Published On: Wed, Oct 28th, 2015

Kasus Perkosa P19, PTT Belum SPDP

Share This
Tags

Dua kasus yang menyeret wakil rakyat Kota Ambon asal Partai NasDem, yang dihandel penyidik Reskrim Polres Ambon masih bergerak ditempat. Untuk kasus pemerkosaan dengan tersangka Mourits Tamaela masih “berlabuh” di P19.

Sedangkan, kasus Pemalsuan Tanda Tangan (PTT), belum ada Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP), kepada Kejaksaan Negeri (Kejari), Ambon. Padahal, Tamaela yang diduga sebagai pelakunya PTT telah diperiksa penyidik akhir September 2015, lalu.

Untuk kasus PTT penyidik telah memeriksa sedikitnya enam orang saksi. Kasus ini, ada benang merahnya dengan kasus dugaan pemerkosaan tersangka kepada korban berinisial YNT (20), yang adalah warga Gudang Arang, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon.

Dua kasus ini terjadi  pada Januari 2014, silam, sewaktu Mourits Tamaela belum menyandang “gelar” sebagai Wakil Rakyat Kota Ambon.  “Sudah enam saksi kita periksa di kasus PTT ini.  Selain, enam saksi terlapor juga sudah kami periksa,” ungkap Kasubag Humas Polres Ambon, Iptu Meity Jacobus, kepada Kabar Timur via telepon selulernya.

Dikatakan, pemeriksaan enam saksi berikut korban terlapor dilakukan penyidik pada 26 September 2015, lalu.  Menyoal tentang SPDP kasus PTT, juru bicara Polres Ambon ini mengatakan, bahwa tinggal menunggu kelengkapan administrasinya. “Untuk SPDP kasus PTT sementara dilengkapi administrasinya saja,” kata Meity.

Sementara, ketua tim pencari fakta yang dibentuk DPD Partai Nasdem Kota Ambon, Abdul Sedek saat dihubungi Kabar Timur enggan menjawab pertanyaan terkait sejauh mana perkembangan timnya dalam bekerja mengusut kasus ini.

Dia hanya mengatakan, NasDem telah menyerahkan sepenuhnya  kasus ini kepada polisi sebagai aparat penegak hukum. “Kasus ini sudah kami serahkan kepada pihak kepolisian. Jadi terkait perkembangannya, sebaiknya ditanyakan langsung kepada polisi sebagai penyidik kasus ini,” tegas via telepon selulernya.

Sebagaimana diketahui, pemalsuan tanda tangan ini diduga dilakukan tersangka pemerkosaan Mourets Tamaela dengan meniru tanda tangan korban diatas selembar surat pernyataan damai, September 2014 silam. Padahal, surat kesepakatan damai tidak diketahui korban dan ditandatangani korban.

KASUS P19 

Kasus pemerkosaan Mourets Tamaela telah resmi ditetapkan sebagai tersangka.  Berkas perkara kasus ini  masih dikembalikan jaksa untuk kedua kalinya, karena dinyatakan belum lengkap (P19). Pertama kali berkas ini dikembalikan jaksa pada Desember 2014, silam.

Hingga kini, berkasnya perkara kasus dengan tersangka Mourits Tamaela ini masih diperbaiki penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), Satreskrim Polres Ambon sebagaimana petunjuk jaksa dalam surat P19 tersebut. “Berkas tersangka masih P19. Kita akan memperbaikinya sesuai petunjuk jaksa. Jika sudah selesai, kita akan kembali kirim,” ungkap juru bicara Polres Ambon.

Sebelumnya diberitakan, Lama mengendap di meja penyidik, Polres Ambon akhirnya memenuhi petunjuk jaksa untuk berkas tersangka Mourits Tamaela yang terjerat perkara  pemerkosaan.

