Published On: Tue, Aug 29th, 2017

Popularitas Anjlok, Macron Mengubah Gaya Kepresidenan

Share This
Tags

Presiden Perancis, Emmanuel Macron, dilaporkan memutuskan untuk mengubah gaya kepresidenannya setelah anjloknya popularitasnya ke tingkat terendah.

Ketika baru menjabat, Macron menampilkan citra yang angkuh dan dingin sebagai “Jupiter in chief” di mana dia hanya akan berbicara seperlunya dan lebih memilih menggunakan bahasa simbol atau tubuh.

Macron juga menjadi sasaran kritik karena dia membatasi interaksi dengan wartawan dan meminta menteri-menterinya untuk tidak perlu berbicara banyak ke kuli tinta.

Namun semua itu berakhir dalam hitungan tiga bulan. Tiba-tiba saja Macron mengumumkan bahwa dia akan berbicara rutin ke publik minimum dua kali sebulan.

Salah satu media yang dipilih adalah menggunakan radio. Presiden termuda Perancis itu juga meminta menteri-menteri, anggota parlemen dari partainya untuk berbicara seramah mungkin ke media terutama menjelaskan program dan capaian pemerintah.

Macron baru saja menggelar wawancara panjang dengan tiga harian terkemuka Perancis, Le Monde, L’Obs dan Ouest-France ketika dia menggelar kunjungan ke Eropa Timur.

Ini merupakan wawancara off the record pertama dengan media sejak dia dilantik. Dia juga dilaporkan akan lebih sering menggelar wawancara bergaya ini ke media cetak.

Perubahan sikap Macron menjadi bahan olok-olokan.

Politisi berusia 39 itu disebut telah menjilat ludahnya sendiri karena ketika berkampanye dia menyindir pendahulu dan mentor politiknya mantan presiden Francois Hollande yang menurutnya terlalu dekat dan ramah dengan wartawan.

“Ketika anda seorang presiden, sebaiknya tidak terlalu banyak meluangkan waktu dengan wartawan” sindir Macron ketika itu.

Hollande sendiri akhir pekan lalu untuk pertama kalinya melancarkan kritik ke Macron terutama mengenai rencana reformasi buruh yang akan digulirkan bulan depan.

Penasehat Istana Elysee membantah perubahan gaya ini disebabkan karena merosotnya popularitas Macron.

“Presiden beradaptasi dengan agenda reformis yang telah dicanangkannya untuk Perancis, dan diperlukan banyak penjelasan untuk menjelaskannya supaya warga Perancis dapat memahami agenda-agenda tersebut” bunyi pernyataan Istana Elysee.

Macron telah melihat popularitasnya turun 22 poin sejak polling Ifop pertama yang dirilis ketika dia dilantik.

Dia menikmati peringkat 62 persen, sesaat setelah kemenangannya pada pemilihan 7 Mei lalu. Tingkat popularitas tinggal menjadi 40 persen menurut polling terbaru Ifop.

Pada rentang yang sama di tahun 2012, Francois Hollande memiliki peringkat popularitas jauh lebih tinggi dari 54 persen, sementara Nicolas Sarkozy 67 persen lebih tinggi di tahun 2007.

Macron telah mendapat kecaman karena gaya monarki di kantornya dan upaya untuk mengurangi belanja publik.

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

- BALAGU.COM