Fish & Product Expo and Maluku Expo 31 Juli - 5 Agustus 2010

Menyambut Mahar Cinta Lelaki Laut
Di lautan Maluku
Ombak berkilau-kilau
Di bawah sinar bulan
Airnya gilang-gemilang
(Katje Hehanusa, Grup Rame Dendang, 1971)
Maluku adalah sebuah negeri dalam himpitan Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Para petualang Eropa bermimpi menginjakkan kaki di sini. Mimpi itu begitu bergairah, tertuju pada Kepulauan Rempah-Rempah, pada Maloko Kie Raha yakni Ternate, Bacan, Tidore, Jailolo, dan pulau-pulau lain.
Christofer Columbus, petualang kelahiran Genoa Italia tahun 1451. Dia berusia 41 tahun ketika berlayar dari Pelabuhan Palos di Spanyol mencari Kepulauan Rempah-Rempah tanggal 3 Agustus 1492. Di atas Kapal Santa Maria, Nina dan Pina, Columbus dan awak kapal membelah gelombang ganas, menuju dunia baru.
Armada Columbus melayari Samudera Atlantik, Samudera Arktik dan Samudera Pasifik sampai akhirnya mencapai San Salvador tanggal 12 Oktober 1492. Jadi, hari ini 519 tahun yang lalu, Columbus dan anak buahnya sedang mabuk anggur di Tanah Amerika.
Columbus memang menjadi sangat terkenal karena penemuan itu. Sejarah menulisnya sebagai cerita sukses yang abadi. Tapi di Maluku, katorang tahu persis, kisah sukses itu adalah sebuah proyek gagal. Columbus tiap hari berdoa : Ave Maria, gratia plena, dominus tecum benedicta tu in mulieribus, et benedictus fruntus fentris tui, Jesu. Sancta Maria Mater Dei, ora pro nobis, pecatoribus nunc et in hora mortis amen.
Columbus hanya menemukan Tanah Emas yang dinamakan Indian. Ia gagal menemukan negeri paku coklat, Maluku. Keberhasilan mencapai Amerika dan kegagalan mencapai Maluku, telah menambah gairah orang-orang Eropa untuk akhirnya datang mencapai Ternate dan Tidore, Halmahera lantas membangun Ambon, Banda, Buru, Seram, Kei dan sebagainya.
Orang-orang Maluku dari Utara sampai Selatan, adalah orang-orang yang hatinya murni, terbuka pada orang-orang yang datang dari jauh. Saking terbukanya, mereka rela menyerahkan tanah nenek moyang mereka kepada orang asing untuk membangun rumah, membangun benteng, gedung, gudang, pelabuhan, jalan, taman, gereja, kuburan menjadi kota. Kesucian hati orang Maluku telah memberi jalan bagi orang-orang Eropa membangun kongsi dagang berlevel internasional, pelayaran internasional, komunikasi internasional. Maka tidak salah, kita menyebut globalisasi sudah dimulai dari Ternate, sebuah pulau kacuping kacili paskali di peta dunia.
Kampung Mamuya di Pulau Halmahera, adalah juga bukti kesucian hati orang Maluku. Di sini, seorang awam Portugis bernama Gonzalo Veloso mempermandikan Kolano Mamuya menjadi orang Katolik pertama di Indonesia. Bahwa sejak itu, secara sporadis kemudian menjadi sistemik, orang-orang Maluku perlahan-lahan dituntun meninggalkan dunia gelap menuju dunia cahaya. Tuhan tradisional yang mereka kenal, Tuhan Nenek Moyang yang mereka peluk, ditinggalkan diganti dengan Tuhan modern. Salib, ayam jantan, bulan bintang di atas gedung-gedung bagus, gereja dan masjid, telah membawa Tuhan Lembah Nil meminggirkan Tuhan Maluku. Maka sapa baca mantra-mantra, sapa baca doti-doti, dia masuk neraka. Sapa berjalan ke batu keramat, dia menyembah berhala. Pada periode ini, patung-patung nenek moyang, doti-doti, mantera-mantera, puisi asli, mitos, pamali dan segala yang berbau nenek moyang, harus disingkirkan demi pencerahan melalui agama-agama baru.
Orang Maluku dengan tradisi lisan menulis sastra dan sejarahnya di dalam kepala. Bila hendak mendengar cerita asal-usul, sang penutur akan berkisah dengan lagu. Jika sang penutur mati, ia membawa semua catatannya masuk ke dalam kubur.
Tradisi tulis di Maluku sejauh yang kita kenal adalah Hikayat Tanah Hitu, sebuah buku karangan Imam Ridjali di Jazirah Leihitu, Pulau Ambon. Hikayat Tanah Hitu, hanya satu eksampelar, dalam bahasa tulisan Arab Melayu, ditulis dengan gaya sastra, bercerita tentang asal-usul negeri-negeri di Maluku. Hikayat Tanah Hitu ditulis tahun 1646-1657. Meskipun berasal dari Makassar, Iman Ridjali diakui sebagai orang Ambon.
Barulah tahun 1894, tradisi tulis-menulis tumbuh di Maluku, dengan terbitnya surat kabar pertama yakni Penghentar, oleh pendeta-pendeta Indische Kerk. Selanjutnya surat kabar Ambon Vooruit (1918), SAIT/Sarekat Ambon Ina Tuni (tahun 1922). Tiga surat kabar perintis ini berbahasa Melayu, dan sudah mulai muncul karya sastra di sana berupa puisi dan esei.
