Published On: Sat, Mar 17th, 2018

Kampanye Pilgub Hanya Ramai di Dunia Maya

Share This
Tags

Tiga bulan lagi menuju hari pencoblosan. Namun, Pilgub Maluku masih sepi. Ramai hanya di dunia maya (dumay), lempem dan keropos di akar rumput. Sejumlah faktor melatari fenomena ini.

Situasi pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku (pilgub) 2018 memang berbeda dengan dengan Pilgub lima tahun lalu. Tidak ada kerumunan politik.

Banyak orang berpendapat, ini termasuk kontestasi demokrasi lokal lima tahunan paling sunyi di Maluku. Bila dibandingkan, hiruk-pikuk Pilwakot Ambon yang jauh lebih ramai.
Hairudin, salah satunya. Warga Desa Batumerah ini menilai, pasangan calon dan timnya masih kurang konsolidasi. “Seperti tidak ada Pilkada ya ? Kok, jarang bahkan nyaris tidak ada tim yang melakukan sosialiasi. Padahal, biasanya kalau musim Pilkada, pasti ramai,” ujarnya ketika dimintai pendapat oleh Ambon Ekspres, Kamis (15/3).

Hingga kemarin, Hairudin mengaku, belum mengetahui visi, misi dan program tiga pasangan calon, yakni Said Assagaff-Anderias Rnetanubun (SANTUN), Murad Ismail-Barnabas Orno(BAILEO) dan Herman Koedoeboen-Abdullah Vanath (HEBAT) secara rinci.
“Sesekali kalau buka medsos (media sosial), khususnya facebook, baru bisa tahu. Tapi, hanya sepintas. Kalau tim sosialisasi langsung, kan kita masih mengetahui dan paham,” tambah dia.

Direktur RESCO, M Jais Patty juga menilai, hiruk-pikuk Pilgub hanya terlihat di dunia maya. Justru momentum perebutan rekomendasi, jauh lebih hangat dibandingkan dengan masa kampanye yang sudah berlangsung kurang lebih satu bulan.
“Memang agak mengherankan, Pilgub kali ini gregetnya hanya di dunia maya. Tapi, di grass groot (akar rumput), terlihat melempem dan keropos,” kata Jais.
BANYAK PENYEBAB

Menurut peneliti Index, Nendy Kurniawan Asyari, ademnya suasana Pilgub Maluku ini disebabkan sejumlah faktor. Pertama, karena kandidat yang bertarung, kecuali Murad Ismail, telah memahami psikologi politik pemilih Maluku secara matang, sehingga menghindari atau tidak lagi menggunakan strategi politik ‘kerumuman’.
‘’Memang mereka sudah lebih cerdas dan sangat paham model psikolgi pemilih Maluku. Makanya, politik kermumunan itu memang mereka meminimalsir sekecil mungkin,” jelas Nendy.

Strategi politik kerumunan atau politik orang banyak, lanjut Nendy, akan memakan banyak biaya. Selain itu, sulit memastikan politik mereka. “Karena itu dari sisi cost politiknya cukup tinggi. Kemudian, dari sisi elektroal itu rendah. Yang digarapkan itu kan segmennya tidak jelas. Olehnya itu, politik kerumuman mulai dihindari,” papar Nendy.

Olehnya itu, tiga pasangan calon ini lebih banyak menggunakan strategi man to man marking dan tatap muka secara langsung. Sebab, sekarang sudah saatnya kandidat mendongkrak akseptabilitas dan elektabilitas. “Kedua, mereka sudah man to man marking, kalau istilah politikya. Mereka sudah sapa langsung. Karena memang sekarang bukan level untuk dorong popularitas lagi. Ini sudah levelnya dorong akseptabilitas dan elektabilitas,” jelas dia lagi.