Pada akhir tahun 2014, penyidik telah menyerahkan berkas perkara Mourits ke Kejaksaan Negeri Ambon. Setelah meneliti berkas, jaksa penuntut umum (JPU) mengembalikan berkas perkara politisi partai Nasdem itu, namun petunjuk tersebut tidak juga dipenuhi penyidik.

Proses penyidikan kembali berjalan setelah korban menuntut keadilan, mendesak Polres Ambon serius dan secepatnya menuntaskan kasus ini hingga ke meja hijau alias pengadilan. Kini setelah hampir setahun, berkas perkara Mourits sudah kembali dilimpahkan polisi sesuai petunjuk JPU atau P19.

Kasubag Humas Polres Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease, Iptu Meity Jacobus mengatakan, P19 tersangka yang merupakan Ketua Fraksi Nasdem DPRD Kota Ambon atas kasus pemerkosaan, sudah dikembalikan ke JPU, pekan kemarin.

“Kita sudah perbaiki (berkas perkara) sesuai petunjuk JPU (P19). Berkasnya sudah di kembalikan dua hari lalu,” ungkap Meity kepada Kabar Timur, Jumat (11/9).

Setelah diterima JPU, penyidik Polres Ambon tinggal menunggu apakah berkasnya dinyatakan lengkap atau tidak. “Kita tunggu saja, kalau jaksa nyatakan lengkap (P21), maka kita akan tahap dua (penyerahan tersangka dan barang bukti) secepatnya,” terang Meity di ruang kerjanya.

Untuk diketahui, akibat perbuatannya memperkosa korban berinisial YNT (22), warga Halong Kecamatan Baguala, Kota Ambon ini terancam hukuman 12 tahun penjara. Tindakan bejatnya terhadap gadis Gudang Arang membuat Mourits yang kini telah berstatus tersangka, dijerat Pasal 285 KUHP tentang Pemerkosaan.

“Tersangka disangkakan Pasal 285  tentang Pemerkosaan dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara,” tegas Kepala Satreskrim Polres Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease, AKP Theodorus Priyo Santosa, Senin (7/9).

Pasal ini menyebutkan “barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun”.

Priyo menegaskan proses hukum yang menjerat Mourits tetap berjalan. Penegasan Priyo ini menepis tudingan yang menganggap polisi tidak serius mengusut kasus yang menjerat wakil rakyat tersebut. “Berkas perkara tersangka (Mourits Tamaela) untuk kasus pemerkosaan akan dilanjutkan kembali,” tegasnya.

Berkas perkara tersangka sudah dilimpahkan penyidik ke Kejaksaan Negeri Ambon untuk diteliti jaksa. “Berkas perkaranya sudah dikembalikan jaksa (P19), tinggal kita lanjutkan saja (penuhi petunjuk jaksa),” kata Priyo di ruang kerjanya.

Dalam kasus ini polisi telah memeriksa korban dan sejumlah saksi. Anehnya, polisi tidak menjadwalkan pemeriksaan terhadap tersangka. Alasannya, proses penyidikan telah berjalan dan berkas perkara tersangka telah tahap I atau dilimpahkan ke Kejari Ambon. Berkas perkara telah dikembalikan (P19) ke penyidik Polres karena belum lengkap. Jaksa telah memberikan petunjuk kepada penyidik untuk melengkapi berkas perkara Mourits.

“Kita sudah tidak lagi memanggil tersangka terkait kasus ini (perkosaan), karena (berkas perkara) sudah masuk jaksa dan kita akan teruskan saja,” ujar perwira tiga balak di pundaknya itu.

Priyo mengaku tidak tahu kenapa Mourits tidak ditahan setelah resmi ditetapkan sebagai tersangka. Ternyata status tersangka yang disandang Mourits saat Priyo belum menjabat sebagai Kepala Satreskrim Polres Ambon. “Dia (sekarang) tidak ditahan karena memang sejak awal tidak ditahan. Saya tidak tahu, kasus itu terjadi (dan penyidikan kasus ini) saya belum berada di sini,” ungkapnya. (MG4-kabartimur)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>