Published On: Mon, Mar 21st, 2016

Kabar Pra-Kontrak dan Pro-Kontra Mourinho ke ‘Setan Merah’

Share This
Tags

45ca2429-bacc-487f-85c6-aaa3835bee85_169Beberapa hari lalu muncul kabar bahwa Jose Mourinho sudah menandatangani pra-kontrak dengan Manchester United. Bagaimana seandainya Mourinho jadi ke ‘Setan Merah’?

Kabar bahwa Mourinho sudah menandatangani perjanjian pra-kontrak itu dikabarkan oleh media besar Spanyol, El Pais. Lalu, kabar tersebut menyebar ke Inggris dan dikutip oleh beberapa media besar negeri Ratu Elizabeth tersebut, seperti The Guardian dan The Independent, dan media lokal asal Manchester,Manchester Evening News.

Dalam kabar tersebut disebutkan bahwa Mourinho sudah menyetujui perjanjian pra-kontrak pada bulan Februari 2016. Disebutkan juga bahwa ada sejumlah kompensasi yang harus dibayarkan kubu United andai tidak menunjuk Mourinho pada batas waktu tertentu.

Jika United tidak menunjuk Mourinho sebelum 1 Mei 2016, mereka wajib untuk membayar 5 juta pounds. Lalu, jika mereka tidak juga menunjuk Mourinho hingga 1 Juni 2016, mereka wajib membayar 10 juta pounds lagi. Artinya, jika sampai melewati 1 Juni 2016 United belum juga menunjuk Mourinho sebagai manajer mereka musim depan, mereka wajib membayar 15 juta pounds.

Belum ada komentar dari kubu United untuk membantah kabar tersebut. Namun, perkara berita Mourinho bakal menjadi manajer mereka musim depan sudah berkembang sejak lama. Yang jelas, Mourinho sendiri sudah menyatakan bahwa ia akan kembali menangani klub pada musim depan –kendati tidak menyebutkan klub mana yang akan ia tukangi.

“Saya merasa bahwa mulai dengan sebuah klub baru dan proyek yang baru di musim depan adalah hal yang terbaik untuk saya,” ucap Mourinho dalam kunjungannya ke Singapura beberapa waktu lalu.

Kabar Mourinho menjadi menarik karena beberapa petinggi klub dikabarkan bersikukuh untuk menjadikan Ryan Giggs sebagai suksesor Louis van Gaal. Sementara sebagian lainnya menginginkan Mourinho.

Eks bek sekaligus kapten United, Nemanja Vidic, juga mengakui bahwa United tengah menghadapi situasi dilematis. Di satu sisi, Giggs amat paham klub luar-dalam; eks gelandang dan kapten United lainnya, Bryan Robson, juga menyebutnya bisa seperti Pep Guardiola di Barcelona. Di sisi lain, Mourinho, kata Vidic, sudah terbukti punya CV mentereng.

Satu-satunya kelemahan Giggs –dan yang membedakannya dengan Guardiola– adalah ia belum punya cukup banyak pengalaman melatih. Berbeda dengan Guardiola yang menangani Barcelona B dulu sebelum menangani tim senior, Giggs “hanya” pernah menjadi caretaker ketika David Moyes dipecat. Selebihnya, ia belajar dengan menjadi asisten Van Gaal selama dua musim terakhir ini.

Tapi, dua dedengkot United, Sir Bobby Charlton dan Sir Alex Ferguson disebut lebih menyukai Giggs ketimbang Mourinho. Keduanya menilai, Giggs bisa menjaga tradisi klub lantaran sudah kenal luar-dalam. Di sisi lain, Mourinho, kendati berteman dengan Sir Alex, biasanya punya egonya sendiri.

[Baca Juga: Jose Mourinho: Ego Seluas Lapangan Bola]

Januari lalu, The Guardian mengabarkan bahwa Mourinho mengirim dokumen enam halaman kepada Manchester United. Isi dokumen tersebut di antara lain berisi kelemahan-kelemahan United saat ini dan bagaimana Mourinho akan membenahinya. Dalam dokumen tersebut, Mourinho juga disebut bersedia menyesuaikan diri dengan kultur United.

