Published On: Wed, Dec 27th, 2017

Natal di Ambon Penuh Makna Persaudaraan

Share This
Tags

Cerminan kekeluargaan dan toleransi antarumat beragama yang sarat makna persaudaraan kembali terjalin di Kota Ambon. Bukti kerukunan dan persaudaraan itu terlihat di malam Natal, saat umat Kristiani di kota bertajuk manise ini menjalankan ibadah Natal.

Pelaksanaan ibadah  Natal yang berlangsung di sejumlah gereja di Kota Ambon, pada Minggu (24/12) malam itu menjadi saksi bertapa kuatnya hubungan persaudaraan antarumat beragama antar orang bersaudara di kota ini.

Puluhan pemuda muslim berpakaian baju koko dan kopiah putih di kepala tampak berjaga di sejumlah gereja saat berlangsungnya ibadah Natal.  Suasana kerukunan semakin terasa karena pada saat yang sama sejumlah warga beragama Hindu yang berdomisili di Kota Ambon juga ikut mengamankan jalannya perayaan Natal.

Di sejumlah gereja, para pemudaa masjid dan umat Hindu berbaur bersama aparat Tni dan Polri sambil menjaga saudaranya yang sedang menjalankan ibadah jalannya ibadah Natal. Mereka juga ikut mengatur arus lalu lintas di sekitar gereja untuk membatu jemaah yang hendak masuk dan keluar dari gereja usai iabdah Natal berakhir.

Ketua Badan Koordinasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Maluku, Zulkifli Lestaluhu di gereja Silo mengatakan, keterlibatan pemuda muslim di Kota Ambon dalam mengamankan gereja di malam Natal rutin dilakukan setiap tahunnya.

“Untuk tahun ini sudah delapan kali kita mengamankan ibadah Natal di gereja ,”ujarnya kepada waratwan.

Menurut dia keterlibatan pemuda masjid untuk mengamankan sejumlah gereja di Kota Ambon merupakan bentuk penghormatan dan wujud toleransi terhadap umat kristiani yang sedang menjalankan Natal. Dia mengatakan pihaknya ingin menunjukan kepada seluruh bangsa Indonesia bahwa kerukunan umat beragama di Maluku sangatlah indah.

“Toleransi di Maluku ini bukan baru sekarang tapi telah ditunjukan oleh leluhur kita sejak ribuan tahun lalu. Kita ingin buktikan bahwa kerukunan di Maluku itu snagat indah,”katanya.

BKPRMI sendiri kata dia mengerahkan puluhan anggotanya untuk mengamankan ibadah Natal di sejumlah gereja di Ambon. Pengamanan ibadah Natal oleh pemuda Muslim dan Hindu terpusat di tiga gereja besar di Ambon yakni di Gereja Silo, Gereja Katedral dan gereja Maranatha di Jalan Pattimura.

Senada dengan Zulkifli, Komang Sumardika, perwakilan pemuda dari umat Hindu yang ikut mengamankan Natal di Ambon mengaku pihaknya ikut berpartisipasi mengamankan ibadah Natal di sejumlah gereja di Ambon sebagai bentuk memupuk toleransi antarumat beragama.

“Kita yang menjaga gereja itu ada Sembilan orang, tiga di Gereja Maranatha, tiga di Gereja Silo dan tiga di Gereja Katedral. Kita berhaarap di tahun-tahun mendatang bisa bertambah banyak lagi,”ungkapnya.

Sementara rekannya yang lain, Ketut Ardana mengaku keterlibatan umat Hindu dalam mengamankan ibadah Natal di Kota Ambon baru pertama kali dilakukan tahun ini. Dia mengaku kedepan mereka akan terlibat juga dalam mengamankan malam idul Fitri di Ambon.

“Ini tahun pertama kami ikut mengamankan ibdah Natal, untuk tahun-tahun selanjutnya kami juga akan mengamankan malam Idul Fitri. Kami ikut terlibat dalam pengamanan ini karena mendapat arahan langsung dari Persatuan Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Maluku,”ujarnya.

Umat Kristiani yang menjalankan ibadah Natal tak lupa mengucapkan rasa terima kasihnya kepada para pemuda muslim dan Hindu di Kota Ambon yang telah menjaga mereka selama berlangsungnya ibadah Natal.

”Terima kasih banyak sudah menjagakatong (kami) disini,”begitu kata-kata yang terucap dari beberapa jemaat Gereja Silo kepada para pemuda masjid dan pemuda Hindu yang berjaga di Gereja Silo.

