Published On: Mon, Nov 27th, 2017

Oknum Polsek Banda Diduga Ancam Warga Dwiwarna

Share This
Tags

Brigpol La Ode Ane Ode Umar, oknum Polsek Banda diduga mengancam keluarga Almarhum Ahmada Astar, warga Desa Dwiwarna. Ia memaksa Korban menghentikan pembangunan rumah diatas tanahnya sendiri. Bahkan sempat meminta sertifikat tanah milik Korban secara paksa.

Korban yang takut dengan ancaman aparat penegak hukum ini datang meminta perlindungan di Polsek Banda. Mirisnya, laporan pengaduan Korban tidak dihiraukan. Bahkan, Korban dituding bersalah merebut tanah mertua milik pelaku pengancaman itu.

Syamsia Astar, warga Desa Dwiwarna Kecamatan Banda Neira Kabupaten Maluku Tengah yang menjadi Korban pengancaman mengatakan, ancaman yang dilakukan Pelaku kerap dilakukan. Bahkan pada tanggal 19 November 2017 lalu, Pelaku datang mematok tanda yang telah berdiri fondasi dan tiang pembangunan rumah Korban.

“Dia (Pelaku) mengancam tukang yang kerja rumah saya. Dia bilang stop kerja sambil memotret pekerjaan yang dilakukan tukang. Karena takut para pekerja langsung menghentikan kerjanya,” ungkap Syamsia yang dihubungi Kabar Timur, Sabtu (25/11), siang.

Pelaku, tambah Syamsia, menuding dirinya dan suaminya Ahmada Astar yang baru meninggal dunia 5 hari lalu sebagai pencuri yang telah mengambil tanah milik mertuanya. Padahal, tanah itu punya Korban dan disahkan melalui Program Sertifikasi Tanah (Prona) Badan Pertanahan Kabupaten Malteng serta terdaftar di Desa maupun Badan Pertanahan.

“Suami saya baru meninggal 3 hari kemarin (Rabu). Beliau sakit manis. Mungkin karena terlalu banyak pikiran makanya penyakitnya kambuh dan meninggal saat berobat di Ambon. Saat di Ambon, Pelaku datang mematok tanda di atas tanah saya,” ungkapnya.

Kata Syamsia, Pelaku dan menantunya datang marah marah. Mereka mengklaim tanah itu milik kakeknya. Informasinya, tanah tersebut dihibahkan oleh Des Alwi.

Tanah dengan luas 493 meter persegi di perumahan Desa Dwiwarna, berbatasan dengan Desa Rajawali itu adalah milik Subanto Abda yang ditukar guling oleh Des Alwi dengan sebidang tanah di kawasan kompleks monumen Parigi Rante Desa yang sama.

Tukar guling terjadi lantaran tanah di Parigi Rante milik Subanto, dijadikan lokasi monumen sejarah oleh Des Alwi. Sebagai gantinya, Subanto diberi lahan oleh Des Alwi yang kini menjadi sengketa keluarga dari istri oknum polisi tersebut dengan keluarga Korban Ahmada Astar dan Syamsia Astar.

Dijelaskan, tanah yang kini menjadi hak Syamsia Astar dibeli almarhum suaminya dari Subanto Abda yang merupakan keluarganya sendiri sebesar Rp30 Juta pada tahun 2016. Tapi menurut oknum polisi ini, kakek mantunya adalah pemilik sah karena memiliki sertifikat yang dibuat tahun 2004 lalu.

Pengakuan oknum polisi bersama mertuanya, tambah Syamsia, tidak dapat dibuktikan. Sebab, tidak terdaftar atau teregistrasi di Desa Dwiwarna maupun di Badan Pertanahan Kabupaten Malteng.

Luas area yang tertera pada sertifikat yang diklaim pun berbeda. Pasalnya, dalam sertifikat lahan milik korban yang dibeli dari Subanto, mencapai 493 meter persegi. Sementara pada sertifikat lahan milik kakek mantu polisi La Ane, itu hanya 432 meter persegi atas nama Ibrahim Baadila.

