Exotic Ora Beach

Ora beach di utara pulau Seram, provinsi Maluku. Salah satu wilayah petuanan desa Saleman yang nyaris tersembunyi itu, menyimpan keindahan alam luar biasa indah. Pantai pasir putih, hutan tropis, aneka satwa liar, terumbu karang dan biota laut, membuat tempat ini sangat eksotic bagi para ecotraveler. Garis pantai, batas pertemuan air laut dan daratan, hamparan pasir putih memanjang hingga ke kaki bukit dipenuhi rimbunan pohon hutan tropis.

Fish & Product Expo and Maluku Expo 31 Juli - 5 Agustus 2010

Kenangan Terakhir dengan Om Hanoch Luhukay

Mendengar nama Om Hanoch, saya langsung menjawab setuju. Beberapa kali saya berbicang-bincang dengan sejarahwan terkenal ini. Saya pernah bertekad mewawancarainya berjam-jam, bahkan berhari-hari untuk menguras data yang berjibun di kepalanya.
Om Hanoch memang meminta Thamrin datang menemuinya. Ia ingin menyerahkan sebuah dokumen penting tentang Muhammad Amin Ely, almarhum ayah Thamrin yang pernah aktif sebagai wartawan, politisi, dan oposisi anggota Petisi 50.
Tanpa kesulitan, kami tiba di Lorong Deo Komputer, dekat Jembatan Lateri III. Om Hanoch (86) duduk di kursi, teras rumah. Istrinya Ewa Oppier (83) menemani. Cucunya Evie Oppier, juga ada di sana bersama suaminya Bung Kisya.
Pertemuan dua tokoh terkenal asal Paperu dan Asilulu yang punya hubungan pela itu berlangsung hangat. Tapi begitu mengetahui saya sebagai wartawan Suara Maluku juga ada, Om Hanoch langsung membahas topik Dien Tamaela, gadis Maluku yang diabadikan dalam puisi karangan Chairil Anwar, Cerita Buat Dien Tamaela.
Kami berdiskusi banyak hal, menyangkut butir-butir sejarah yang riuh bersileweran di kepala dang tokoh. Tapi beberapa kali ia menyela, dengan membahas koran Suara Maluku.
“Sampaikan salam saya buat Etty Manduapessy. Saya sangat marah kalian Suara Maluku. Mengapa tidak merger saja dengan investor orang Ambon yang punya idialisme sama di bidang pers,” lontarnya.
Saya mencoba menjelaskan situasi Suara Maluku setelah keluar dari Group Jawa Pos dan memulai lagi dari nol. Ia memakluminya, dan meminta wartawan Suara Maluku tetap mempertahankan koran ini supaya tetap kritis dan benar.

SETIA JADI DERITA
Meskipun kakinya bengkak karena rhematik, ia terus bercerita berbagai hal, dari Makassar ke Jawa, kembali lagi ke Ambon dan seterusnya. Salah satu ceritanya adalah mengenai gerbang di lokasi eks terminal Pelita, yang kini menjadi lokasi Gong Perdamaian Dunia.
Di lokasi situ, terangnya, dulu terdapat sebuah gerbang dengan tulisan lengkung pada gapura. Tulisannya berbunyi : Ambon Door de Eeuwen Trouw (Ambon Setia Selama-lamanya).
Para tokoh pejuang Ambon tidak suka dengan semboyan itu. Slogan itu bermakna Ambon selamanya setia kepada Ratu Belanda. Dua wartawan kawakan yang aktif juga sebagai politisi yakni E.U. Pupella dan Ot Pattimaipau paling marah dengan slogan ini. Pupella waktu itu menjabat Ketua PIM sedangkan Pattimaipau sebagai sekretaris.
Pupella dan Pattimaipau lantas memerintahkan Om Hanoch dan rekannya , Corres Hully asal Manipa, supaya mencopot huruf T pada kata Trouw.
“Trouw bahasa Belanda yang berarti setia. Huruf T harus dicopot,” ujarnya.
Karena takut ketangkap tentara Belanda, tugas itu kemudian dilakukan pada suatu malam, pukul 01.00. Dengan membawa sebuah linggis, keduanya masuk ke lokasi gerbang. Di sana, ada pohon besar sehingga cukup membantu untuk memanjat.
“Hully naik di beta punya bahu, lalu tikam huruf T pake lawangka. Berhasil !” kenang Om Hanoch.
Setelah sukses mencopot dan membawa pulang huruf T, slogan itu berubah bunyi menjadi Ambon Door de Eeuwen rouw. Maknanya sudah berubah dari Ambon setia selamanya menjadi Ambon derita selamanya.
Om Hanoch, Hully melapor kepada Pupella dan Pattimaipau. Para pejuang gembira atas aksi itu. Apalagi, esoknya pihak Belanda kaget dan marah.

