Exotic Ora Beach

Ora beach di utara pulau Seram, provinsi Maluku. Salah satu wilayah petuanan desa Saleman yang nyaris tersembunyi itu, menyimpan keindahan alam luar biasa indah. Pantai pasir putih, hutan tropis, aneka satwa liar, terumbu karang dan biota laut, membuat tempat ini sangat eksotic bagi para ecotraveler. Garis pantai, batas pertemuan air laut dan daratan, hamparan pasir putih memanjang hingga ke kaki bukit dipenuhi rimbunan pohon hutan tropis.

Fish & Product Expo and Maluku Expo 31 Juli - 5 Agustus 2010

Maluku-Malaka, Analogi Tidak Pas Tapi Perlu

Dari Malaka tiga orang beradik-kakak. Naik perahu dan tujuan datang ke Maluku. Di Tanjung Sole, perceraian dan perjanjian, waktu tiap moyang yang mendapat perjanjian.

LIRIK tentang kisah tiga saudara di atas, dilagukan Grup Rame Dendang, awal 1970-an. Lagu bercerita tentang legenda moyang asal Tanah Malaka, yang menurunkan beberapa kampung di Tanah Seram..
Malaka dan Maluku memang telah menjadi poros dagang fantastik masa lalu. Banyak kisah sejarah menuturkan relasi dua titik ini. Fransiskus Xaverius menumpang KM Banda dari Bandar Malaka, 1 Januari 1546. Ia tiba di muara Sungai Sauhuru, Hative Besar Pulau Ambon, 14 Februari 1546. Waktu itu, Portugis sudah bermarkas di Hative Besar dan Hukunalo (Rumahtiga). Hitu sudah menjadi bandar dagang terkemuka. Kota Ambon belum ada.
Riuhnya jalur Malaka-Maluku pada masa lalu, berlangsung berabad-abad. Literatur tua banyak mendokumentasi per-jumpaan Malaka-Maluku, kendati bekas-bekasnya nyaris hilang dalam memori orang Maluku.
Sisa-sisa perjumpaan pada zaman Majapahit, kini masih terlihat pada keperkasaan pelaut gagah berani Hang Tuah dan saudara-saudaranya. Sebuah sekolah di Kompleks Angkatan Laut Halong Ambon, mengabadi-kan nama Hang Tuah yang juga diagungkan di Negeri Jiran Malaysia. Selebihnya, tak ada lagi relasi langsung antara kedua wilayah. Zaman modern ini, barulah Maluku dan Malaysia tersambung lagi oleh lagu Rasa Sayang e versus Rasa Sayang Hey, dalam iklan pariwisata Malaysia Truly Asia yang kontroversial.
Lagu Rasa Sayang e membuat Indonesia dan Maluku paling sewot dan secara emosional memplesetkan Malaysia sebagai Malingsia. Semua karena Malaysia dicap mencuri lagu Maluku.
Kontroversi Rasa Sayang e telah mendorong para seniman Indonesia datang ke Malaysia. Remy Silado diam-diam menelusuri asal-muasal Rasa Sayang e menjadi jinggle iklan itu. Muka Remy merah padam menahan malu. Iklan pariwisata Malaysia bernilai ratusan ribu ringgit itu, setelah ditenderkan, dimenangkan oleh perusahaan periklanan yang di dalamnya bekerja orang Indonesia. Tim kreatif asal Indonesia memasuk-kan lagu kesukaan mereka, Rasa Sayang e, sebagai jingle. Materi iklan bagus itulah yang disiarkan Radio dan TV Malaysia secara nasional, dan heboh.
SURGA PELANCONG
Pertengahan Februari lalu, pada pesta Imlek yang meriah, saya berjalan kaki di Bukit Bintang, Kuala Lumpur. Bukit Bintang dan Kampong Baru memang menjadi titik pusat perhotelan di Kuala Lumpur. Semua pelancong bisa dipastikan memilih hotel di dua kawasan ini. Tidak heran, 24 jam Kuala Lumpur tidak berhenti berdenyut sedetikpun. Bas Persiaraan terus mengantar pelancong ke pelosok negeri. Maka di manapun, di semua jalan dan lorong, siang dan malam, selalu saja bersua bule-bule. Ada yang bergerombol, pasangan, ada yang berjalan sendiri.
Di ujung Jalan Alor, ada Gereja Baptis yang tidak menjulang. Orang-orang Kristen memenuhi gereja itu dalam kebaktian Minggu nan meriah. Karena beragam bangsa, liturginya dalam Bahasa Inggris. Hari Minggu, orang-orang Kristen Malaysia menghentikan aktivitasnya. Maka kawasan Pecinaan yang ramai berubah menjadi sepi.
