
Memburu Dien Tamaela, Dari Menteng Sampai Tanah Kusir
Begitu lama mencari jejak perempuan bernama Dien Tamaela. Bermula dari perkenalan pertama puisi Chairil Anwar, semasa SD tahun 1976 di Bacan, Maluku Utara. Tahun 1985-1999, saya berdomesili di Jalan Dr Tamaela. Nama jalan ini selalu mengingatkan saya pada Dien. Barulah pada media Oktober 2009, saya akhirnya menemukan jejak Dien di Jakarta.
KALAU bukan wartawati World of Maluku Meutia Muskitta, saya tak bakal sampai ke Apartemen Eksekutif di Menteng Jakarta Pusat. Apartemen megah itu dijaga sekuriti dengan sistem pengamanan sangat ketat namun penuh senyum.
Seorang petugas berseragam dengan ramah menyambut Meutia, saya dan penyair dari Ternate Dino Umahuk, pertengahan Oktober lalu. Petugas itu menelepon sejenak, lalu meletakkan gagang telepon. “Silahkan, anda sudah ditunggu,” ujarnya sambil membuka pintu menuju lift.
Apartemen itu berlantai 15 namun kami naik ke lantai lima Blok Palem. Seorang pria setengah baya membukakan pintu. Di ruang tamu yang besar, seorang perempuan tua sedang duduk becakap-cakap dengan dua kerabatnya.
“Ini Tante Dee,” kata Meutia.
“Dan ini Rudi dari Ambon sedangkan satunya lagi Dino dari Ternate. Mereka ingin tahu, siapa itu Dien Tamaela,” ujarnya lagi.
Perempuan tua yang disebut Tante Dee itu meninggalkan kedua kerabatnya. Ia menyalami kami dengan anggun. Kami pun duduk di meja bundar dan mulai bercerita.
Tante Dee bernama lengkap Lebrin Agustien Tamaela. Dialah adik kandung Dien. Dua bersaudara ini adalah putri dr Lodwijk Tamaela dan Mien Jacomina Pattiradjawane. Dee lebih beruntung ketimbang kakaknya Dien. Dien harus putus sekolah dan meninggal akibat TBC. Sedangkan Dee mendapat kesempatan kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan lulus tahun 1956. Ia memilih menjadi dokter anak dan bekerja sampai pensiun. Sebagai dokter mengikuti jejak ayah, Dee pernah bertugas di RSU Kudamati Ambon tahun 1957-1960.
Di apartemen inilah, Dee yang kini berusia 83 tahun melewati hari-harinya dengan tenang. Seperti Dien, Dee juga hidup membujang sampai tua. Matanya masih terang, pendengarannya kuat dan kalau bicara lafalnya juga sangat jelas. Meskipun gurat-gurat ketuaan menguasai sekujur tubuh, ia masih terlihat cantik, rapih dan bersih.
Dee menceritakan beberapa momen penting dalam hidup Dien. Meskipun mengakui Dien berkawan dengan Chairil Anwar, namun Dee memastikan bahwa kedua sejoli itu tidak sampai menikah. Selain Dien tidak pernah mengutarakan niatnya menikah, Chairil juga tidak disukai keluarga Tamaela-Pattiradjawane.
“Chairil itu menakutkan,” kata Dee.
“Matanya merah, orangnya kurus, rambut gondrong tidak sisir, mirip penjahat,” tambahnya lagi.
Dee mengaku hanya sekali berjumpa dengan Chairil pada sebuah toko buku di Jakarta. Waktu itu, ketika berada di toko buku bersama kawannya, tiba-tiba Chairil muncul di hadapan mereka.
“Dee, ini Chairil yang menulis puisi untuk kakakmu,” kata sahabatnya.
Dee menyalami Chairil. Itulah pertemuan pertama dan terakhir dengan Chairil sebab penyair itu pun akhirnya mati muda.
Walau begitu, Dee sangat menghargai karya Chairil Anwar. Di apartemennya, ia masih menyimpan salinan puisi Cerita Buat Dien Tamaela. Ia mengoleksi puisi tersebut dalam beberapa bahasa. Misalnya, dalam Bahasa Belanda, Verhaal Voor Dien Tamaela diterjemahkan oleh Dolf Verspoor dan terbit di Den Haag tahun 1949. Dalam Bahasa Jerman menjadi Ich Bin Pattiradjawane diterjemahkan W.A. Braasem, terbit di Jerman tahun 1957.
Dolf Verspoor mempublikasikan Legende Pour Dien Tamaela. Meskipun dalam bahasa Prancis, namun dipublikasi di Mimbar Indonesia tahun 1949. Terjemahan lain oleh Mohammad Akbar Djuhana dalam Bahasa Prancis menjadi Histoire Pour Dien Tamaela, dipublikasi oleh Kedutaan Besar Prancis tahun 1950 dan 1958.
Ada beberapa terjemahan dalam Bahasa Inggris. Ahmed Ali dkk mempublikasikan Story For A Girl Dien Tamaela di Kaerachi tahun 1949. Judul yang sama dipublikasikan di London tahun 1959. Sedangkan A tale of Dien Tamaela diterjemahkan oleh Burton Raffel dan Nuurdin Salam, dipublikasi di Berkeley dan Los Angeles tahun 1964 oleh University of California Press. Di Manila, puisi ini dipublikasikan oleh Jurnal Universitas Manila tahun 1954, dengan judul Story For Dien Tamaela, terjemahan Justus van der Kroef.