Pelaksanaan ibadah Natal di Kota Ambon sendiri berlangsung dalam suasana aman dan tertib tanpa gangguan apapun.Pelaksaan ibadah Natal untuk tahun ini semakin bermakna lantaran umat Hindu juga ikut menjaga ibadah Natal di sejumlah gereja di Kota Ambon.

Yohanes salah seorang jemaah mengaku sangat terharu dengan apa yang ditunjukan pemuda muslim dan umat Hindu yang ikut bersama aparat keamanan menjaga gereja tempatnya mengikuti ibadah.

“Terharu saja pas waktu keluar gereja ada basudara (saudara) muslim dan Hindu yang berjaga di halaman gereja dan menyambut kami dengan sangat baik,”akunya.

Sementara itu pendeta Richard Luhukay yang beribadah di Gereja Silo mengaku sangat bangga dan berterima kasih dengan sikap toleransi yang ditunjukan pemuda muslim dan umat Hindu di Maluku dalam menjaga sejumlah gerja saat pelaksanaan ibadah Natal.

“Tahun ini agak sedikit berbeda karena ada juga saudara kita umat Hindu yang iktu berpartisipasi menjaga gereja. Tentu kedepan kami berharap toleransi yang sangat baik ini akan terus dijaga,”ungkapnya.

Wujud toleransi antarumat beragama ini juga kerap dilakukan umat Kristiani saat perayaan malam takbiran di Kota Ambon. Saat malam takbiran, pemuda gereja juga ikut  terlibat bersama aparat dalam mengamankan malam Idul Fitri.

Suasana penuh kekeluargaan ini tidak hanya terjadi pada malam Natal saat umat muslim dan Hindu menjaga umat Kristiani yang menjalankan ibadah. Keesokan harinya, warga muslim juga menyempatkan diri untuk mengunjungi para kerabatnya yang beragama Krisnten.

Di beberapa kawasan terlihat warga yang mengenakan busana muslim mendatangi perkampungan yang sebagian besar warganya beragama Kristen seperti di kawasan Kudamati, Lateri, Mardika, Karang Panjang dan sejumlah kawasan lainnya untuk bersilaturahim dengan kerabatnya yang merayakan Natal.

Emi Hasan salah seorang warga Kebun Cengkeh, Kecamatan Sirimau kepada Kabar Timur di kawasan Lateri megaku kebiasaan mengunjungi kerabatnya yang beragama Kristen saat perayaan Natal, sudah menjadi kebiasaan setiap tahunnya.

“Kita sudah semacam saudara. Setiap tahun saya selalu ke sini, tahun kemarin juga datang kesini,”kata Emi di rumah keluarga Radjabaicole yang beragama Kristen.

Emi yang datang bersama sejumlah rekannya itu tampak terlihat begitu akrab dengan kerabat yang dikunjunginya itu. Dia dan rekan-rekannya bahkan makan bersama dan tampak santai bercerita di rumah kerbatnya yang non muslim itu tanpa sedikit pun rasa cemas.

Sementara Dhila warga Galunggung yang ditemui di kawasan Poka mengaku dia bersama suaminya sejak siang telah mengunjungi beberapa rumah rekan dan kerabatnya yang merayakan Natal.

“Di Ambon saling mengunjungi saat lebaran dan Natal itu sudah menjadi tradisi, dan itulah wujud hakiki persaudaraan kami disini,”ujarnya.

Dia mengatakan saling mengunjungi disaat hari besar keagamaan bagi warga Ambon merupakan sebuah hal yang sudah berlangsung sejak lama, dankebiasaan itu hingga kini masih terus terjaga di masyarakat.

“Tidak tahu dengan daerah lain tapi di Ambon tradisinya sudah begitu, malah kalau kita tidak datang kita yang tidak enak sendiri begitupun sebaliknya saat lebaran,”akunya.

Kebiasaan saling mengunjungi saat perayaan Natal dan Idul Fitri di Kota Ambon telah menjadi tradisi selama ini. Tidak hanya saat Natal, saat lebaran tiba warga Kristiani juga banyak mengunjungi kerabatnya yang beragama muslim untuk bersilaturahim.

Sosialog IAIN Ambon, DR Abdul Manaf Tubaka mengatakan kebiasaan saling mengunjungi antarsesama umat beragama saat hari besar keagamaan merupakan wujud manisfestasi dari nilai-nilai persaudaraan orang bersaudara di Maluku.

Menurut dia tradisi yang mengakar di masyarakat Maluku tersebut telah menjadi simbol persaudaraan yang tidak dapat dipsahkan oleh sekat-sekat perbedaan apapun.

“Jadi hal ini bukan hanya sekedar toleransi semata namun telah menjadi simbol persaudaraan masyarakat di Maluku,” katanya

(Kabartimur)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>