Published On: Thu, Feb 4th, 2016

Petinggi ISIS “Mengungsi” ke Libya

Share This
Tags

1336353Pemimpin-ISIS-2780x390Beberapa komandan senior dari kelompok yang menyebut diri mereka Negara Islam atau ISIS telah pindah dari Irak dan Suriah ke Libya.

Kepada BBC Newsnight, pejabat intelijen Libya menyatakan, sejumlah petinggi ISIS kini berada di kota Sirte.

Kota tersebut telah dikuasai ISIS sejak tahun lalu. Sirte adalah kampung halaman mantan pemimpin Libya, Muammar Khadafy.

Sejumlah pihak menyebut ISIS telah mendapat dukungan dari loyalis Khadafy.

Namun, kepala intelijen kota Misrata, Ismail Shukri, menyatakan kepada Newsnight bahwa anggota ISIS yang paling banyak tiba di Libya beberapa bulan terakhir adalah orang asing.

“Jumlah orang asing ini mencapai 70 persen. Sebagian besar dari mereka berasal dari Tunisia, Mesir, Sudan, dan Aljazair. Sementara itu, mereka yang berasal dari Irak adalah para mantan tentara Saddam Hussein.”

Terdesak serangan militer

Shukri mengungkapkan, komandan ISIS mengungsi di Libya karena terdesak oleh serangan udara di Irak dan Suriah.

“Mereka melihat Libya sebagai tempat berlindung yang aman.”

Pejabat pemerintah di Misrata mengklaim bahwa mereka sedang mempersiapkan serangan ke basis ISIS di Sirte.

Namun, di kota Abugrein, yang terletak 120 km di selatan Misrata,BBC melihat sedikit sekali bukti bahwa akan ada serangan yang dilakukan Pemerintah Libya.

Abugrein adalah perbatasan antara wilayah yang masih “dikuasai” Libya dan ISIS.

Komandan militer di Abugrein menegaskan bahwa tentaranya loyal terhadap Tripoli. Namun, jumlah mereka “hanya” 1.400 orang, kurang dari separuh kekuatan ISIS.

Perlu dukungan internasional

Salah seorang komandan di Batalyon 166, Mohammed al-Bayoudi, mengungkapkan, tanpa bantuan internasional, mereka tidak akan bisa mengalahkan ISIS.

“Kami sangat menanti dukungan dari NATO. Namun, serangan udara saja tidak akan bisa mengalahkan ISIS. Apa yang dibutuhkan tentara kami adalah dukungan logistik.”

Sementara itu, perwakilan 23 negara, termasuk Amerika Serikat dan Inggris, mengadakan pertemuan di Roma, Selasa (2/2/2016) lalu, membahas terus meningkatnya ancaman ISIS di Libya.

Amerika mengaku telah mengirim pasukan khusus, dalam jumlah kecil, beberapa minggu terakhir.

Hal yang sama juga telah dilakukan sejumlah negara NATO lainnya.

Namun, tentara Libya di Abugrein menegaskan, mereka tidak ingin melihat tentara barat berada di daratan di Libya.

“Kami, orang Libya, yang akan bertarung. Kami tak butuh tentara asing,” ungkap sejumlah tentara.

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>