Sebuah jalan di sekitar itu diberi nama Jalan Gereja. Kedai-kedai makan, hotel dan plaza, berjejer apik di kawasan Bukit Bintang. Dari sini, Menara Kuala Lumpur nampak menjulang. Ada kereta monorel siap mengantar sampai ke Twin Tower, landmark Kuala Lumpur. Belum ke Kuala Lumpur kalau belum ke Bukit Bintang dan Twin Tower. Juga ada anggapan, belum ke Malaysia kalau belum ke Malaka, kota tua.
RAGAM BANGSA
Saya tidak tertarik pada kemegahan twin tower. Mata saya justru tergoda perempuan bercadar hitam, yang busananya sampai menutup mata kaki. Ia berjalan memeluk pinggul muhrimnya, pria berwajah Arab atau mungkin India. Keduanya melintas di Jalan Alor, berhenti di depan rumah makan Tionghoa. Lemak babi di boks, terlihat sangat jelas. Keduanya ber-pindah ke kedai lain berlabel halal, juga milik Tionghoa.
Indonesia adalah simbol kebhi-nekaan yang unik. Maluku juga simbol dan teladan keragaman. Tapi Malaysia adalah pesona lain. Di Negara Islam ini, semua agama bisa hidup, semua bangsa dengan kebudayaannya tumbuh dan dipelihara sebagai keunikan, kekayaan dan kekuatan. Meski konflik kata “Allah” sempat panas, tapi aroma kebencian terhadap Kristen tidak terasa.
Saya duduk menyerumput kopi nol di depan plaza sambil memandang Kuala Lumpur Tower, di tengah orang-orang yang hilir-mudik. India, Tionghoa, Melayu, Arab, bule-bule tak putus-putusnya melintas. ABG bergerombol dengan warna kulit dan hidung berbeda. Perempuan berjilbab, bercadar, dan perem-puan dengan short, jins melorot, perut dan pusat terbuka, semuanya adalah pemandangan biasa. Seorang perempuan Eurasia dan pria bule berciuman ala French kiss, tidak terganggu atau mengganggu siapapun.
CEMBURU BAHASA
Hampir setiap orang yang saya ajak bicara, pasti bisa berbahasa Inggris, Melayu, Indonesia, Tionghoa, dan bahasa lainnya secara sedikit-sedikit. Tentu hal ini tidak terjadi begitu saja. Inggris pernah hadir di Malaysia. Mereka mewariskan sejumlah kemajuan yang terpelihara hingga kini, termasuk bahasa.
Orang Indonesia, terutama Ambon, tadinya fasih berbahasa Belanda. Sekarang nyaris tinggal cerita. Padahal, jika bahasa kolonial itu diwariskan di Ambon, itu bisa menjadi modal untuk pergaulan global dan studi literatur. Sayang, tak ada pewarisan bahasa. Jangankan Bahasa Belanda. Bahasa daerah saja banyak yang mati. Sedih, sebab bahasa adalah simbol peradaban maju. Bahasa itu, tercabut begitu saja dari memori dan peradaban.
Kekayaan Bahasa bagi orang Malaysia adalah kebanggaan karena membantu dalam kontak sosial dan bisnis dengan banyak kalangan. Beda dengan kita. Jika orang berbicara dengan aksen kampung, ia akan menjadi bahan olok-olok. Kata-kata iyo kio (Saparua), taha pisi (Tulehu), felbe (Kei), sering menjadi bahan olok-olok untuk menyudutkan orang dan kampungnya. Jadi tidak heran, orang muda di Maluku cenderung genit aksen kota. Gua banget, bila perlu.
SEA FOOD LAYU
Jam 24.00 waktu Kuala Lumpur. Bulan sabit terlihat pucat di antara terang-benderang kota. Cahaya beribu-ribu kilowatt di langit mengingatkan saya pada Ambon yang gelap-gulita waktu malam akibat pemadaman listrik berbulan-bulan. Tapi lamunan saya buyar oleh tembakan beruntun. Kembang api aneka bentuk tercurah dari langit. Pesta Imlek berlangsung berhari-hari. Barongsai, lampion, kembang api, angpao, baju-baju merah, pria dan wanita cipit menguasai Kuala Lumpur dengan segenap kebebasan budaya dan agama.
Ada sepuluh kali saya masuk kedai, sekadar makan atau minum kopi. Kopi O adalah black coffee alias kopi hitam yang enak. Aneka kue Pau juga disajikan. Jam makan adalah jam bingung. Sebab, mau makan apa ? Makanan segala bangsa ada di sini. Eropa, India, Tionghoa, Thailand, Burma, Melayu atau Jawa, semua terhidang menung-gu ringgit.
