Published On: Tue, Nov 17th, 2015

Kajari Dobo Kerap “Bolos” Penanganan Kasus Mangkrak

Share This
Tags

b9140301fa3330f090ea949fad7a5524_XLKepala Kejaksaan Negeri Dobo Rachmat Supriyadi tidak menunjukkan ke­las­­nya sebagai mantan penyidik Ko­misi Pem­berantasan Korupsi (KPK). Menyan­dang status mantan jaksa penyidik di komisi anti rasuah itu, berbanding terbalik dengan ki­nerjanya sebagai orang nomor satu di korps Adhyaksa di Kabupaten Kepulauan Aru.

Buktinya, setahun menjabat, belum sa­tu pun kasus korupsi yang dilidik Kejari Do­bo. Usut punya usut, mandeknya kinerja Kejari Dobo lantaran Supriyadi lebih banyak me­ninggalkan tempat tugasnya. Setiap Jumat, Su­priyadi memilih “melancong” ke Pulau Ja­wa. Dia baru kembali masuk kerja pada hari Selasa tiap pekan.

Akibat kerap “bolos” kerja, Supriyadi be­lum menunjukkan prestasinya dalam pene­gakan hukum, khususnya pembe­ran­ta­san tindak pidana korupsi. Tidak hanya ka­sus-kasus korupsi yang tidak terjamah, imbas dari “hobi bolos” itu, kasus-kasus tindak pidana umum yang membutuhkan koordinasi dengan Supriyadi berjalan di tempat. Se­but saja kasus tindak pidana per­da­gangan manusia (human traf­ficking) di PT Pusaka Benjina Re­suor­ces (PBR), Kabupaten Kepu­lauan Aru.

Meski Kejari Dobo telah me­nyatakan berkas delapan tersangka kasus perdagangan manusia di PT PBR lengkap (P21), namun hingga kini berkas perkaranya belum juga di­limpahkan ke Pengadilan Negeri Tual untuk disidangkan.

Informasi yang dihimpun Kabar Ti­mur akibat buruknya kinerja Su­priyadi, penyidik Polres Aru dan jak­sa penuntut umum (JPU) Kejari Dobo, dibuat bingung. Mereka ha­nya menunggu tanpa bisa berbuat apa-apa. Untuk melimpahkan ber­kas perkara tersebut, kehadiran Su­priyadi sangat dibutuhkan un­tuk memberikan petunjuk dan me­nan­datangani surat-surat terkait de­ngan berkas perkara tersangka per­dagangan manusia ini.

“Kita tidak tahu kapan berkas per­­kara ini dilimpahkan ke pe­ngadilan untuk disidangkan ka­re­na harus berkordinasi dengan be­liau (Kajari Dobo), juga ada ber­kas atau dokumen yang harus ditan­da­tangani beliau,” jelas sumber Ka­bar Timur, kemarin.

Padahal kasus perbudakan anak buah kapal (ABK) warga negara asing di PT PBR telah menjadi ka­sus yang mendunia dan menjadi per­hatian serius pemerintahan Joko Wi­dodo-Jusuf Kalla. “Kasus ini telah mencoreng citra Indonesia di mata dunia internasional, tapi ke­napa beliau (Kajari) begitu santai bah­kan terkesan tidak peduli untuk me­nuntaskan kasus ini,” heran sum­ber yang meminta namanya ti­dak dikorankan itu.

Jika penanganan kasus ini di­biarkan berlarut-larut akan me­nam­par wajah aparat penegakan hu­kum di Maluku. “Kita yang di daerah nanti dianggap tidak se­rius menangani kasus yang telah me­rusak nama Indonesia di dunia in­ter­nasional,” ujarnya.

Dia berharap Kepala Kejak­saan Tinggi Maluku Chuck Sur­yosampeno tidak menutup mata de­ngan buruknya kinerja anak buah­nya di Kejari Dobo. “Jika (ke­bia­saan Kajari Dobo) seperti ini tetap dibiarkan, penegakan hukum di Aru tidak sesuai harapan masyarakat. Pak Kajati harus menegur beliau, bi­la perlu mengevalusi jabatannya,” kesal sumber.

Sebagaimana diketahui, Penga­dilan Negeri Tual telah membentuk majelis hakim serta menentukan jadwal persidangan perdana pada 16 September 2015.

Ketua Pengadilan Negeri (PN) Tual, Edy Toto Purba bertindak selaku ketua majelis hakim dalam mengadili para pelaku yang terdiri dari dua warga negara Indonesia dan enam lainnya merupakan war­ga negara asing itu.

Pada pekan kedua Oktober 2015 te­lah dilakukan penyerahan berkas pe­r­kara dari Kejari Dobo ke PN Tual, namun kasusnya belum bisa disidangkan karena jaksa meminta perpanjangan selama 30 hari untuk dilengkapi.

“Awalnya sudah ada proses penyerahan berkas perkara dari penyidik Kejaksaan Negeri Dobo ke­pada kami tetapi mereka telah me­minta perpanjangan tahap ke­dua selama 30 hari lagi untuk meleng­ka­pinya dan sekarang seluruh ber­kas perkara telah diterima PN Tual,” ujar Edy (Katim)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>