Published On: Thu, Dec 18th, 2014

Mekar Seram Utara Boleh Saja, Asal Sesuai Aturan

Share This
Tags

r10Ketentuan perundang-undangan membuka peluang untuk pemekaran Daerah Otonom Baru (DOB). Namun  tentunya harus sesuai aturan persyaratan yang telah ditetapkan dalam ketentuan perundang-undangan.

Begitu gencarnya warga Seram Utara yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Seram Utara (IKASERUT) mendesak Bupati Malteng Abua Tuasikal untuk segera mengeluarkan reko­mendasi pemekaran Kabupaten Seram Utara Raya, hendaknya juga didasarkan pada aturan persyaratan.

Kepada Siwalima melalui telepon selulernya, Akademisi FISIP Universitas Darusalam (Unidar) Mahmudin mengatakan untuk membentuk satu DOB maka ada berbagai indikator per­sya­ratan yang harus dipenuhi diantaranya sumber daya alam, sumber daya manusia, luas wilayah, jumlah pendu­duk termasuk desa maupun kecamatan untuk mendukung pemekaran.

“Bagaimana sebuah kabu­paten itu dimekarkan itu yang pertama jumlah penduduk, sumber daya alam sudah di­atas rata-rata. Kemudian dan sumber daya manusia yang bisa mengelola sumberdaya alam yang ada,” jelas Mah­mudin lewat telepon seluler­nya, Rabu (17/12).

Bukan saja syarat itu, namun jumlah kecamatan dan desa juga menjadi indikator yang sangat penting juga untuk memekarkan daerah tersebut. “Syarat jumlah desa dan keca­matan juga sangat pen­ting. Untuk kecamatan itu diatas 10 kecamatan, baru dia bisa jadi kabupaten. Dalam kecamatan itu harus juga ada beberapa minimal 10 desa baru bisa dimekarkan,” ung­kapnya.

Dikatakan, jika mengacu dari sisi administrasinya se­suai PP 78 tahun 2007 itu Seram Utara belum bisa dimekarkan.

“Kalau Seram Utara itu saya lihat syarat administrasinya itu belum bisa untuk dime­karkan. Kalau dimekarkan maka tidak akan efektif, tidak akan berdaya guna. Masa hanya beberapa keca­ma­tan dan desa mau dijadi­kan kabu­paten,” katanya.

Mahmudin menya­rankan agar masyarakat Seram Utara bersabar menunggu bebe­rapa tahun lagi sehingga dapat me­menuhi persyara­tan pemekaran.

Pengembangan  

Sementara itu, Polres Mal­teng masih mendalami penyi­dikan terhadap 12 tersangka kerusuhan yang terjadi di Seram Utara, pekan lalu.

“Kita masih dalami dulu dari semua tersangka yang telah kita tetapkan ini. Intinya penyidikan kasus ini tidak akan berhenti, dan semua pihak yang terlibat tetap akandiproses,” tandas Kasat Reskrim Polres Malteng, AKP Harry F Aritonang kepada Siwalima di Masohi, Rabu (17/12).

Ia mengaku untuk mengem­bangkan perkara tersebut, pihaknya masih memanggil beberapa tokoh masyarakat Seram Utara  untuk diminta kete­-rangannya, agar pengem­bangan kasus dimaksud da­pat segera ditingkatkan ke tahap satu.

Aritonang juga berjanji tetap terbuka kepada publik terkait penyidikan kasus di­maksud sehingga perkemba­ngan apapun yang menyang­kut dengan kasus ini akan tetap dipublikasikan.

Sebagaimana keinginan warga Seram Utara Kabu­paten Malteng untuk mem­bentuk Kabupaten Seram Utara Raya masih belum dapat terwujud. Di wilayah tersebut hingga saat ini hanya terdapat empat kecamatan yaitu Kecamatan Seram Utara, Seram Utara Timur Kobi, Seram Utara Timur Seti dan Seram Utara Barat. Warga Seram Utara kemudian ingin membentuk Kecamatan Seram Utara Teluk Dalam.

Namun  kecamatan terse­but sesuai usulan terdiri dari Negeri Administratif Bessi yang dibentuk tahun 2012, Negeri Administratif Oping (2013), Negeri Administratif Olong (2013) dan Negeri Administratif Masihulan (2013). Sangat jelas usia pemerin­ta­hannya hanya baru berumur  1 – 2 tahun, belum lagi ada penolakan dari Negeri Sale­man untuk bergabung de­ngan Kecamatan Seram Utara Teluk Dalam dengan alasan rentang kendali.

Pemkab Malteng pun akhirnya menolak keinginan pemekaran kecamatan terse­but. Akhirnya Kawasan Seram Utara Kabupaten Malteng, Jumat (12/12) membara. Tiga kantor kecamatan beserta rumah dinas camat dibakar massa.

Ketiga kantor kecama­tan yang dibakar tersebut yaitu Kantor Kecamatan Seram Utara di Wahai, Kantor Kecamatan Seram Utara Timur Kobi di Kobisadar dan Kantor Kecamatan Seram Utara Timur Seti di Kobi­sonta. Rumah dinas camat di ketiga kecamatan terse­but juga turut dibakar.

Selain itu, Penginapan Pangestu dan Penginapan Lestari milik mantan Bupati Malteng Abdullah Tuasikal juga rata tanah dibakar massa. Satu unit kapal Ikan milik Tuasikal juga ikut dibakar massa.

Selain membakar ketiga kantor kecamatan terse­but, massa juga merusak Kan­tor Kecamatan Seram Uta­ra Barat yang berada di Negeri Pasanea.  (S5)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>