Fish & Product Expo and Maluku Expo 31 Juli - 5 Agustus 2010

Pengakuan Johar Kasenda, Jurnalis yang Dimaki Pengusaha Siong

. Johny de Queljue dalam kawalan polisi sedangkan jurnalis Johar Kasenda didampingi rekan jurnalis Insany Syahbarwati. (foto : Vanno Lilinger)
JURNALIS koran Spektrum Maluku (Ambon) Johar Kassenda, j dikenal sebagai perempuan lembut, dan santun. Saat bicara, suaranya pun nyaris tidak didengar. Redakturnya menugaskan mewawancarai pengusaha Siong alias Johny de Queljue. Namun di sana dia mendapat perlakuan kasar. Siong menyebutnya "anjing" dan nyaris memukulnya. Inilah pengakuan Johar kepada pengurus Maluku Media Centre (MMC) di Ambon, Jumat (12/3).
Pada hari Senin tanggal 8 Maret 2010 sekitar pukul 3 siang (15.00 WIT), saya datang ke kantor PT Dharma Indah di jalan Setia Budi, Ambon, untuk mewawancarai Pak Johny de Queljue, pimpinan PT Dharma Indah. Saya ingin wawancara beliau terkait kasus terbakarnya kapal MV Cantika Permata milik perusahaan itu, sekaligus konfirmasi pak Johny terkait beliau mencatut nama Menteri Perhubungan Freddy Numbery sebagaimana isi surat dari para pengusaha speedboat Tulehu-Haria yang ditujukan ke Direktur Lalu-Lintas dan Angkutan Laut Dirjen Perhubungan Laut, tertanggal 23 Februari 2010.
Ketika mengetahui asal media saya, pak Johny dengan marah-marah langsung menolak kehadiran saya. Katanya, dia tidak mau diwawancarai oleh Spektrum Maluku karena kami menulis berita pada edisi sebelumnya menyebutkan kalau dia selaku pimpinan PT Dharma Indah telah mencatut nama Menteri Perhubungan Freddy Numbery.
Saat sore itu, saya datang bersama dua rekan wartawan dari tabloid. Karena kehadiran saya sudah ditolak oleh pak Johny, akhirnya saya duduk di ruang tamu. Sementara dua rekan saya itu masuk ke ruang pak Johny. Saya tidak ikut dengan mereka karena tidak diijinkan. Saat dua rekan saya itu keluar, saya juga hendak bergegas keluar dari Kantor PT Dharma Indah, tapi tiba-tiba seorang karyawan perempuan di kantor itu memanggil saya. “Nona, mari dulu. Jangan dulu pulang”. Dia memanggil saya, katanya bosnya mau kasih clear masalah. Saya lalu masuk ke ruang kerja pak Johny dengan harapan beliau mau diwawancarai.
Ternyata setelah saya masuk ke ruang kerjanya, beliau malah membentak dan memarahi saya. Pak Johny memaksa saya untuk mengatakan siapa nama wartawan kami yang menulis berita tentang beliau mencatut nama menteri. Karena saya tidak mau menyebutkan nama wartawan itu, pak Johny semakin marah dan mengusir saya keluar dari kantornya. Karena diusir, saya lalu bergegas keluar dari ruang kerjanya karena memang emosi pak Johny sudah tidak terkendali. Saat saya berjalan keluar, pa Johny berteriak dengan suara keras “Kalau mau tulis saya, silakan tulis!”.
Saat saya keluar dari ruangannya, dengan keras pa Johny berteriak lagi “anjing e...!” dan tiba-tiba saja beliau berlari mengejar saya dan mau memukul saya. Melihat gerakan pak Johny yang mau memukul, saya lalu berlari memutari meja di ruang tamu kantornya. Pukulan pak Johny hampir saja mengenai saya, untungnya beberapa karyawan di kantor itu langsung menghalau gerakan pak Johny. Karyawan lainnya juga meminta saya untuk segera pulang. Saat itu, bila karyawannya tidak menghadang beliau, pasti saya sudah kena pukulannya. Pak Johny yang tampak belum puas, dengan nada membentak mengatakan “Kalau ose laki-laki, beta sudah pukul ose di sini,” ancamnya.
Setelah kejadian itu, saya langsung kembali ke kantor Spektrum Maluku di daerah Mardika, Ambon. Di kantor, saya bertemu dengan koordinator liputan kami pak Aner Leunufna dan beberapa rekan wartawan. Saya lalu menyampaikan masalah ini. Setelah berkoordinasi dengan pimpinan redaksi, kami lalu pergi ke Polsek Sirimau untuk melaporkan kejadian ini.
Saya sangat berharap agar polisi bisa menindaklanjuti laporan kami karena sebagai pers, saya tidak ingin diperlakukan seperti itu. Perbuatan pa Johny sudah jelas-jelas melecehkan profesi saya. Saya harap agar jangan ada pihak-pihak yang menghalangi tugas pers yang hendak melakukan wawancara atau konfirmasi karena hal ini sangat penting buat kami dalam melakukan tugas. Saya sangat menyesali perbuatan pak Johny yang mengahalangi kerja pers, bahkan mengancam dan mau memukul saya. Apalagi ini terjadi pada saya yang adalah seorang perempuan.
Saya sudah bekerja sebagai wartawan selama tiga tahun lebih. Selama tiga tahun saya bekerja sebagai wartawan di koran Seram Pos, dan selama delapan bulan di koran Spektrum Maluku, namun belum pernah saya mengalami kejadian seperti ini. Jujur saja, setelah kejadian ini saya sangat trauma dan ketakutan. Saya bahkan berpikir untuk mau berhenti bekerja sebagai wartawan karena takut. (***)