Berikutnya, rencana Operasi Tangkap Tangan (OTT) dan penetapan calon kepala daerah terindikasi korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang membuat was-was para kandidat. Sebab, bila nama mereka disebut oleh lembaga anti rasuah itu, seketika menurunkan elektabilitas. “Ketiga, situasi nasional yang turut mempengaruhi, dimana banyak calon kepala daerah yang terlibat di Pilakda terjaring OTT. Dalam situasi seperti dalam Pilkada bagi pasangan calon adalah pencitraan diri harus sebaik mungkin dan sebersih mungkin. Karena sekali saja dia terpeleset ke citra diri itu, maka dia habis di publik dan di mata pemilih, dan agak susah diklarifikasi,” urainya.

Ketatnya pengawasan dan semakin jelasnya regulasi Pilkada, juga menjadi faktor lain masih sepinya pasar politik Pilgub. “Keempat, ketatnya pengawasan dan aturan yang semakian rigit dan memberatkan. Kalau dulu masih pasal karet, sekarang sudah rigit dan konsekuensinya agak berat. Banyak calon kemudian sangat berahti-hati dalam melakukan konsolidasi politiknya dengan menggunakan cara politik uang,” sebutnya.
Tetapi, di sisi lain Nendy menilai, kondisi ini menunjukkan konsolidasi demokrasi di

Maluku sedang menuju arah yang lebih baik. Pasangan enggan menggunakan politik uang, dan pemilih memilih berdasarkan visi, misi dan program. “Ini sesuatu yang baik bagi demokrasi. Sistem yang sudah baik, menekan Pilkada yang unfair. Kita mendorong agar visi, misi dan program yang di kedepankan. Bukan orang terpilih karena punya banyak uang, atau punya keluarga yang mantan pejabat lama, lalu mereka kuasi jaringan ekonomi politik, lalu nanti mereka itu saja yang jadi (terpilih),” katanya.

WAKTU KIAN SEMPIT
Masih minimnya konsoliasi kandidat di sisa waktu tiga bulan, menurut Jais, akan memperlambat kenaikkan akseptabilitas maupun elektabilitas. Apalagi, Maluku dengan wilayah kepulauannya.
“Saya kira sudah sangat sulit. Tiga bulan mengejar ketertinggalan bagi paslon yang elektabilitasnya di bawah 20 persen. Apalagi bila sosialisasinya bersamaan. Boleh dikatakan kegiatan sosialiasi dan konsoldiasi (Pilgub) kali ini sangat terlambat,” katanya.

Secara normal, waktunya yang dibutuhkan oleh kandidat dengan elektabilitas dibawah rata-rata adalah enam bulan lalu. Harus bergerak lebih awal. “Normalnya, yang elektabilitasnya di bawah harus curi star sosialisasi ke bawah sudah harus dilakukan 6 bulan yang lalu. Sangat disayangkan bila gerakan sosialisasi ditingkat bawah tidak dikencangkan,” pungkasnya.

Sedangkan bagi Nendy, kandidat agak sulit menaikkan elektabilitas bila sekarang belum bergerak maksimal. Salah satu alasannya, geografis Maluku yang sulit dijangkau seluruhnya dalam waktu singkat. “Kalau dengan situasi geografis Maluku dengan waktu 3 bulan ini, kalau tidak bergerak sekarang maka agak sulit. Maluku ini selain butuh logistik banyak, konsolidasinya juga harus lebih awal karena geogerfisnya, bukan Jakarta yang daratan yang bisa kita kelilingi dalam satu hari dengan mobil,” demikian Nendy.

Sekadar tahu, Pilgub Maluku diikuti tiga pasangan calon. Pasangan Said Assagaff-Anderias Rentanubun (SANTUN) diusung Partai Golkar, Demokrat dan PKS, pasangan Murad Ismail-Barnabas Orno(BAILEO) diusung PDI Perjuangan, Hanura, Nasdem, PKPI, PPP, PKB, PAN dan Gerindra. Sedangkan pasangan Herman Koedoeboen-Abdullah Vanath (HEBAT) dari jalur perseorangan dengan dukungan KTP. (Ambon Ekspres)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>