Published On: Wed, Mar 15th, 2017

Posisi Diuntungkan, Assagaff Jadi Rebutan

Share This
Tags

Gubernur Maluku, Said Assagaff berada dalam posisi diuntungkan menje­lang perhelatan Pilkada tahun 2018.

Tingkat popularitas, ak­sep­tabilitas dan elektabilitas masyarakat terhadap Assa­gaff diprediksi masih tinggi. Tak hanya itu, Assagaff juga saat ini memimpin DPD Partai Golkar Maluku yang memiliki enam kursi di DPRD Maluku.

Partai Golkar di era kepe­mimpinan Assagaff, juga ber­hasil memenangkan pil­kada di Kabupaten SBT, Kota Ambon, Kabupaten Bu­ru. Tiga daerah ini diprediksi bakal menjadi pundi-pundi penyumbang suara bagi Assagaff di pilkada.

Selain Golkar, tersiar kabar PKS, PPP dan PAN yang mendukungnya pada pilkada 2013 lalu, juga masih setia untuk meng­usungnya di tahun depan.

Posisi menguntungkan sebagai petahana tersebut, membuat banyak kandidat yang berupaya mendekat  guna menjadi wakil gubernur mendam­pingi Assagaff.

Kabarnya juga Assagaff telah mengantongi 16 bakal calon wagub yang akan mendampinginya. Dian­tara deretan kandidat, terdapat nama Andre Rentanubun (Bupati Malra), Edwin A Huwae (Ketua DPRD Maluku/Ketua DPD PDIP Maluku) dan Hendrik Lewerissa (Ketua DPD Partai Gerindra Maluku).

Para kandidat yang berebut men­dampingi Assagaff, juga bukan se­ke­dar datang tanpa modal. Ada yang datang dengan modal kemam­puan manajerial sebagai kepala daerah di tingkat kabupaten selama dua periode serta ada juga yang datang dalam kapasitas sebagai pimpinan parpol di tingkat provinsi yang memiliki jumlah kursi yang signifikan di DPRD Maluku.

Rentanubun misalnya masuk da­lam bursa figur yang ingin men­dampingi Assagaff. Pengalaman manajerial Rentanubun selama dua periode menjadi Bupati Malra mem­buatnya patut diperhitungkan.

Dibawah kepemimpinannya, Mal­ra berhasil meraih sejumlah peng­hargaan diantaranya opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) terha­dap Laporan Keuangan Pemkab Malra tahun 2015.

Ada juga penghargaan Dana Rakca Tahun 2016 yang diserahkan oleh Presiden Joko Widodo tersebut kepada 7 Provinsi dan 28 kabupaten/kota di Indonesia. Kabupaten Malra memperolehnya, karena termasuk salah satu dari daerah yang dinilai berkinerja baik oleh Kementerian Keuangan atas pengelolaan dan la­po­ran keuangannya. Di era kepe­mimpinan Rentanubun, juga digelar Festival Pesona Meti Kei yang me­ngangkat potensi wisata di kabu­paten tersebut.

Selain itu, ada juga penghargaan Anugerah Pesona Indonesia 2016 kategori Surga Tersembunyi Terpo­puler dari Kementerian Pariwisata. Kabupaten Malra yang dipimpin Rentanubun bahkan mampu menga­lahkan Kepulauan Mandeh, Kabu­pa­ten Pesisir Selatan-Sumatera Barat dan Pulau Maratua – Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Kabarnya, Rentanubun berpe­luang karena Assagaff sementara mencari figur pendamping pada pilkada yang bisa mendongkrak per­olehan suara dari wilayah Tenggara Raya yang meliputi Kota Tual, Ka­bupaten Malra, Kepulauan Aru, MTB dan MBD. Salah satu figur yang memenuhi target tersebut ada­lah Rentanubun.

Kendati memiliki kelebihan penga­laman di bidang manajerial, namun Rentanubun bukan berasal dari ka­langan politisi yang memiliki kenda­raan politik guna memuluskan lang­kah sebagai peserta pilkada.

