan dilakukan,” bebernya.

Dia mengatakan, tersangka  Damayanti telah ditahan di Rutan KPK. Damayanti mendekam di rutan yang sama dengan seorang stafnya bernama Dessi A Edwin. Damayanti ditahan setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait proyek Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kempupera).

Selain Damayanti, KPK juga menahan dua staf Damayanti, Julia Prasetyarini dan Dessi A Edwin serta Dirut PT Windu Tunggal Utama, Abdul Khoir yang juga menjadi tersangka kasus yang sama.

Yuyuk Andriati mengatakan, Damayanti ditahan di Rutan KPK. Damayanti mendekam di rutan yang sama dengan seorang stafnya Dessi A Edwin.  “DWP (Damayanti Wisnu Putranti) dan DES (Dessi A Edwin) di Rutan Wanita KPK,” kata Yuyuk.

Sementara, staf Damayanti lainnya, Julia ditahan di Rumah Tahanan Polres Jakarta Selatan. Sedangkan Dirut PT Windu Tunggal Utama, Abdul Khoir ditahan di Rutan KPK. “AKH (Abdul Khoir) di Rutan KPK, dan Jul (Julia) di Rutan Polres Jakarta Selatan,” tambah Yuyuk.

Yuyuk menegaskan, pengusutan kasus ini tak berhenti dengan menetapkan Damayanti dan menahannya. KPK akan mengusut dan mengembangkan kasus ini, termasuk mengusut keterlibatan pihak lainnya. “Dugaan keterlibatan pihak lain masih akan ditelusuri, termasuk melalui pengembangan kasus ini,” kata Yuyuk.

Berdasar informasi, salah satu pihak yang tengah diincar KPK dalam kasus ini merupakan anggota DPR. Namun, wakil rakyat tersebut berbeda fraksi dengan Damayanti. Namun, usai diperiksa penyidik dan akan menjalani masa penahanan, Damayanti memilih bungkam saat dicecar awak media mengenai keterlibatan pihak lain dalam kasus ini.

Sebagaimana diketahui, sejumlah penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi menggeledah ruang kerja anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Damayanti Wisnu Putranti, Jumat (15/1) siang. Ruang kerja Damayanti terletak di lantai 6, ruangan 0621, Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen Senayan, digeledak.

Penggeledahan itu dilakukan menyusul ditetapkannya Damayanti sebagai tersangka dalam kasus korupsi. Pantauan di lokasi, proses penggeledahan tersebut berlangsung tertutup. Saat tiba, para penyidik KPK itu tampak dikawal empat polisi bersenjata lengkap.

Ruangan itu sebelumnya telah disegel dengan menggunakan pita berwarna merah hitam yang bertuliskan “KPK Line” sejak Kamis (14/1) siang. “Polisinya di luar jaga di depan ruangan. Ada empat orang, tiga bersenjata lengkap satu komandannya,” kata salah seorang petugas Pengamanan Dalam DPR yang enggan disebutkan namanya.

Menurut petugas itu, para penyidik KPK tiba sejak pukul 11.00 WIB. Mereka langsung masuk ke dalam ruangan Damayanti untuk mencari barang bukti lain. KPK menangkap Damayanti. Namun, Damayanti ternyata bukan satu-satunya anggota legislatif yang diduga terlibat dan dikejar lembaga anti rasuah itu.

Damayanti mengutus dua teman dekatnya, Julia Prasetyarini dan Dessy A Edwin, untuk bertemu dengan Bos PT Windhu Tunggal Utama (WTU) Abdul Khoir pada Selasa (12/1). Pertemuan dilakukan di kantor PT WTU di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Hari itu, Abdul berjanji akan memberikan uang senilai 99.000 dollar Singapura atau sebesar Rp 3,9 miliar, masing-masing untuk Damayanti, Julia, dan Dessy.

Uang itu merupakan bagian dari komitmen fee agar PT Windu mendapatkan proyek-proyek di bidang jasa konstruksi yang dibiayai dari dana aspirasi DPR di Pulau Seram, Provinsi Maluku. PT Windu memang mengincar sejumlah proyek jalan di provinsi itu yang dianggarkan dari dana aspirasi DPR dan dicairkan melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Berdasarkan informasi Asisten Perencanaan Satuan Kerja Pelaksana Jalan Nasional II Maluku Yade Trianto, untuk tahun 2016, di Wilayah II Maluku yang meliputi Pulau Seram akan ada 19 paket pekerjaan yang terdiri dari 14 jalan dan 5 jembatan. Proyek tersebut sedang dalam proses pelelangan.