Sebagai orang Maluku yang puluhan tahun tidak alpa makan makanan laut, saya tetap mengincar ikan, udang, cumi, siput. Kehangatan rempah-rempah Thailand dengan rasa lada hitam menonjol, sedap di lidah. Sepiring bia Lala mirip bia sendok, rempah-rempahnya enak. seharga 30 ringgit (sekitar Rp 90 ribu).
Tapi setelah mencicipi semua hidangan laut itu, saya jadi rindu Ngilngof, kampung saya di Kei Kecil, Maluku Tenggara. Semua menu laut di sini tidak lagi segar. Tingkat kelayuannya luar biasa. Nyaris tak ada wangi anyir laut. Beda dengan di Ambon atau Kei yang segar dan penuh aroma. Soalnya, ikan, udang, cumi dan siput di sini, mati berkali-kali, kata seorang teman jalan. Rantai panjang dari laut melewati cool box dan freezer menyebabkan cita-rasanya menurun.
“Di kampung saya di Maluku, semua menu ini bisa saya dapat secara percuma (gratis),” kata saya kepada perempuan pramu-saji asal Bandung yang cakap berbahasa Melayu, Indonesia, Sunda, Inggris dan sedikit Bahasa Thailand.
INTERNET PERCUMA
Ke manapun pergi di Kuala Lumpur, duduk di tepi jalan, di kamar hotel atau di kafe, akses internet percuma selalu tersedia. Jadi saya bisa berkomunikasi dengan kawan dan sudara di Ambon, Langgur, Ternate, Jakarta dan Belanda secara percuma pula, tanpa membuang ringgit.
Saya jadi ingat Ambon, di sebuah hotel ternama, ketika duduk minum kopi, pramusaji mengingatkan saya bahwa untuk tamu yang mengakses internet di lobi hotel itu, harus membayar Rp 15 ribu per jam. Saya jadi ingat gagasan Ambon sebagai cybercity yang digagas Walikota Jopie Papilaja, namun belum terwujud sampai sekarang.
SAYANG KUALA LUMPUR
Masih di Kuala Lumpur, di hampir semua sudut, ada seruan yang menyentuh. Sayangilah Kuala Lumpur. (Bandingkan Ambon Manise). Seruan ini terpampang dalam ukuran besar-kecil. warga Kuala Lumpur begitu sayang pada kotanya. Mereka menjaga kota seperti diri sendiri. Budaya bersih yang diwariskan orang Inggris, tidak hanya terlihat pada tata kota yang apik, taman hijau yang mempesona, tapi juga kebiasaan membuang sampah di tempatnya.
Membuang sampah seperti menjadi hal sepele. Tapi itulah yang melilit Ambon. Sampah menggunung di banyak tempat, berserak di semua sudut. Sampah melompat keluar jendela mobil pelat kuning, hitam bahkan merah. Di bak sampah, semua jenis sampah berbaur. Anjing liar mengais sampah, peternak babi juga mengais sisa makanan di bak sampah. Sungai-sungai menjadi tempat pembuangan sampah sekaligus WC. Sungai-sungai kotor ini mengalir lambat ke Teluk Ambon yang elok. Pantai Ambon penuh dengan sampah plastik. Jika musim penghujan, naik speedboat menyeberang Teluk Ambon, baling-baling mesin akan dililit plastik berkali-kali. Plastik dan lumpur telah membuat kualitas Teluk Ambon terus mengalami degradasi. Surga terumbu karang, padang lamun, ikan umpan, bakalan tinggal kenangan dalam lagu lama-lama.
KEJAYAAN MASA LALU
Ambon sebenarnya punya segalanya. Benteng Nieuw Victoria, Benteng Amsterdam, Benteng Kapahaha, Valentijn Park, Hotel Anggrek, Riol yang bersih mengalir lancar serta dam, gereja tua, masjid tua, Taman Makam Pahlawan, Tugu Dooland, Pattimura Park, Monumen Slamet Riyadi, Monumen Christina Martha Tiahahu, negeri adat, hutan cengkeh, pala, sagu, gandaria, Gunung Sirimau, Gunung Salahutu, Taman Laut, pantai-pantai elok.
Belum lagi menyerang ke kota tua Saparua, benteng-benteng di Haruku, Nusalaut, Seram, Taman Nasional Manusela, Kota Tua Banda, kebun pala, laut dalam dan laut dangkal, pesona meti kei, cenderawasih dan mutiara Aru, pesona Tenun Yamdena, Maluku Barat Daya, tradisi adat, kekerabatan, kesenian dan segala lingkar kebudayaan Maluku.
