Published On: Fri, Dec 18th, 2015

Kuda Mourinho Mogok Jalan

Share This
Tags

joseisiDua tahun kemarin, Jose Mourinho pulang ke London untuk merawat ‘Kuda Kecil’ kesayangannya. Kuda itu kemudian tumbuh besar dan menjadi kuda juara. Namun, apa yang terjadi sekarang? Kuda yang masih gagah itu malah mogok jalan.

Kisah ‘Kuda Kecil’ ini bermula ketika Chelsea –si ‘Kuda Kecil’ itu– terjebak dalam persaingan dengan dua klub besar lainnya, Manchester City dan Arsenal. Tentu bukan bermaksud mengecilkan timnya sendiri. ‘Kuda kecil’ yang disebut Mourinho hanyalah sebuah cara untuk membebaskan timnya dari tekanan dan ekspektasi menyusul kepulangannya.

“Ada dua kuda dan satu kuda kecil. Kuda kecil itu masih butuh susu dan berlatih serta belajar untuk melompat. Ada dua kuda besar dan kuda yang terakhir, yang kecil, adalah seekor kuda yang musim depan bisa ikut balapan,” ujarnya.

Pulangnya Mourinho saat itu memang disambut dengan suka cita oleh Chelsea. Eks penyerang The Blues, Tony Cascarino, langsung semringah. “Konferensi pers pertama Jose Mourinho nanti pasti bakal kayak nonton (The) Rolling Stones atau The Beatles!” ucapnya.

Mourinho pun seperti diduga bisa menjawab antusiasme dan gairah itu dengan caranya, dengan berbagai komentar menggelitik, kadang tajam dan pedas, atau kata-kata bersayap dan penuh makna. Kisah ‘Kuda Kecil’ Chelsea hanyalah satu contoh.

Pada musim yang sama ketika itu, ia juga menyebut permainan defensif West Ham United sebagai permainan dari abad 19. Dia juga dengan senang hati meladeni jawaban manajer-manajer rival terkait kisah kuda kecil, seperti saat Brendan Rodgers menyebut Liverpool-nya sebagai ‘Chihuahua’, atau bertukar sindiran dengan manajer Manchester City Manuel Pellegrini yang melabeli Chelsea sebagai ‘Kuda Kecil yang Kaya Raya’.

Musim itu, Mourinho juga masih banyak tersenyum. ‘Kuda Kecil’ miliknya memang gagal memenangi gelar juara. Tapi, sejak saat itu dia tahu ‘Kuda Kecil’ milknya sudah siap berlari lebih kencang di musim berikutnya.

Keyakinan Mourinho terbukti benar. Di musim itu, Chelsea menjadi juara Premier League dan Piala Liga Inggris. Mereka cuma kalah tiga kali di liga sepanjang musim itu, atau cuma kalah empat kali secara keseluruhan. ‘Kuda Kecil’ Mourinho sudah menjelma jadi kuda juara.

Awal musim ini, Chelsea dijagokan kembali merajai Premier League. Rumah-rumah taruhan menjagokan Kuda Mourinho itu bisa mempertahankan gelar juaranya, meski tak menyuntikkan banyak ‘vitamin’ alias pemain baru. Tak ada yang ragu juga walau Chelsea tak meyakinkan di fase pramusim.

Tak sekalipun Chelsea menang dengan mantap di empat laga persahabatan. Mereka menelan tiga kekalahan dan memetik satu kemenangan, yang didapatkan lewat adu penalti. Tren buruk berlanjut saat mereka kalah dari Arsenal di ajang Community Shield. Tak ada yang ragu… sampai Chelsea melalui lima laga awal Premier League.

Dalam lima partai pertama, Chelsea cuma memetik satu kemenangan dan menelan tiga kekalahan. Di titik inilah berupa-rupa analisis muncul untuk menanggapi merosotnya performa Chelsea. Mulai dari aktivitas transfer yang lemah sampai kelelahan yang dialami para penggawa Chelsea setelah menuntaskan musim juara.

Perkara kelelahan sendiri diyakini menjadi salah satu sebab utama menurunnya performa sang Kuda juara. Tengok saja penampilan Eden Hazard, Cesc Fabregas, Diego Costa dan bandingkan dengan musim kemarin. Jangan lupa juga bahwa musim lalu para pemain ini memulai kompetisi setelah berjibaku di Piala Dunia.

Hazard belum mencetak satu gol pun dalam 24 laga musim ini dan baru menyumbang 4 assist. Padahal, musim kemarin dia bikin 19 gol dan 13 assist dalam 52 laga.

Costa musim ini baru mencetak empat gol dan empat assist dari 20 pertandingan. Musim kemarin, dia membuat 20 gol dan lima assist dalam 37 laga. Fabregas? Baru mencatatkan satu gol dan tiga assistsepanjang 21 laga musim ini, sementara musim kemarin cemerlang dengan lima gol dan 24 assist dalam 47 laga.

Jumlah laga yang dilalui Hazard dan Fabregas sepanjang musim kemarin bisa jadi patokan betapa Mourinho kurang mampu mengantisipasi jadwal padat. Merosotnya Hazard dan Fabregas kemudian jadi salah satu yang paling terasa karena keduanya adalah penggerak tim. Fabregas dan Hazard adalah otak dari ‘Kuda’ Mourinho. ‘Rusaknya’ dua bagian tim ini membuat Costa turut korslet.