Para wartawan merangkap politisi dan pejuang, merangkap sastrawan adalah orang-orang yang menghidupkan tradisi tulis-menulis di Maluku. Surat Kabar tertua di Maluku saat ini adalah harian Suara Maluku. Berdiri di Ternate tahun 1953. Surat kabar itu masih hidup di Ambon sampai sekarang dan ikut berusaha menghidupkan tradisi tulis di tengah budaya lisan orang Maluku yang sangat kuat.
Di surat kabar inilah, tahun 1994 seorang pemuda kampung Capalulu Dino Umahuk pertama kali mempublikasi puisinya. Sekarang, 15 tahun kemudian, Dino meluncurkan Dua Antologi Puisinya. Satu antologinya sendiri sedangkan satunya lagi bersama sepuluh penyair lain.
Antologi Mahar Cinta Lelaki Laut oleh Dino Umahuk, Penerbit Tinta Pena dan UMMU Press – Ternate, adalah sebuah sukacita bagi kami di Maluku sebab di sinilah wujud kesenian yang otonom bahkan juga personal. Dino meluncurkan puisinya semau dia, tanpa ada tekanan apapun, dan mendapat sokongan yang Tinta Pena dan UMMU Press. Inilah karya dari Ternate, oleh Ternate, untuk dunia. Mahar Cinta Lelaki Laut, sebuah judul indah, mengingatkan kita pada The Old Man and the Sea oleh sastrawan Ernest Hemingwey, sang pemenang nobel sastra.
Dalam antologi ini, Dino menyuguhkan 107 judul puisi yang ditulis pada kurun dua tahun terakhir, di tempat-tempat berbeda seperti Ternate, Pangkalpinang, Sungai Liat, Jakarta, Banda Aceh, Lhokseumawe. Di sini Dino membahas tema-tema yang sangat beragam, sama seperti beberapa antologi sebelumnya, atau pun puisi-puisinya yang yang bertebaran di media virtual.
Ada perbedaan luar biasa antara puisi-puisi Dino tahun 1994 dengan Dino 2009. Dino 1994 adalah seorang penyair pemula yang berada dalam bayang-bayang Dominggus Willem Syaranamual bahkan Chairil Anwar, dua penyair yang dia kagumi sekaligus menjadi guru imajinernya. Dino 1994 juga masih sangat bombastis, sangat padede.
Dino 2009 adalah seorang penyair produktif, penuh gairah, penuh birahi kata. Dia terus memuncratkan puisi-puisinya yang makin berkarakter dalam hal formal, substansi, maupun estetika. Dalam Antologi pertama Metafora Birahi Laut, saya menyatakan kesukaan jika Dino kembali ke dunia Maluku sebagai habitatnya yang asli. Saya merasa senang karena pada antologi yang terakhir ini, puisi-puisi yang ditulis di Banda Aceh, di Jakarta, atau di manapun, tetaplah berada dalam satu karakter Puisi yang sangat Dino. Dino pe gaya, Dino pe stan, semakin kuat, semakin pica-pica. Saat ini kalau meletakkan satu puisi Dino di antara 10 puisi yang semuanya anonim, saya yakin bisa membedakan mana puisi Dino dan mana puisi penyair lainnya.
Saat ini, dengan Antologi Mahar Cinta Lelaki Laut, saya merasa Dino telah mengambil peran petualang Columbus sebagai perintis jalan. Untuk mendorong, menggairahkan, membirahikan orang-orang di Maluku untuk melahirkan karya-karya sastra yang nikmat, senikmat ekstasi tekstual, perlu ada orang-orang yang berjalan di depan dengan langkah yang cepat-cepat dan de pe lalah tarada.
Apa dan bagaimanapun, Mahar Cinta Lelaki Laut telah memotret banyak hal dan telah mendokumentasikan banyak pengalaman rohani sang penyairnya. Biarlah karya ini menjadi mahar bagi perkawinan ide-ide cemerlang lainnya.
Untuk masa depan, seperti pada beberapa puisi Dino, mungkinkah para penyair Maluku tidak saja mendokumentasikan keindahan ombak, laut, pasir, gunung, tanjung, cinta mama, cinta nona, sioh sayang rasa sayang e, tapi juga membela rakyat jelata dengan lebih bergairah. Cengkeh-Pala, Coklat, Kopi, Pisang, kelapa, Emas, Nikel, Kayu, Burung Surga, Batu-Batu Karang, Batu-Batu Akik, Ikan dan Udang di Laut. Maluku, Maluku Utara kaya raya. Tapi mama-mama kita masih menjual buah-buah pinang (Frangky Sahilatua-Suara dari Kemiskinan).
Orang Maluku dan Maluku Utara juga sekarang mulai melupakan sejarah nenek moyangnya yang begitu sedih. Romo Mangun menggambarkan kesedihan itu secara indah dalam novel Ikan-ikan hiu ido homa. Maka mari dengan puisi, torang membela rakyat jelata kelas ikan lompa, ikan puri, ikan nike, supaya jangan cuma bisa menjadi korban dari peristiwa makan-memakan ikan-ikan yang lebih besar homa dapa telan dari Ido, Ido dapa talang dari Hiu.
Demikian, Salam Sastra
Marimoi Ngone Futuru
Jakarta, 14 Oktober 2009
Rudi Fofid