Bandingkan Malaka City dan sekitarnya, kota juga tua yang hidup dari menjual kejayaan masa silam, glorious past. Di sana ada Porta de Santiago. Benteng ini dibangun tahun 1511 oleh Alfonsi Albuquerque. Ada Gereja Santo Paulus (1521), Gereja Santo Fransiskus Xaverius (1849), Gereja Santo Petrus (1710), Gereja Kristus alias Gereja Merah. Ada Stadhuys (1650), dulu sebagai Kantor Gubernur Belanda, Taman Makam Pahlwan Belanda, Taman Makam Pahlawan Inggris, Benteng Yohanis Pemandi, Bukit Cina, Museum Hang Tuah, Museum Hang Jabat, Museum Hang Kesturi, dan banyak lagi kejayaan masa lalu yang terawat secara apik. Belum lagi bangunan modern dengan fasilitas digital, bertebaran di seantero Tanah Melaka, tengadah Selat Malaka.
Malaysia sukses menjadi one stop tourism. Singgah di Malaysia, semuanya ada. Indonesia pun ada di Malaysia. Manusianya, budayanya, situs-situsnya, siaran TV Indonesia, semua bisa dinikmati di sana. Taman Mini Asean, membuat wajah Indonesia bisa dinikmati di sini, tanpa harus ke Jakarta. Orang Melayu datang dari Borneo, Jawa, Sumatera dan Makassar, datang memperkuat kebudayaan Malayu di Malaysia.
Malaysia juga punya pohon sagu, hutan sagu, makanan semacam papeda, biskuit sagu yang lebih halus. Ada pabrik tepung sagu, ahli sagu. Banyak sarjana pertanian Indonesia datang ke Malaysia untuk belajar mengenai sagu. Malaysia punya wayang, punya batik, punya macam-macam yang ada di Indonesia, India, Cina, Thailand, Portugis, Inggris, Belanda. Pertemuan kebudayaan dunia, membentuk kebudayaan Malaysia yang multikultural.
Saya bertemu satu keluarga besar terdiri dari sepuluh orang. Kami sama-sama menginap di Hotel Nova, Bukit Bintang. Keluarga Max Wewengkang dari Manado. Orang Manado ini memilih pesiar ke Malaysia. Max mengaku masa kecilnya di Batumerah Ambon. Ayahnya tentara KNIL. Satu bulan setelah Proklamasi RMS, sang ayah memboyongnya kembali ke Manado.
Max pernah kembali ke Ambon beberapa tahun lalu. Dia kecewa menemukan sungai Batumerah berwarna hitam. Padahal Max punya kenangan manis di sana. Jika air pasang, ia bisa naik perahu semang dari laut sampai melewati Jembatan Batumerah, terus sampai ke kompleks asrama tentara.
“Sekarang kotor sekali. Sayang ya, tidak dijaga,” ujarnya.
TIDAK SEPADAN
Malaka, Kuala Lumpur maupun negeri-negeri lain di Malaysia, memang tidak bisa disetarakan dengan Ambon. Membuat analogi antara Maluku dan Malaka, adalah analogi yang tidak sepadan sebenarnya, tapi perlu dibandingkan.
Laju pembangunan di sana bergerak begitu cepat, dalam tradisi negeri-negeri bekas jajahan Inggris. Malaysia punya banyak sistem politik dan ekonomi yang berbeda dengan Indonesia. Malaysia sangat agresif dan progresif. Sedangkan Ambon dan Maluku berkali-kali mengalami keterpurukan akibat perang, bencana dan diskrimi-nasi dalam politik pembangunan nasional.
Seorang kawan perjalanan menilai, orang Jakarta bahkan orang Ambon sebenarnya lebih maju ketimbang orang Malaysia. Saking majunya, ada gap antara kemajuan fisik dan kemajuan manusia Malaysia. Hal ini berbanding terbalik dengan Indonesia. Orang-orang kita lebih cerdas dan maju, tapi hidup di kota dengan fasilitas publik yang buruk.
“Pelayanan publik oleh pemerintah Malaysia dilakukan dengan sangat serius. Di Malaysia juga tidak ada atau jarang ada korupsi seperti di Indonesia. Jadi tidak heran, kemajuannya sangat terasa. Koran-koran di sana jarang memberitakan kasus korupsi. Beda dengan media di Indonesia, setiap hari menulis berita korupsi,” ujar kawan saya itu.