JANJI KEMBALI
Karena banyak kisah yang dituturkan sepotong-sepotong, kami bersepakat agar Om Hanoch menceritakan berbagai pengalamannya secara panjang lebar pada kesempatan lain.
Saya berjanji, pada bulan Januari ini akan kembali. Om Hanoch senang. Dia juga minta dibawakan fotokopi Buku Sejarah Pers Nasional di Maluku yang ditulis ayahanda Thamrin. Fotokopi buku itu ada pada saya, dan saya berjanji akan membawanya selepas tahun baru.
Sebelum meninggalkan Om Hanoch, kami sempat membuat foto-foto. Semula Om Hanoch keberatan karena busana yang dia kenakan hanyalah busana rumah dan tidak layak, Tapi Thamrin meyakinkan bahwa justru situasi orisinil ini yang kita perlu.
Saya dan Thamrin bergantian mengabadikan beberapa pose. Om Hanoch terlihat bergembira. Matanya berbinar-binar.
“Ingat ya, jangan sampai tidak datang,” katanya.
Saya meyakinkan Om Hanoch, bahwa saya pasti datang, merekam berjam-jam percapakan dengannya. Kami pun berpisah.
Hari Kamis, 31 Desember 2009, pas pergantian tahun. Sepulang dialog akhir tahun di TVRI Gunung Nona, Thamrin menyerahkan sebuah perekam suara digital kepada saya, untuk kelak bisa melaksanakan tugas menggarap kesaksian sejarah dari sejarahwan sekaligus pelaku sejarah ini.
Namun hari Kamis pagi, sang cucu yang setia merawatnya Evie Oppier datang ke kantor Suara Maluku. Ia menyampaikan kabar bahwa Om Hanoch telah tiada. Di Jakarta, Thamrin sudah lebih dulu menerima telepon dari Evie.
“Om Tham, Opa su seng ada. Om jang lupa katong e,” kata Evie dengan suara parau.
Kemarin saya datang ke rumahnya. Hanya ada lima krans bunga terlihat di rumah duka, di antaranya dari FKIP Unpatti, tempat Om Hanoch pernah mengabdi. Beberapa tokoh datang melayat secara tidak bersamaan. Ada Prof John Pattikayhatu, Dra Deetje Siwabessy, Drs H. Soplantila, Drs A. Betkunde MPd, Betty Hetharion MPd, Dr Neles Elyona MPd, dan beberapa kerabat lainnya. Sejumlah mahasiswa FKIP juga terlihat di sana.
Sampai menjelang malam, tidak terlihat para pejabat pemerintah. Walikota Ambon Jopie Papilaja menjadwalkan akan melayat tokoh yang pernah ikut menulis buku Ambonku, dulu kini esok. Sedangkan pejabat tingkat provinsi sama sekali tidak terlihat.
Di rumah duka, saya tidak bisa mewawancarai Om Hanoch seperti janji tiga pekan lalu. Sang tokoh telah terbaring di dalam keranda. Ia tidur dengan tenang dengan busana apik. Istri dan anak-anak, menantu, cucu, cicit bersama jemaat setempat melayaninya.
Meskipun merasa kehilangan, putri sulungnya dr Syaneta Luhukay yang datang dari Kendari, merasa ayahnya telah terbebas dari derita. Dengan bangga dan berpasrah pada Tuhan, Syaneta dan adik-adiknya merelakan sang ayah pergi ke Rumah Bapa. Selamat jalan, pahlawan ! (rudi fofid)
Share this

 

Pariwisata Maluku

Pariwisata Maluku dengan beribu keindahan alam, merupakan surga di kawasan timur indonesia. Dengan pesona wisata bawah laut, kebudayaan dan etnik di provinsi maluku menjadikan maluku salah satu provinsi yang mempunyai prospek yang menjajanjikan bagi pariwisata indonesia .