Published On: Wed, Dec 20th, 2017

Koalisi Solid, Murad-OrnoMenang !

Irjen Murad Ismail dan Barnabas Orno akan memenangkan Pilkada 2018 jika koalisi parpol pengusung solid.

Koalisi 6 parpol tersebut memiliki 21 dari 45 kursi di DPRD Maluku. Keenam parpol pengusung Murad-Orno yaitu PDIP 7 kursi, Nasdem 4 kursi, Hanura 4 kursi, PKB 3 kursi, PKPI 2 kursi dan PAN 1 kursi.

Akademisi Universitas Pattimura, Johan Tehuayo menjelaskan, dengan adanya 6 par­pol, membuat MI dan Orno makin kuat untuk memenangkan pilkada, sebab parpol pengusung memiliki basis massa dan juga jaringan struktur yang luas.

“Dengan adanya dukungan dari PDIP, maka MI sudah per­oleh dukungan dari 6 parpol. Secara otomatis dukungan kepada MI-Orno semakin besar untuk meraih kemenangan,” jelas Tehuayo ke­pada Siwalima, Selasa (19/12).

Menurutnya, parpol pen­dukung tentu memiliki struktur hingga kecamatan, kelurahan dan desa, sehingga harus dimaksimalkan dengan baik. “Parpol memiliki duku­ngan di masyarakat melalui anggota DPRD, sehingga ha­rus dimaksimal­kan dengan menjaga basis massa,” ungkapnya.

Ia mengingatkan, kemenangan pasti diraih jika seluruh struktur parpol bekerja maksimal. Yang paling utama juga kerjasama antar partai peng­usung. “Keenam parpol ini harus solid dalam melaksanakan kerja politik mereka di lapangan. Basis massa ha­rus dijaga untuk meraih kemena­ngan,” tandasnya.

Tehuayo juga mengatakan, Murad -Orno juga harus melakukan sosia­lisasi visi-misi ke masyarakat guna menambah dukungan.

“Sosialisasi harus intensif untuk lebih mem­per­kenalkan visi-misi kepada masyarakat. Untuk itu, harus solid, struktur par­tai bekerja maksimal dan lebih intens lakukan sosialisasi untuk meyakinkan masyarakat,” jelasnya..

Satukan Kader

Sementara itu, SekretarisDPD PDIP Maluku Lucky Wattimury meni­lai, masih butuh waktu untuk me­nyatukan kader PDIP.

“Sebelum rekomendasi diberikan, kader PDIP itu sangat terkotak-kotak. Ada yang mendukung MI, ada yang ke petahana, ada di HEBAT, bahkan ada yang netral. Untuk itu demi me­nyatukan semuanya kembali, itu tidak gampang, kita membutuhkan waktu demi amankan amanat DPP,” ungkap Wattimury kepada wartawan di Baileo Rakyat Karang Panjang, Selasa (19/12).

Dikatakan, PDIP telah menyatakan sikap dukungan kepada pasangan Murad-Orno dan pastinya partai mon­cong putih mengharapkan hasil ke­menangan. Akan tetapi, lawan yang dihadapi adalah seorang petahana sehingga jika kader tidak solid untuk bekerja maka akan sangat sulit menumbangkan sang incumbent.

“Lawan kita ini adalah petahana. Jika kita tidak solid, mana mungkin tembok itu bisa diruntuhkan,” ujarnya.

Menurutnya, untuk menumbang­kan sang petahana di pilgub Malu­ku, semua kader harus sadar dan kembali patuh terhadap apa yang menjadi keputusan DPP PDIP.

“Berbeda dukungan ini, bukan saja terjadi dikalangan bawah PDIP Maluku, karena tingkat DPD pun ada yang berbeda pendapat, namun sejak fatwa DPP telah diputuskan, saya rasa semua harus sadar dan tidak melakukan aktivitas lain, diluar amanat partai,” harapnya.

Disinggung mengenai apa saja yang akan dilakukan PDIP guna memenangkan Murad-Orno, ia mengaku, pasca ditetapkanya rekomendasi hingga kini belum ada gerakan sama sekali untuk melakukan peng­amanan calon Gubernur dan Wakil gubernur yang diusung PDIP.

“Untuk sementara ini, kita belum tahu langkah apa yang akan diambil untuk mengimplementasikan kepu­tu­san DPP. Sebab dalam rangka pengamanan Murad-Orno untuk PDIP sendiri akan dibahas dalam rapat internal DPD dalam waktu dekat ini. Jadi kita tunggu saja,” ujarnya.

Sorotan

Kendati menginginkan agar kader satu barisan, tetapi Wattimury dan Ketua DPD Edwin Huwae juga mendapat sorotan kader PDIP.

Hal ini lantaran, Huwae dan Watti­mury tak menghadiri perte­muan MI-Orno dengan seluruh fungsionaris DPD, DPC dan anggota FPDIP DPRD usai menerima rekomendasi Minggu (17/11).

Informasi diperoleh Siwalima me­nyebutkan, usai penyerahan reko­mendasi PDIP, Ketua dan sekretaris DPD tidak ikut dalam pertemuan bersama tersebut. “Jangan hanya ber­bicara saja kalau kader beda pendapat. Padahal ketua dan Sekretaris DPD PDIP sendiri tidak ada saat pertemuan ber­sama dengan pasangan calon usai penyerahan rekomendasi,” ungkap sumber Siwalima yang enggan namanya dikorankan.

Padahal dalam pertemuan, kata sumber itu, fungsionaris DPD hi­ngga DPC PDIP se-Maluku hadir. Namun ketua dan sekretaris DPD tidak ikut bersama dalam suasana tersebut.

“Jika Huwae dan Wattimury ber­alasan mengikuti Rakornas di Tange­rang usai dari kantor DPP maka alasannya itu sangat aneh. Semua yang ikut pertemuan dengan MI-Orno juga menjadi peserta Rakornas, namun mereka tetap hadir,” katanya.

Sumber itu menegaskan, semua DPC mendukung penuh keputusan DPP, sehingga tugas DPD saat ini ialah bagaimana mengkomunikasi­kan kerja politik dengan parpol lain kedepan.

“Beda pendapat diantara kader itu wajar, tetapi kalau keputusan DPP su­dah turun, maka sudah pasti selu­ruh kader akan satu barisan. Untuk itu, yang mesti dipertanyakan apakah Ketua dan Sekretaris DPD PDIP Maluku patuh atau tidak. Karena saya rasa kader akan patuh tinggal bagai­mana langkah dari ketua dan sekretaris DPD PDIP sendiri kedepan seperti apa,” jelas sumber tersebut. (Siwalima)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>