TRANSPORTASI
Satu hal yang tentu sungguh berbeda adalah Bandara Internasional Kuala Lumpur di Semenanjung Melayu itu. Bandara Kuala Lumpur terkoneksi ke seluruh dunia dan tetap melayani penerbangan domestik yang lancar. Ambon punya Bandara Internasional Pattimura. Pernah ada gagasan untuk Bandara Internasional di Saumlaki. Silakan saja. Tapi datanglah ke Bandara Pattimura. Apanya yang internasional ? Tak ada penerbangan langsung internasional, tak ada fasilitas internasional, tidak ada penerbangan 24 jam. Semuanya sangat lokal.
Ambon masih jauh, jauh paskali-paskali. Hari ini kita ke Banda, tidak tahu kapan bisa kembali. Hari ini kita ke Saumlaki, entah kapan bisa meninggalkan kota itu, karena status kita selalu cadangan tanpa kepastian di agen tiket. Bagi orang Maluku, situasi ini mengerikan, apalagi turis mancanegara.

MOMEN SAIL BANDA
Meskipun Ambon (Maluku) masih kalah ketimbang Makassar, Manado, Jakarta, Malaka, Kuala Lumpur, namun Ambon kini sedang mencoba bangkit. Sail Indonesia Sail Banda 2010, adalah sebuah kesempatan menemukan jalan terang ke arah kemajuan. Kalau Sail Banda hanya menjadi momen politik, maka mungkin ia akan hanya menjadi seremoni tiada berguna seperti seremoni Harganas, seremoni gong perdamaian dunia. Tapi kalau Sail Banda menjadi momentum ekonomi, siapa tahu Maluku akan mengalami lompatan besar ke arah gilang-gemilang. Jika Sail Banda tidak ditangani secara profesional, bisa saja momen ini menjadi bumerang bagi pariwisata dan kemakmuran rakyat Maluku. (rudi fofid)

Share this

 

Pariwisata Maluku

Pariwisata Maluku dengan beribu keindahan alam, merupakan surga di kawasan timur indonesia. Dengan pesona wisata bawah laut, kebudayaan dan etnik di provinsi maluku menjadikan maluku salah satu provinsi yang mempunyai prospek yang menjajanjikan bagi pariwisata indonesia .