Menurut kolomnis About The Game, Yusuf Arifin, yang juga pernah bekerja dengan Txiki Begiristain di Manchester City, Mourinho memang punya kebiasaan untuk mengirimi klub-klub besar dokumen berisi program-program yang akan ia lakukan seandainya ditunjuk menjadi manajer. Begiristain dulu juga pernah dikirimi Mourinho dokumen ketika masih bekerja di Barcelona. Namun, pada akhirnya, Begiristain dan Barca memilih untuk menjadikan Guardiola sebagai manajer mereka.

Kabar bahwa Mourinho bersedia menyesuaikan diri dengan kultur Old Trafford juga menarik. Sebab, selama ini ia dianggap sebagai manajer yang pragmatis. Pragmatisme itulah yang kemudian membuat Mourinho dianggap tidak akan mau mempromosikan pemain-pemain muda dari akademi; ia butuh hasil instan. Padahal, banyak pemain muda di skuat United saat ini –seperti Marcus Rashford dan Cameron Borthwick-Jackson– mencuat musim ini. Pragmatisme itulah yang kemudian menjadi “Kontra” untuk Mourinho.

Dari sisi yang “Pro”, Mourinho bisa membenahi sistem permainan United. Bersama Van Gaal, United tampil angin-anginan: Ketika mereka menitikberatkan pada keseimbangan permainan, mereka kesulitan untuk menyerang dan menciptakan peluang. Imbasnya, permainan jadi monoton. Sementara, ketika mereka bermain ofensif dan mengambil risiko, lini pertahanan mereka menjadi amat rapuh.

Seperti yang dituliskan oleh Pandit Football dalam analisis mereka menyoal derby Manchester tadi malam, United punya “penyakit lama”. Simak penuturan Pandit Football berikut:

“Pada babak kedua, “penyakit” MU kambuh: berlama-lama dengan bola. Hampir jarang terlihat umpan-umpan Juan Mata yang langsung mengarah ke depan. Bola umumnya diputar-putar di tengah sebelum dikirimkan ke-entah-siapa di lini serang.

“Ke-tidak-istimewa-an MU bisa terlihat dari cara mereka membangun serangan. ‘Pola-pola lama’ dengan membawa bola dengan durasi yang begitu lama, membuat lini pertahanan City mampu mengatasi sejumlah serangan tersebut. Beruntung karena MU sudah mencetak gol sementara City kepayahan mencetak gol ke gawang De Gea.”

[Baca Juga: City Bermain Buruk, MU Tak Istimewa]

Sebagai pelatih, kendati dianggap pragmatis, Mourinho paham bagaimana menyeimbangkan sistem. Dia dikenal sebagai pelatih yang bisa membuat timnya bertahan dengan amat rapi –hingga dianggap parkir bus. Anggapan itulah yang kemudian membuat Mourinho dikenal gemar main bertahan. Padahal, tim-tim besutannya juga bisa tampil ofensif.

Ambil contoh ketika membawa Chelsea menjuarai Premier League pada 2004/2005. Kala itu, Chelsea mencetak 72 gol semusim, hanya kalah dari Arsenal yang mencetak 87 gol. Waktu membawa Chelsea menjuarai Premier League pada 2005/2006, timnya mencetak 72 gol –menjadikan Chelsea, bersama United, jadi tim tersubur di Premier League musim itu.

Ketika Chelsea menjadi juara Premier League pada 2014/2015, mereka mencetak 73 gol, yang mana hanya kalah dari City yang sukses mencetak 83 gol. Contoh lain adalah ketika membawa Real Madrid menjuarai La Liga pada 2011/2012, di mana Madrid sukses mencetak 121 gol –mengungguli Barca yang mencetak 114 gol.

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>