Published On: Mon, Mar 21st, 2016

Pasca Tetapkan Tersangka – Jaksa Bakal Geledah Bank Maluku

Share This
Tags

Bank-Maluku11Tim penyidik Kejati Maluku bakal menggeledah Kantor Bank Maluku Malut.  Peng­geledahan ini merupakan bagian dari rangkaian penyidikan dugaan mark up pembelian lahan dan gedung di Surabaya.

Agenda tengah disusun oleh tim penyidik. Sesuai rencana penggeledahan bank berplat merah yang berada di Jl. Raya Pattimura itu, dilakukan setelah tersangka skandal dugaan korupsi pem­belian gedung  dan lahan yang berada di Jl. Raya Darmo No 51, Kelurahan Keputran, Kecamatan Tegalsari Kota Surabaya itu, ditetapkan.

“Agendanya penyidik yang susun. Rencananya, setelah penetapan tersangka peng­ge­le­dahan jalan,” kata sumber di Kejati Maluku kepada Siwalima, Sabtu (19/3).

Menurut sumber itu,  ba­nyak tersangka bakal dijerat. Tetapi akan dilakukan secara bertahap, sesuai perkemba­ngan penyidikan.

“Setelah dilakukan penye­lidikan dan penyidikan, ada dua orang yang ditetapkan sebagai tersangka. Mereka berdua memiliki peran yang penting bahkan keduanya yang mengatur proses pem­belian gedung dan lahan di Surabaya,” ujarnya.

Siapa identitas dua ter­sangka itu, ia menolak untuk menyebutkannya dengan ala­san kepentingan penyidikan. “Nanti saja, pasti juga dipub­likasikan,” tandas sumber itu.

Minggu Ini Tetapkan Tersangka

Sesuai janji Kepala Kejati Maluku Jan S Maringka, ter­sangka dugaan mark up pem­belian gedung dan lahan di Surabaya minggu ini ditetap­kan. Siapa yang bakal menjadi target pertama tim penyidik? Maringka masih merahasia­kannya.

“Pekan depan, tersang­ka­nya akan segera ditetapkan. Masih rahasia, tunggu saja pekan depan,” tandas Ma­ring­ka, kepada  wartawan, di Kantor Kejati Maluku, Selasa (15/3).

Ia mengatakan, proses penyidikan terus dilakukan. Masih ada saksi-saksi yang akan diperiksa. “Pemeriksaan saksi-saksi masih terus dila­ku­kan termasuk pejabat di jajaran Bank Maluku nanti se­telah itu, tersangkanya akan ditetapkan,” ujarnya.

Soal agenda tim penyidik yang akan memeriksa fisik gedung dan lahan di Sura­baya, Maringka mengatakan, pemeriksaan tetap dilakukan. Namun ia belum bisa memas­tikan waktunya, sebab Kejati Maluku terkendala anggaran.

“Kita masih agendakan jadwalnya, karena kita ter­kendala dengan anggaran. Dalam satu tahun, kita hanya dialokasikan biaya untuk  penanganan dua perkara, se­mentara saat ini ada 18 per­kara yang harus kita tuntas­kan. Kalau tim berangkat ke Surabaya dari mana biayanya baik untuk tiket pesawat, hotel maupun makan, tapi tetap kita akan upayakan agar tim bisa memeriksa fisik lahan maupun gedung,” tandasnya.

Maringka berharap, mas­yarakat mendukung Kejati Maluku menuntaskan kasus-kasus korupsi di daerah ini.

Selain memeriksa fisik, tim penyidik juga akan memeriksa notaris yang membuat serti­fikat gedung dan lahan di Surabaya, termasuk meme­riksa Kantor Jasa Penilai Publik Firman Suryantoro Sugeng Suzy Hartomo dan rekan (KJPP FAST) yang melakukan appraisal. Sesuai hasil appraisal harga lahan dan gedung itu, Rp.46. 392.000.000, namun Bank Maluku mencairkan Rp 54 milyar.

Hingga kini Bank Maluku Malut belum juga memiliki sertifikat atas gedung dan lahan itu. Informasi yang di­per­oleh, pengurusan sertifikat dilakukan di salah seorang notaris yang berkantor di Kabupaten Sidoarjo. Padahal objeknya berada di Surabaya.

Sumber itu juga meng­ungkapkan, notaris tersebut bukan seorang Pejabat Pem­buat Akta Tanah yang bisa melegalisir perjanjian jual beli. Ia hanya bisa membuat persetujuan pengikatan saja.

