Published On: Sun, Apr 9th, 2017

Korupsi, Eks Kadishut Bursel Cs Dituntut 6 Tahun

Share This
Tags

 Eks Kepala Dinas Ke­hutanan (Kadishut) Ka­bupaten Buru Selatan, Mohammad Tuasamu ber­sama Bendahara Sya­rief Tuharea dan PPTK Januar Risky Polanunu, dituntut enam tahun penjara terkait kasus korupsi proyek tanaman reboisasi dan pengayaan tahun 2012 senilai Rp 1,4 miliar, dalam sidang, Jumat (7/4), di PN Ambon.

Tuasamu Cs juga dituntut mem­bayar denda Rp 200 juta subsider enam bulan kurungan. Tuasamu dibebaskan membayar uang peng­ganti, sedangkan Tuharea dan Pola­nunu dituntut membayar uang peng­ganti sebesar Rp 20 juta subsider tiga bulan kurungan.

“Kami minta agar majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini agar menghukum ketiga ter­dakwa dengan enam tahun pen­jara, karena terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi yang mengakibatkan negara dirugikan sebesar Rp 1,4 miliar,” tandas JPU, Rido Sampe saat membacakan tuntutan.

Ketiga terdakwa terbukti melang­gar pasal 2 jo pasal 18  UU  Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberan­tasan Tindak Pidana Korupsi seba­gai­mana dirubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Saat mendengarkan tuntutan, ketiga terdakwa nampak tenang. Mereka didampingi penasihat hu­kum masing-masing, terdakwa Tuasamu disampingi Jerry Solissa, Tuharea oleh Phistos Noija. Semen­tara terdakwa Polanunu didampingi Thomas Wattimury.

Usai mendengarkan tuntutan, majelis hakim yang diketuai RA Didi Ismiatun didampingi hakim anggota Christina Tetelepta dan Bernard Panjaitan menunda sidang hingga pekan depan, dengan agenda mendengarkan pembelaan.

Untuk diketahui, di tahun 2012 Dinas Kehutanan Kabupaten Bursel  memperoleh anggaran  dari APBD kabupaten setempat sebesar Rp 2,6 miliar untuk pekerjaan proyek tanaman reboisasi dan pengayaan.

Proyek tersebut  dikerjakan oleh kontraktor bernama Oyang. Ia memakai bendera CV. Agoeng milik M. Rahmat Saulatu alias Memet.

Proyek di kawasan Desa Namrinat dan Dusun KM 9 seluas 444 hektar itu sarat masalah. Bibit jenis kayu-kayuan berupa Gamelia, Mahoni dan MPTS berupa Jambu Mete yang didatangkan oleh CV. Agoeng tidak tersertifikasi. Selain itu, jumlah bibit yang didatangkan tidak sesuai dengan kontrak.

Anakan yang harus diadakan berjumlah 391 ribuan anakan. Tetapi, yang tertanam hanya 28.431 anakan sesuai dokumen pertama bulan Juli yang dibuat di bulan Agustus dalam satu minggu kerja.

Dari total 156.432 anakan jambu mete yang harus didatangkan dan dita­nam, ternyata hanya 32 anakan tetapi dalam berita acara peme­riksaan disebutkan 156.432 bibit diisi di lokasi pesemaian.

Berdasarkan hasil pemeriksaan BPK Perwakilan Maluku menemu­kan kerugian negara mencapai Rp. 1,4 miliar. Anehnya,  Kejari Buru tidak menjerat kontraktor. Padahal dia yang mengerjakan proyek amburadul itu. (S-16)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>