Published On: Sat, May 30th, 2015

Muncul 2 Rektor, Unidar Kian Kacau

Share This
Tags

universitas-Darussalam-AmbonDi tengah berbagai upaya penyelesaian masalah di Universitas Darussalam (Unidar) Ambon, masalah baru muncul. Rektor Unidar, Ibrahim Ohorella dinonaktifkan dengan Surat Keputusan dari Yayasan Darussalam. Ohorella menilai itu langkah yang keliru, karena akan membawa masalah ini ke Ombudsmen. Koordinator Kopertis menyayangkan penonaktifan tersebut, sebab memperburuk kondisi di kampus merah itu.

Ibrahim Ohorella dinonaktifkan dengan Surat keputusan Yayasan Darussalam nomor 01/YD/SK/V/ 2015 tertanggal 28 Mei 2015. Dalam SK yang ditanda tangani ketua Yayasan Darussalam Rusdi Sangadji ini, juga menunjuk dekan Fakultas Ekonomi Unidar, Farida Mony sebagai Pelaksana Tugas (Plt) rektor Unidar Ambon.

Dalam SK itu, pihak Yayasan menilai Ohorella yang sebelumnya diangkat melalui SK nomor 09/YD/SK/VIII/2012 tanggal 23 Agustus, tidak mampu menjalankan tugas dan tanggungjawab sebagaimana mestinya. Hal ini ditunjukan dengan terjadinya instabilitas dalam proses belajar mengajar pada Unidar.

Selain itu, pihak yayasan dengan memperhatikan berkembangnya pergolakan di tengah masyarakat melalui media massa cetak maupun elektronik dan lingkungan kampus sejak kepemimpinan Ohorella sebagai rektor 2012 hingga sekarang.

Kemudian tuntutan civitas akademika Unidar Ambon 19 Mei 2015. Ditambah resolusi mahasiswa Unidar Ambon 26 Mei dan surat civitas akademika 27 Mei yang mendesak pemberhentian Ohorella.
Setelah diangkat, Plt Rektor DR Farida Mony langsung membuat instruksi. Dia meminta wakil rektor I Ir Kamaruddin untuk menggelar rapat dengan seluruh civitas akademika UNIDAR Ambon di Kampus Wara, hari ini.

“Rapat ini untuk membahas persoalan akademik. Kami sudah sepakat bahwa Kampus Wara sudah menjadi pusat administrasi dan akademik Unidar. Jadi mahasiswa yang ada di kampus A di Tulehu, B di Wara maupun C di Masohi tetap melakukan perkuliahan di lokasi masing-masing,”kata Farida kepada wartawan, Jumat(29/5).

Selain itu dia juga mengatakan, hari ini akan dilakukan bakti sosial di kampus Wara hari Senin besok sudah bisa dilakukan proses perkuliahan sebagaimana mestinya.

Rektor Unidar Ibrahim Ohorella melalui juru bicaranya Husain Latuconsina mengatakan, telah mendapatkan informasi resmi tentang hal itu, namun hingga kemarin pihaknya belum menerima SK penonaktifan rektor.

“Kalau memang terjadi demikian, kami nilai itu langkah yang keliru. Tidak semudah itu rektor dinonaktifkan, karena harus melalui rapat senat dan atas pertimbangan yang substansial. Pertanyaannya, penonaktifan ini atas dasar rapat senat yang mana? Kapan senat lakukan rapat?” kata Latuconsina, kemarin.

Tidak hanya itu, penonaktifan dengan SK yang ditanda tangani oleh Rusdi Sangadji sebagai ketua Yayasan Darussalam tidak tepat. Selain karena keberadaan Yayasan Darussalam dipertanyakan, juga karena Rusdi Sangadji tidak memiliki wewenang untuk menonaktifkan rektor, karena itu adalah wewenang ketua Pembina Yayasan. “Padahal Yayasan itu (Darussalam-red) sudah tidak ada lagi, sudah dirubah menjadi Yayasan Pendidikan Darussalam Maluku,” katanya.

Terkait penonaktifan dengan SK yang ditandangani oleh Rusdi Sangadji, dia menegaskan tidak dapat dibenarkan, karena Rusdi Sangadji yang hanya merupakan salah satu ketua di Yayasan Darussalam, dapat melakukan kebijakan tersebut bila ada rekomendasi atau mandat dari ketua umum Yayasan Darussalam sebagai pimpinan yang punya wewenang dalam melantik rektor, seperti yang dilakukan saat pelantikan Ibrahim Ohorella sebagai rektor Unidar.

Saat itu, Rusdi Sangadji hanya diberikan mandat dalam bentuk rekomendasi dari Pembina Yayasan Darussalam atas nama ketua umum Yayasan Darusaalam. “Karena saat itu ketua umum Yayasan Darussalam, pak Memet Latuconsina sedang sakit. Karena itu, kalau sekarang ada SK tentang penonaktifan rektor yang ditanda tangani oleh Rusdi Sagadji dan atas nama Yayasan Darussalam, maka patut dipertanyakan. Dia dapat rekomendasi dari siapa atau atas dasar hasil rapat senat yang mana,” tegasnya.

Ibrahim Ohorella kata Latuconsina akan membawa masalah ini ke Ombudsmen perwakilan Maluku. Ombudsmen harus meminta penjelasan dari Rusdi Sangadji tentang SK yang ditandanganinya untuk menonaktifkan Ibrahim Ohorella dan mengangkat Farida Mony sebagai Plt rektor. “Kami akan pelajari masalah ini, selanjutnya melaporkan ke Ombudsmen hari Senin (1/6),” ungkapnya.

Koordinator Kopertis Wilayah XI Maluku dan Maluku Utara Zainudin Notanubun yang dikonfirmasi kemarin sore mengatakan belum mendapatkan SK penonaktifan rektor Unidar tersebut. Namun, Notanubun menyayangkan hal itu. Sebab, memperkeruh kondisi di internal Unidar.

“Padahal, kita rencanakan, hari Sabtu (hari ini) rapat bersama semua dosen untuk selesaikan berbagai masalah yang terjadi. Kalau terjadi lagi seperti ini, tambah repot. PDPT akan sulit dibuka. Nanti kita lihat, hari Sabtu, hasilnya seperti apa, baru kita tentukan langkah berikutnya,” katanya. (MAN/TAB)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>