Damayanti sengaja tak mau datang sendiri menemui Abdul. Dia mengutus temannya agar terkesan bukan dia yang menerima suap dari Abdul. Namun, setelah Julia dan Dessy menerima 99.000 dollar Singapura dari Abdul hari Selasa, Damayanti mengutus sopirnya datang ke rumah Julia pada Rabu dini hari untuk mengambil uang bagian Damayanti sebesar 33.000 dollar Singapura.

Pada Rabu itu, baik Abdul, Damayanti, Julia, maupun Dessy menjalani aktivitas seperti biasa. Mereka sama sekali tak menduga gerak-geriknya selama beberapa hari terakhir sebenarnya sudah diintai KPK. Dessy bahkan asyik jalan-jalan di Pondok Indah Mall setelah mengantongi uang 33.000 dolar Singapura dari Abdul.

Setelah memastikan terjadi perpindahan uang dari Abdul ke tiga perempuan itu, tim KPK yang masih berada di lapangan langsung dibagi empat. Pukul 17.00, dua tim pertama bergerak bersamaan untuk menangkap Dessy dan Julia. Dessy ditangkap di Pondok Indah Mall, sedangkan Julia ditangkap di Tebet, Jakarta Selatan.

Dari dua perempuan itu, KPK menyita uang masing-masing 33.000 dollar Singapura. Tim ketiga kemudian memburu Abdul, yang berhasil ditangkap di kawasan Kebayoran, Jakarta Selatan. Tak berapa lama setelah menangkap Abdul, tim KPK yang menempel Damayanti pun meringkusnya di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, tak jauh dari rumahnya.

Damayanti tak berkutik setelah dari mulut sopirnya diketahui dia telah menerima uang 33.000 dollar Singapura. KPK telah menetapkan Damayanti, Julia, dan Dessy sebagai tersangka penerima suap.

Diberitakan sebelumnya, masih belum beres dugaan korupsi delapan paket proyek jalan yang bernilai ratusan miliar di Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB), yang ditangani Kejaksaan Agung, Bos PT Windu Tunggal Utama lebih awal diciduk  KPK bersama politikus PDI-P, dalam operasi tangkap tangan (OTT),  Rabu, 13 Januari 2016, malam.

Bos PT Windu bernama: Abdul Khoir ditangkap bersama Dessy A. Edwin, Julia Pristiani alias Uwi dan anggota DPR RI Komisi V dari PDIP Damyanti Wisnu yang diduga menerima suap untuk pelicin mega proyek jalan di Pulau Seram Maluku sepanjang 60 KM, di Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, melalui Balai Jalan dan Jembatan Wilayah Maluku dan Maluku Utara yang dikomandoi Amran Mustari.

Amran Mustari dikonfirmasi Kabar Timur via telepon selulernya, tadi malam, terkait penangkapan itu, kaitannya dengan proyek di Pulau Seram? Amran  mengaku, baru mengetahui dari media TV.

Ditanya apakah Kementrian PU dan Perumahan Rakyat telah menganggarkan proyek jalan lintas Seram Wilayah II?  Dia mengaku, tidak tahu menahu. “Biasanya ada anggaran untuk jalan. Coba tanya ke Satkernya,” aku Amran pura-pura bego.

Informasi di Balai Jalan dan Jembatan Wilayah Maluku dan Maluku Utara, proyek infrastruktur Jalan dan Jembatan di wilayah Seram II, saat ini dalam proses tender dengan jumlah paket sebanyak 19 paket, yang terdiri dari 15 paket jalan dan empat jembatan, yang totalnya mencapai ratusan miliar rupiah. “Dari 15 paket jalan total panjang mencapai 60 Kilo Meter (KM),” ujar sumber di Balai Jalan.

Amran Mustari sendiri ketika ditanya apakah mengetahui bila bos PT Windu Tunggal Utama Abdul Khoir ikut diciduk KPK? Lagi-lagi, Amran pura-pura bego mengaku, tidak tahu. “Saya tidak tahu, soal ada Abdul Khoir yang ikut diciduk,” ujarnya.

Abdul Khoir dan politisi PDIP bersama dua rekannya itu, telah resmi ditetapkan lembaga super body sebagai tersangka, setelah dilakukan pemeriksaan selama 1×24 jam. “Mereka telah ditetapkan sebagai tersangka setelah diperiksa secara intensif oleh penyidik KPK dan melalui proses gelar perkara,” kata Ketua KPK Agus Rahardjo, kepada wartawan di Jakarta, Kamis, sore, kemarin.

Menurut Ketua KPK,  Damayanti diduga menerima suap  untuk pelicin proyek di Kemen PU Pera. “Kalau tahunnya ini Tahun Anggaran 2016. Perkiraannya adalah proyek Kementerian PU Pera,” terang Agus.(Kabar Timur)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>