Published On: Wed, Jan 27th, 2016

Kasus Water Park, Polisi Diduga Masuk Angin

Share This
Tags

758af3e4a1bb0d29b422be1fe55f0a41_XLPengusutan insiden tragis yang menewaskan Sehan Sese (15)  seorang siswa SMA asal kota Masohi di wahana Water Park Citra Land di kawasan Lateri tam­paknya semakin kabur. Pasalnya meski olah TKP sudah dilakukan, sejumlah saksi te­lah diperiksa termasuk pengelola wahana, na­mun polisi belum juga menetapkan ter­sangka dalam kasus tersebut.

Padahal, pascainsiden itu polisi telah berkesimpulan jika ada unsur kelalaian yang dilakukan pihak pengelola taman wisata air itu. Kesimpulan itu tampaknya benar ada­nya sebab, pihak pengelola jelas-jelas tidak mem­­­per­hatikan faktor keselamatan pe­ngunjung, selain itu wahana tersebut seha­rus­nya belum mesti dioperasikan karena pro­ses pengerjaan masih berlangsung.

Dari kesimpulan itu tentu dapat ditarik be­nang merah jika pihak pe­ngelola telah lali hingga me­nyebabkan nyawa orang lain me­­layang sia-sia. Tapi sekali lagi polisi be­lum juga menetapkan tersangka dalam kasus tersebut.

Polisi sendiri berjanji akan te­tap mem­proses kasus tersebut se­cara hukum, na­mun  faktanya pe­nanganan kasus tersebut ti­dak jelas arahnya. Polisi berdalih bah­wa me­re­ka belum mendapatkan kete­rangan dari keluarga korban sebab keluarga korban berada di Masohi.

“Ini alasan yang kurang logis, masa polisi belum juga menetapkan tersangka dalam kasus ini,” kata Ketua Umum HMI Cabang Ambon, Fauzi Marasabessy kepada Kabar Timur, Selasa (26/1).

Menurut Fauzi, polisi hen­dak­nya dapat bekerja secara pro­fesional dalam mengungkap kasus tersebut, sebab publik saat ini sedang me­nan­ti hasil pengusutan polisi ter­ha­dap kasus itu,”Jangan sampai ada penilaian polisi masuk angin, ini yang harus dihindari,”ujarnya.

Dia mengaku kasus tersebut tidak terlalu sulit untuk diungkap se­bab ada banyak saksi mata yang menyaksikan peristiwa itu, se­lain itu unsur kelalaian sangat je­las dilakukan pihak pengelola se­hin­gga jika belum ada pihak yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut maka pengusutan kasus tersebut perlu dipertanyakan.

“Kalau kasus pembunuhan tan­pa jejak bisa diungkap mengapa ka­sus ini tidak bisa diungkap dan be­lum ada yang ditetapkan menjadi tersangka?” tanya Fauzi.

Sementara itu Kasubag Hu­mas Polres Pulau Ambon, AKP Meity Jacobus memastikan kasus ter­sebut akan tetap diproses hu­kum.  Sejumlah sak­si telah dimintai ke­terangannya na­mun pi­haknya be­lum meminta kete­ranagn dari pihak keluarga korban.

“Sejumlah saksi sudah kita pe­rik­sa, termasuk pengelola dan petu­gas keamanan (satpam). Sementara ke­luarga korban belum dimintai ke­te­rangan. Keluarga korban tinggal di Masohi. Intinya kasus ini tetap di proses,” kata Meity Jacobus kepada Kabar Timur di ruang kerjanya, Selasa, (26/1).

Dia belum dapat memastikan ka­pan penyidik akan meminta kete­rangan dari pihak keluarga korban untuk penyelidikan kasus tersebut. Na­mun dia mengaku dalam waktu dekat polisi akan menyurati ke­luar­ga korban.

“Dalam waktu dekat kita akan memanggil keluarga korban un­tuk meminta keterangannya,” pung­kasnya.

Sebagaimana diketahui, korban bersama keluarganya mengunjungi Water Park Citra Land, pada 8 Januari 2016 untuk merayakan ha­ri ulang tahun adik bungsunya. Na­mun saat asik berenang, bersama se­jum­lah saudaranya, korban lang­sung ter­sedot di pipa sirkulasi ber­uku­ran 10 diameter yang ada di da­lam dasar kolam.

Keluarga korban yang panik melaporkan kejadian itu kepada petugas dan pengelola Water Park Citra Land. Saat itu juga petugas menggunakan mesin pompa untuk menarik tubuh korban dari dalam pipa. Korban tersedot di dalam pipa sekitar 30 menit.

Setelah berhasil dikelurkan, ayah korban sempat memberikan per­to­longan pertama dengan mem­be­rikan napas buatan dari mulut, se­belum korban dilarikan di rumah sakit TNI AL tak jauh dari kawasan tersebut. Namun setelah dirawat se­­lama hampir satu  jam di rumah sa­kit itu korban menghembuskan nafas terakhirnya.

Kasus ini sendiri sempat me­nyita perhatian publik tidak ha­nya di Kota Ambon tapi juga di Ma­lu­ku. Ketua Komisi I DPRD Ko­ta Ambon, Asmin Matdoan juga ang­kat bicara terkait masalah tersebut. Dia meminta agar pihak pengelola dapat bertanggung jawab.

“Bagaimana harus dipaksakan untuk membuka wahana rekreasi tersebut yang sebenarnya belum layak dioperasikan,” ujar Asmin.

Padahal, rencananya wahana re­kreasi tersebut dijadwalkan ber­fung­si pada 20 Januari 2016, ter­nyata lokasi tersebut sudah dibuka untuk umum. Terkesan lokasi wisata ini dipaksakan dioperasikan hingga akhirnya menewaskan pengunjung berusia 15 tahun tersebut.

Asmin mengatakan, DPRD Ko­ta Ambon akan mengundang Pol­res Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease untuk menindaklanjuti ke­jadian tersebut.

Menurut politisi PKB ini, soal sarana wisata di Kota Ambon, Ko­misi I DPRD berkepentingan un­tuk memantau dan melakukan pe­nga­wasan. Bisa saja kalau ada un­sur kesengajaan, maka wahana re­kreasi ini bisa saja ditutup secara parmanen.

“Belum apa-apa lagi sudah menelan korban meninggal dunia, sehingga pihak Citra Land harus bertanggung jawab karena jadwal pengoperasiannya baru pada 20 Ja­nuari 2016,” tegasnya. (kabartimur)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>