
Ngilngof-Yeanroa-Ohoieu, puisi sepanjang jalan !
Oktober 1999, musim Meti Kei, saya ada di Tanah Kei. Saya sedang menguber Bapa Raja Maur-Ohoiwut J. P. Rahail. Roem Topatimasang menugaskan saya mewawancarai sosok kharismatik itu untuk mengungkap, bagaimana sang raja mempertahankan hukum adat dalam kepungan regulasi negara. Tidak gampang mewawancarainya. Meskipun sudah berjumpa, bapa raja tak bisa segera diwawancarai karena dialah yang memimpin safari damai dari ohoi ke ohoi.
Di sela tugas ini, saya bertemu banyak kenalan, sahabat dan saudara. Umumnya mereka mengajukan pertanyaan yang sama. “Maitua di mana ?” Saya selalu menjelaskan, istri saya ada di Ambon. Maka muncul pertanyaan-pertanyaan lanjutan. Bagaimana situasi Ambon ? Apakah maitua aman di sana ? Mengapa tinggalkan maitua sendiri di tengah perang ?
Ketika pertanyaan itu datang bertubi-tubi, saya akhirnya merasa sangat bersalah dan tidak bertanggungjawab. Istri saya Keety Renwarin tinggal sendiri di Batugantung, dekat Toko Modal, tangada Jalan Dr Sitanala Batugantung. Ini daerah perang. Ah, suami macam apa saya ini sampai meninggalkan istri yang sedang hamil tua, sendiri.
Saya akhirnya kembali ke Ambon. Tiga hari kemudian, kami berdua naik kapal ke Kei. Tinggal di Langgur, dekat Rumah Sakit Hati Kudus, tempat saya dilahirkan. Dengan begitu, kalau Keety hendak melahirkan, kami berdua bisa berjalan kaki ke rumah sakit.
Saya mengajak Keety ke Ngilngof, kampung tempat lahir ayah dan ibu saya. Ngilngof menyambut kami dengan segenap keramahan orang saudara. Hari-hari di Ngilngof, seperti berwisata. Saya dan Keety ke pantai, melihat siput, ikan dan pasir putih. Tiba-tiba Keety ingin naik sampan. Maka kami berdua naik sebuah sampan melewati Lair Ngil, terus sampai ke Yeanroa.
Ketika sampai di dangkalan, sampan terkandas. Saya turun menarik tali sampan. Langit lebar di angkasa Yeanroa, dan hanya kami berdua di situ. Mirip beberapa adegan dalam film Blue Lagoon.
Dulu, sekitar tahun 1973, saya sering berkuda dari Wearfol sampai ke dekat Wear Ablel. Kalau air surut, saya menarik tali kekang supaya kuda turun ke laut. Kuda pun suka sebab air hanya setinggi mata kaki. Berkali-kali, perjalanan seperti ini saya tempuh.
Kini saya dan Keety ada di Yeanroa. Saya menceritakan pengalaman sekitar 25 tahun lalu itu kepadanya, dan dia terkagum-kagum.
Kami berdua juga berjalan kaki di pantai Ngurbloat yang airnya sedang surut. Oktober adalah musim Meti Kei, meti paling besar. Ponakan saya, Don Fofid, seorang tentara datang mengajak kami naik speedboat. Maka kami pun meluncur melihat laut warna-warni di sekeliling Pulau Ohoieu dan Ohoiwa.
Pulau Ohoieu, persis di depan Kampung Ngilngof. Sekitar tahun 1922-1924, ayah saya Paul sering datang ke sini. Ayah sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat. Kakek saya Frans Bes membiayai sekolah ayah dari buah-buah kelapa Pulau Ohoieu. Kakek Frans Bes meninggal tahun 1929 dan dimakamkan di Ngilngof. Namun kuburan moyang kami Tawerdu, tetap di Ohoieu.
Dari butir-butir kelapa Ohoieu, ayah bisa mengumpulkan uang untuk merantau ke Seram. Ia bekerja di seorang pedagang Tionghoa di Bula. Setelah punya cukup uang simpanan, datanglah ia ke Batugajah untuk teken soldadu, masuk KNIL di Ambon tahun 1939.