Costa memang ganas dan punya insting tajam di kotak penalti, tapi sebenarnya justru paling rentan. Ketika tak mendapatkan suplai yang dibutuhkan, kesulitan mencetak gol, atau mendapatkan tekanan dari bek-bek lawan, Costa punya kecenderungan meninggalkan tugasnya.

“Ketika dia tidak mencetak gol dan tidak berpikiran jernih di depan gawang, dia meninggalkan areanya,” kata Mourinho soal Costa, usai Chelsea kalah dari Leicester City.

Soal kondisi fisik para pemain yang tak prima ini, perlu diingat juga bahwa Mourinho menyumbang peran. Ingat kasus dokter tim dan fisioterapis Chelsea, Jon Fearn dan Eva Carneiro? Sekilas tampak sepele, tapi sebenarnya bisa dipertimbangkan sebagai hal yang cukup serius.

Divisi medis tim adalah yang paling bertanggung jawab dengan fisik para pemain. Eva Carneiro yang sudah bertugas di Chelsea sejak 2009 dan Jon Fearn sejak 2010 jelas tahu seluk beluk para pemain dari segi fisik dan kebugaran.

Mereka adalah yang pertama ditemui pemain ketika mengalami masalah fisik, mereka juga yang menjaga mental para pemain, salah satunya ketika melalui masa pemulihan cedera. Fisik adalah aset utama para pesepakbola, sehingga jelas peran dokter tim dan fisioterapis tak bisa disepelekan. Kepergian Carneiro dan pergantian peran Fearn diikuti performa yang anjlok dari para penggawa Chelsea, sangat mungkin ada kaitannya.

Mourinho andal dalam permainan psikologis, itu tak perlu diragukan. Baca-baca saja berbagai komentarnya. Dia pintar mengalihkan beban, tekanan, memindahkan sorotan. Tapi, berbagai hal yang terjadi di Chelsea musim ini sedikit banyak menunjukkan, ada ego yang amat besar dalam diri Mourinho.

Dari kejadian menyangkut dokter tim saja bisa terbaca bahwa Mourinho tak suka seseorang bertindak mendahuluinya, terlepas langkah yang diambil Carneiro dan Fearn dinilai banyak pihak sudah tepat. Bagi Mourinho, Hazard, yang saat itu terkapar, tampak masih baik-baik saja. Soal wasit yang sudah memanggil tim medisnya itu perkara lain.

Karena egonya pula Mourinho justru terlalu kerap ‘berkelakar’ soal manajer dan tim lain. Seperti ada upaya untuk menegaskan bahwa dirinya yang terbaik, bahwa opininya selalu menjadi topik menarik. Lihat saja ketika Mourinho menyindir Arsene Wenger, yang disebutnya tak pernah berada dalam tekanan meski tak memenangi gelar selama 9 tahun.

Mourinho juga pernah dengan terbuka mengecam hukuman FA untuk dirinya, karena mengkritik wasit usai kalah 1-3 dari Southampton. Dia melontarkan kritik karena kesal tak mendapatkan penalti di laga itu. Padahal, jika diamati saksama, Chelsea sendiri tak punya cukup upaya di pertandingan tersebut untuk menang. Meski dominan dalam penguasaan bola, saat itu Chelsea cuma punya tiga tembakan tepat sasaran dari 10 upaya. Sementara Soton punya lima tembakan on target dari 13 percobaan.

Bicara soal hukuman FA, tak cuma sekali itu saja didapatkan Mourinho. Dia sempat dihukum karena mengkonfrontasi wasit Jonathan Moss di pergantian babak, kala Chelsea dikalahkan West Ham United. Akibat tindakan itu, dia diusir dari bench yang diikuti hukuman dari FA belakangan.

Aksi lain dari Mourinho tampak saat Chelsea dihantam Liverpool 1-3 di Stamford Bridge. Usai pertandingan, dia menjawab semua pertanyaan dalam wawancara langsung di televisi dengan “Saya tidak bisa mengatakan apa-apa”. Tapi, berikutnya dia mampu mengkritik wasit, menyentil gol Liverpool yang melewati masa injury time, juga soal keputusan tak memberikan kartu kuning kedua untuk Lucas Leiva.

Puncak dari pertunjukan ego Mourinho sejauh ini adalah saat dia dengan keras mengkritik para pemainnya, setelah dikalahkan Leicester akhir pekan kemarin. Dia menyebut para pemain mengkhianati pekerjaannya. Seolah memberikan penegasan, eks pelatih Porto, Inter Milan, dan Real Madrid itu juga mengatakan sudah bekerja keras selama empat hari untuk mengamati Leicester, tapi kemudian terbuang sia-sia karena timnya tak tampil sesuai instruksi.

Ada ke-aku-an yang kental di pernyataan itu.

***

Mourinho boleh saja mengklaim Kuda juaranya mengkhianati dirinya. Para penggawa Chelsea boleh saja membela manajernya itu dengan mengatakan situasi ini salah pemain. Tapi berbagai gestur dari para pemain belakangan ini menunjukkan adanya ketidaknyamanan.

Costa melempar rompi ke arah Mourinho. Hazard melenggang keluar begitu saja dari lapangan usai berbenturan dengan pemain Swansea. Fabregas kabarnya tertangkap menyendiri di bus tim, segera setelah peluit akhir laga lawan Leicester dibunyikan.

Mourinho juga sudah jarang tersenyum. Dia tak lagi berkelakar, justru kini lebih sering menggerutu. Dia mengklaim Kuda juaranya mengkhianatinya.

Tapi, mungkin si Kuda cuma sudah lelah dengan jokinya.

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>