Disisi lain, jika tanah yang diklaim pelaku bersertifikat tahun 2004 lau, tidak mungkin BPN akan mengeluarkan sertifikat yang baru atas nama lain.

“Pihak keluarga dari istri polisi itu pernah meminta Petugas Desa Dwiwarna mengurus proses pembuatan PBB di Masohi. Hanya saja, dari pengakuan aparat Desa Denny Arwen, sertifikat tanah milik kakek mantu polisi La Ane itu tidak terdaftar di BPN. Jadi kalau tanah itu sudah bersertifikat, tidak mungkin saat saya dan suami saya membuat sertifikat tanah melalui Prona Tahun 2016, sertifikatnya bisa keluar,” jelasnya.

Olehnya itu, Syamsia sangat menyesali aksi pasang badan yang dilakukan Oknum polisi Ode Ane. Sebagai aparat penegak hukum, dirinya harus mengutamakan hukum yang sah, bukan berlagak seperti preman bayaran. “Saya langsung bilang ke dia (pelaku), kalau belum paham soal hukum, mending sekolah lagi. Bukan punya tanah tapi malah pasang badan ancam saya sama suami saya,” kesalnya.

Yang lebih aneh lagi, tambah Syamsia, laporan dirinya ke Polsek Banda tidak dihiraukan sama sekali. Padahal, saat diperiksa dan dimintai menunjukan sertifikat, Korban sudah memperlihatkan semua surat. Baik surat jual beli maupun sertifikat. “Saya sudah kasi lihat sertifikat milik saya. Tapi mereka tidak peduli. Saya bilang, kalau tidak puas silahkan tunjukkan sertifat yang lebih sah,” tandasnya.

Dirinya berharap, Kapolres Maluku Tengah maupun Kapolda Maluku dapat mendidik anak buahnya dengan ilmu hukum yang jauh lebih baik. Karena jika tidak, maka nama baik institusi kepolisian bisa tercoreng karena ulah oknum polisi seperti Brigadir La Ode Ane.

“Lalu kalau Polsek saja tidak peduli lagi, apakah saya harus lapor ke Masohi?. Saya bolak balik dengan ongkos begitu besar?. Saya harap Kapolsek dan Kapolda Maluku bisa bantu kami dari ancaman polisi di sini,” harapnya.

Sementara Brigpol La Ane yang dikonfirmasi Kabar Timur menggunakan telepon genggam milik Kapolsek Banda AKP. Marsan Wulan, membantah semua tuduhan yang dikatakan korban terhadap dirinya. “Saya tidak pernah mengancam mereka. Bahkan saya hanya sebagai penyambung lidah antara korban dan mama mantu saya,” kata La Ane Minggu (26/11).

Menurutnya, tuduhan korban semuanya tidak betul. Bahkan, suami almarhum pernah datangi dirinya untuk berbicara secara baik baik guna menyelesaikan perkara tanah itu.  “Tapi saya bilang mending ketemu mertua saya. Saya hanya penyambung. Saya tidak punya hak. Tapi saat Saya tanya mertua, katanya korban belum datang,” jelasnya.

Soal dirinya dituding mematok tanda di rumah milik korban juga tidak benar. Sebab, patok yang dilakukan sesuai dengan yang tertera di sertifikat milik mertuanya. “Saya pernah meminta mereka untuk menunjukan sertifikat mereka. Tapi mereka tidak mau tunjukan. Jadi bukan saya memaksa mereka untuk memberikan sertifikat. Itu tidak benar,” katanya.

Lebih lanjut dikatakan, dirinya sempat meminta korban untuk fikir fikir dahulu sebelum membangun rumah. Sebab, rumah yang dibangun punya sertifikat. “Jadi semua tuduhan Korban kepada saya, tidak benar,” pungkasnya yang berbicara dihadapan Kapolsek Banda. (Kabartimur)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

- BALAGU.COM