Published On: Tue, Sep 30th, 2014

Maluku Tuan Rumah Munas XI UNINDO

Share This
Tags

UskupMunas ke XI Unindo (Musyawarah Para Pastor Projo Indonesia) di Maluku akan dilaksanakan tanggal 1-8 Oktober 2014, mau menegaskan kembali bahwa Maluku sangat berarti dalam perjalanan sejarah Gereja Katolik di Indonesia.

Gereja Katolik di Indonesia berawal dari Maluku, dan pada tahun 1534 terjadi baptisan pertama di Ternate Provinsi Maluku Utara.

Munas ke XI Unindo juga mau menunjukkan secara istimewa bahwa Maluku kini sudah diliputi dengan aman dan damai. Konflik berdarah yang terjadi beberapa tahun lalu sudah dapat diatasi dengan indah oleh masyarakat Maluku sendiri.

Kini Maluku adalah tanah damai walaupun memang masih saja terjadi konflik kecil-kecilan di Maluku, namun konflik itu sudah dapat diatasi dan cara yang paling jitu untuk mengatasi konflik ialah dialog.

Demikian keterangan pers yang disampaikan oleh Uskup Diosis Amboina Mgr. P.C. Mandagi, MSC kepada wartawan di Keuskupan Amboina Jln Pattimura, Senin (29/9/2014).

Menurut Mandagi, kekerasan tidak dapat diselesaikan dengan kekerasan melainkan melalui dialog khususnya antar umat beragama.

Maluku adalah sumber gembala Gereja, baik gembala Gereja Protestan maupun Katolik. Dimana-mana kita bisa berjumpa pendeta-pendeta dari Maluku. Banyak juga pastor dari Maluku yang berkarya diluar Maluku dan luar Indonesia. Khususnya Maluku adalah sumber imam-imam projo (para pastor yang terikat khusus dengan Keuskupan).

Dalam rentang waktu 20 tahun, imam projo telah bertambah dari 6 menjadi 65. Sungguh luar biasa perkembangan jumlah imam projo di Keuskupan Amboina. Maluku adalah lahan subur panggilan baik gembala Protestan maupun Katolik. Ini adalah berkat : “ Tuhan sangat mencintai Maluku “. Orang Maluku secara istimewa dipakai oleh Allah untuk menghadirkan diriNya di tengah-tengah masyarakat dan dunia.

Munas ke XI Unindo menegaskan bahwa alam Maluku adalah indah karena itu, Maluku menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi dan untuk dijadikan tempat bermusyawarah secara aman dan damai.

Untuk itu orang Maluku jangan merusak keindahan alam Maluku, baik alam lautannya maupun alam daratannya. Marilah kita melawan dengan tegas dan keras orang-orang yang merusak alam Maluku yang indah. Marilah kita melawan kehadiran HPH di Maluku, yang sangat-sangat menghancurkan alam Maluku dan membuat rakyat semakin miskin.

Kenyataannya, pemilik dan pendukung HPH menjadi kaya, tetapi sebaliknya rakyat yang memiliki hutan menjadi semakin miskin, kecamlah pejabat pemerintah yang mendukung HPH.

Munas ke XI Unindo secara istimewa menyatakan kerukunan antar umat beragama dan kerukunan dengan Pemerintah, umat beragama Protestan, Muslim, Hindu dan Budha di Maluku sangat mendukung Munas ini.

Mandagi sampaikan terima kasih kepada umat Muslim yang mengizinkan salah satu acara Munas dilaksanakan di gedung Islamic Center. Mandagi juga menyampaikan secara khusus kepada umat GPM (Gereja Protestan Maluku) di Hative Besar, yang merelakan tanah seluas 20×20 meter untuk pendirian patung Fransiskus Xaverius, karena Hative Besar adalah desa pertama di Maluku dimana St. Fransiskus Xaverius menginjakan kakinya pertama kali.

Terima kasih juga disampaikan kepada pemerintah Provinsi Maluku dan pemerintah Kota Ambon, yang menyambut baik dan mendukung pelaksanaan Munas ke XI Unindo di Maluku.(Ttibunmaluku)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>