Ayah saya seorang pria tangguh. Ia tentara yang rajin berdoa. Sebab itu, selama 11 tahun bergabung dengan KNIL dan ketika ditawan Jepang di Pematang Siantar, saya hanya sekali dipukul pakai popor senjata. Itu karena ayah mencoba naik mobil boks yang mengangkut kawan-kawannya, tentara KNIL asal Ambon, Kei dan Tanimbar. Ternyata, sampai hari pembebasan, kawan-kawan yang diangkut dengan mobil boks itu tidak pernah kembali.
Setelah mundur dari KNIL dan bergabung dengan TNI, ayah sempat bertugas di Atapupu, menjaga perbatasan Timor-Timur. Kakak-kakak saya lahir di sana. Ketika pensiun, ayah membawa beberapa ekor kuda ke Kei. Hewan-hewan itu menjadi barang merah, sebab kami bisa ke manapun di Kei dengan menunggang kuda, ketika orang-orang masih berjalan kaki berkilo-kilometer di atas jalan setapak dan jalan tanah.
Dari atas kuda, saya sering terpingkal-pingkal jika bertemu perempuan-perempuan kampung. Mereka takut sekali berjalan dekat kuda. Terkadang, mereka harus masuk ke semak-semak sampai kuda berlalu, barulah mereka muncul ke jalan.
“Yuuu ! Bib laai,” (Yuuu, kambing besar) begitu komentar seorang perempuan.
Tentu saja kawan-kawan perjalanannya tertawa dan mengoreksi.
“Bib wahaid bod e, lajeran wa !” (bukan kambing, pambodo ! Itu kuda)
Wearfol, Yeanroa, Ohoieu, Ohoiwa, Ngurbloat, Warenan, Lair Ngil, Wearblel, Kilyeu, Kilmanun dan sekitarnya adalah lanskap dan estuari yang eksotik. Pasir putih di bibir pulau, lautan warna-warni. Ayah saya sering menjaring ikan perairan dangkal di sini. Ia paling suka ikan Kari, Lema dan Bulanak.
Pekan lalu, saya kembali ke estuari itu. Bersama kawan-kawan dari Advance Maluku dan para nelayan di sana. Ada Elya Muskitta, Vita Silooy, Kika Loppies, Yola Bakarbessy, Semmy Siahaya. Cucu saya Arie Lie Fofid mengemudikan speedboat. Perjalanan mengarungi surga Ngilngof yang begitu menawan.
Kami mampir di Ohoieu, melihat Paul Hok Lie dan istrinya Ancelina Fofid yang nekat bermalam berhari-hari di pulau itu, untuk merawat rumput laut. Pasangan suami-istri ini tergolong tangguh. Dengan sepuluh anak dan empat belas cucu, keduanya masih kuat bekerja. Hok Lie berpengalaman memimpin perusahaan mutiara. Ia bertahun-tahun mengurus budidaya mutiara. Istrinya seorang guru sekolah dasar. Meskipun secara ekonomi, mereka cukup mapan, namun keduanya bersemangat memberi teladan bagi orang muda untuk selalu mau bekerja keras.
Tiba-tiba saya ingin tinggal di sini, di Ohoieu. Di pulau kecil ini, begitu banyak hal bisa dikerjakan. Saya mengungkapkan mimpi saya membangun rumah kecil di Pulau Ohoieu, istri saya Keety senang sekali. Anak-anak bisa masuk SD dan SMP di kampung. Di sini, mereka bisa belajar bahasa Kei dan belajar menjadi anak adat supaya tidak tenggelam dalam gelombang globalisasi. Dengan akses internet yang memadai dari Ohoieu, saya bisa meng-upload banyak puisi dari Ngilngof kepada dunia. Sebab, dari sini, begitu banyak puisi mengalir. Anak-anak pun bisa mengakses banyak informasi supaya tidak kalah dari anak-anak kota.
Kalau dulu ayah saya bisa memulai sepakterjangnya dari butir-butir kelapa Ohoieu, dan ia bisa melanglang Indonesia dari Aceh sampai Papua, tentu anak-anak saya dan ribuan anak-anak Kei lainnya bisa melanglang dunia dengan merintisnya dari kampung-kampungnya eksotik dan begitu kaya.
Saya percaya, tak lama lagi internet bisa diakses di Ohoieu dan sekitarnya, bahkan semua kampungdi Kei. Kalau itu terjadi, saya pasti kembali ke pulau pasir putih yang dikungkung warna-warna laut hijau, biru, merah. (*)