“Dia itu belum menjadi PPAT, makanya sertifikatnya belum juga beres, coba kon­firmasi saja ke direksi Bank Maluku,” tandasnya.

Akibat ketidakberesan yang terjadi kantor cabang Bank Maluku Malut belum juga dibuka di Surabaya. Padahal gedung dan lahan sudah dibeli satu tahun lebih, dengan uang yang digelon­torkan Rp 54 milyar.

Selain itu, anggaran selama dua tahun (2014-2015) juga dialokasikan untuk menyewa kantor guna proses pembu­kaan Bank Maluku Malut di Surabaya. Tetapi sampai saat ini, tidak ada Bank Maluku Malut di kota pahlawan itu.

Sumber lain mengung­kap­kan, saat pemeriksaan Direk­tur Kepatuhan PT Bank Maluku Malut, Izaac B. Thenu, ia telah membeberkan siapa saja yang terlibat dalam proses transaksi yang diduga merugikan daerah milyaran rupiah itu.

“Dia buka bukti, ada arahan dan perintah dari Dirut Bank Maluku Malut untuk mem­per­cepat proses pembelian ge­dung dan lahan di Surabaya,” ujar sumber itu.

Sumber itu, juga menga­takan, Rolobessy tak mau di­per­salahkan. Ia pun mem­be­berkan kepada tim penyidik, kalau ia juga mendapat pe­rintah. “Ada bukti yang ditun­jukan ke penyidik, perintah itu berasal dari mana, kita sudah kantongi. Jadi tunggu saja, akan dibuka semuanya,” tandasnya

Tim penyidik Kejati Ma­luku menemukan bukti uang senilai Rp 7,6 milyar, yang diduga hasil mark up pem­belian gedung dan lahan di Surabaya, dibagi-bagi oleh mereka yang terlibat dalam skandal korupsi ini.

Sumber di Kejati Maluku mengungkapkan, uang Rp 54 milyar itu, ditransfer Bank Maluku kepada seseorang yang bernama Sunarko mela­lui rekening BCA miliknya dengan nomor 014.001. 9984. Setelah itu, Sunarko menge­luarkan Rp 7,6 milyar dan mentransfernya kepada Hen­tje Abraham Toisuta, yang adalah rekanan Bank Maluku Malut yang dipercayakan un­tuk mengurus proses pem­belian gedung dan lahan di Surabaya.

Uang Rp 7,6 milyar itu, kemudian dibagi-bagi. Salah satu pejabat Bank Maluku yang diberikan adalah Direk­tur Kepatuhan Izaac B Thenu. Saat itu, Hentje menemui Thenu di  ruang kerjanya. Setelah berbicara beberapa saat, ia  kemudian meletakan uang Rp 250 juta di atas meja Thenu, dan keluar ruangan. Namun Thenu yang tak mau menerima uang itu, keesokan harinya, mentransfer kembali uang tersebut ke rekening Hentje.

“Jadi ketika uang Rp 54 milyar itu ditransfer ke Su­narko yang merupakan pen­jaga gedung itu, kemudian uang sebesar Rp 7,6 milyar ditransfer  ke rekening Hentje. Selanjutnya dibagikan pula kepada  pejabat di Bank Ma­luku, salah satunya Direktur Kepatuhan. Nilainya Rp 250 juta, tetapi uang  itu transfer kembali oleh pak Thenu,” urai sumber itu, kepada Siwalima, Rabu (16/3).

Sumber itu juga meng­ungkapkan,  transaksi yang dilakukan Bank Maluku ke rekening Sunarko dan  Hentje Toisuta sudah ditelusuri oleh Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPA­TK), dan bukti-buktinya su­dah dikantongi tim penyidik.

Sumber itu, menambahkan sisa uang hasil mark up seki­tar Rp 816.500.000 digunakan untuk membayar notaris dan lainnya. “Tunggu saja per­kembangan penyidikannya, pasti akan terung­kap semua, kan tersangkanya akan dite­tapkan dalam waktu dekat, jadi ikuti saja,” ujarnya.

Namun Heintje membantah dirinya menerima uang Rp 7,6 milyar dari Sunarko, dan mem­bagi-bagikannya. “Saya te­gas­kan bahwa, tidak pernah saya membagi-bagikan uang mark-up apalagi mendapat­kan­nya,” jelas Toisuta dalam rilisnya kepada Siwalima, Jumat (17/3). (Siwalima)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

BALAGU.COM - Berita Informasi Maluku