Dalam Bahasa Spanyol, Ramadhan KH menulisnya menjadi Historia Para Una Muchacha Que Se Lama Tamaela, dipublikasikan di Madrid tahun 1962. Ada pula dalam bahasa lainnya namun sulit disalin karena tidak menggunakan huruf latin.
Saya senang sekali mendapat salinan dokumentasi ini. Dee juga memperlihatkan potret diri Dien, profil gadis Ambon hitam manis. Meutia pun beraksi dengan kamera digitalnya mengabadikan saya, Dino, Dien dan Dee. Kami merasa sudah bertemu Dien, sekalipun hanya dalam cerita, puisi dan foto.
Sebagai balasan dan rasa penghargaan, saya menyerahkan sebuah buku yang baru diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Yassin Jakarta, sehari sebelumnya. Buku berjudul Narasi Tanah Asal itu adalah Antologi Penyair Ternate. Saya dan Dino juga menyumbang puisi dalam antologi itu bersama sembilan penyair lain. Saya merasa buku ini pas untuk kenang-kenangan karena pada pengantarnya terdapat tulisan penyair Saut Situmorang. Saut menulis di bawah judul Cerita Buat Dien Tamaela.
TANAH KUSIR
Sayang sekali, hari itu juga Dino harus kembali ke Ternate. Sebab itu, sehari kemudian saya memutuskan pergi sendiri ke Pemakaman Tanah Kusir. Untung ada seorang adik, Petrus Lelyemin, juga pemuja Chairil Anwar. Ia lulusan Universitas Kristen Indonesia Maluku dan kini bekerja di Commission of Justice, Peace and Integrity of Creation - Missionarium Sacratissimi Cordis (MSC) Provinsi Indonesia.
Matahari panas, Jakarta bagai rumah kaca ketika saya dan Petrus tiba di Tempat Pemakaman Umum Tanah Kusir. Ribuan makam lama dan baru terbentang pada tiga bagian besar. Ada yang di sebelah utara, ada yang di sebelah selatan dan ada yang di seberang rel kereta api.
Saya memilih langsung mencari di pemakaman Kristen. Sedangkan Petrus menuju kantor pelayanan pemakaman. Petrus kembali dengan wajah kecewa. “Tidak ada nama Dien Tamaela. Mereka sudah cari di komputer, tapi tidak ada,” kata Petrus.
Saya terpaksa kembali ke kantor pemakaman. Sia-sia sebab pegawai-pegawai muda di sana kebingungan. Menurut mereka, sulit mencari seseorang yang meninggal tahun 1948 dan makamnya baru dipindahkan dari Petamburan ke Tanah Kusir tahun 1968. Apalagi baru dicari tahun 2009. Saya dan Petrus memutuskan mencari dengan cara mendatangi satu per satu kuburan.
Melalui Meutia, kami masih mengkonfirmasi posisi kuburan itu kepada tantenya di apartemen. “Tante Dee bilang, kuburan Dien berada di tepi jalan karena termasuk kuburan pertama di Tanah Kusir,” kata Meutia.
Setelah mencari pada hampir seribu kuburan tapi sia-sia, kami memutuskan pergi ke kuburan di seberang rel kereta api. Benar saja. Tidak lebih lima menit, sampai jua kami di tempat peristirahatan terakhir Dien Tamaela. Makamnya terletak di Pemakaman Unit Kristen Blok AA1 Blad 69-kiri seberang rel.
Pada satu makam yang terawat baik, terbaring Dien bersama ayah dr Tamaela dan ibu Mien Pattiradjawane. Di sisi kirinya, terdapat makam orang Ambon-Manado. Namanya Emanueliesje Frida Ester Sahertian-Karompis. Sisi kanan, terdapat makam Zhigniew Bleszynski, pria kelahiran Warsawa 1929 dan meninggal di Perth tahun 2001. Zhigniew Bleszynski adalah ayah kandung artis Tamara Bleszynski.
“Kalau ada yang mau cari kuburan Dien Tamaela, cari saja di dekat ayahnya Tamara,” kata petugas kebersihan di pemakaman.
Memang, ada kuburan Brury Pesolima dan Helmi Pesolima di dekat situ, tapi jaraknya sekitar 25 meter. Seperti kata petugas kubur, patokan ayah Tamara cukuplah membantu. Saya dan Peter saling berganti mengabadikan diri sendiri di atas makam.
Di atas makam itu juga kami berdiskusi tentang gadis bernama Dien Tamaela itu. Dia putri dokter terkenal namun bersahaja, tidak banyak bicara, pemain piano, sahabat Chairil, mati muda karena TBC. Dia tidak membuat maha karya seperti kebanyakan tokoh. Dia lahir di Palembang, mati di Jakarta dan tidak pernah menginjakkan kaki di Tanah Ambon. Tapi dialah sumber inspirasi lahirnya puisi karya penyair terkenal dan kontroversial Chairil Anwar. Sangat mungkin, Cerita Buat Dien Tamaela masih satu nafas dengan puisi Chairil lainnya, Senja di Pelabuhan Kecil dan Cintaku Jauh di Pulau.
Chairil mau hidup seribu tahun lagi. Begitulah cetusan hatinya dalam puisi Aku. Tapi dengan menggandeng Dien Tamaela dalam puisinya, Chairil maupun Dien bakalan hidup beribu-ribu tahun.
“ Beta ada di malam, ada di siang/irama ganggang dan api membakar pulau”. (rudi fofid)