Posisi ini justru dimiliki oleh dua figur lainnya yaitu Edwin A Huwae (Ketua DPRD Maluku/Ketua DPD PDIP Maluku) dan Hendrik Lewe­rissa (Ketua DPD Partai Gerindra Maluku).

Secara kalkulasi politik, posisi Hu­wae berada di posisi menguntung­kan karena saat ini menjadi Ketua DPRD Maluku sekaligus Ketua DPD PDIP Maluku. Berdasarkan perole­han suara hasil Pemilu Legislatif 2014, PDIP memiliki 7 kursi di DPRD Maluku. Modal mayoritas kursi di DPRD ini, jika nantinya Huwae menjadi pasangan Assagaff yang sudah pasti direkomendasikan Gol­kar yang memiliki 6 kursi, maka keduanya sudah melangkah sebagai peserta pilkada.

Sesuai aturan pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku harus diusung oleh parpol atau gabungan parpol yang memiliki 9 kursi di DPRD Maluku.

Berdasarkan perolehan suara hasil Pemilu Legislatif 2014, PDIP memiliki 7 kursi di DPRD Maluku, disusul Golkar, Demokrat dan PKS masing-masing 6 kursi. Gerindra walaupun per­olehan suaranya berada dibawah NasDem namun berhasil meraih 5 kursi sedangkan NasDem 4 kursi. Begitu juga dengan Hanura, walau­pun suaranya dibawah PKB namun berhasil meraih 4 kursi sementara PKB hanya 3 kursi. PKP Indonesia pada periode ini berhasil menem­patkan 2 wakilnya di DPRD Maluku. Sementara PAN dan PPP masing-masing 1 kursi.

Dengan posisi perolehan kursi dimaksud, Hendrik Lewerissa (Ke­tua DPD Partai Gerindra Maluku) juga memiliki peluang untuk men­dam­pingi Assagaff. Lima kursi Ge­rindra juga berkoalisi dengan Golkar yang memiliki 6 kursi sudah cukup untuk membuat keduanya menjadi peserta pilkada. Apalagi Lewerissa pernah nyalon sebagai Wakil Guber­nur Maluku pada Pilkada tahun 2013 mendampingi Abdullah Tuasikal, namun kalah dari Assagaff-Sahu­burua.

Assagaff tentunya akan berhitung soal dukungan parpol yang dimiliki Huwae maupun Lewerissa. Huwae kendati belum pernah maju sebagai calkada, namun kendaraan PDIP yang dimilikinya dikenal bekerja sangat militan pada pilkada 2013 lalu. Bahkan pasangan calkada yang di­usung PDIP saat ini tanpa berkoalisi dengan parpol lain menang di enam kabupaten dan kota walaupun ak­hirnya secara akumulasi suara ha­nya berada di posisi ketiga putaran pertama.

Kemungkinan

Assagaff sendiri di beberapa ke­sempatan terlihat selalu bersama Ren­tanubun. Bahkan sejumlah sti­ker hingga baliho keduanya terpa­sang di sejumlah kawasan di hampir seluruh kota di Maluku,

Terakhir keduanya terlihat meng­hadiri pembukaan sidang klasis GPM Pulau-pulau Lease yang ber­langsung di Negeri Haria Kecamatan Saparua Kabupaten Malteng Mi­nggu (12/3).

Assagaff saat dikonfirmasi warta­wan usai pelaksanaan pembukaan si­dang klasis mengaku, segala ke­mu­ngkinan bisa saja terjadi tergantung proses yang didalam partai politik.

“Semua berproses dipartai politik, saya juga sudah katakan ke pak Andre Rentanubun untuk melaku­kan proses. Karena saya harus pa­tuh terhadap DPP Golkar, sehingga masih mem­butuhkan langkah-lang­kah untuk merealisasikanya,” ung­kapnya.

Gubernur menambahkan, dirinya juga harus melihat masukan dari masyarakat Maluku terkait calon yang bakal digandengnya untuk maju di Pilgub nanti.

“Saya belum bisa membenarkan hal tersebut, karena dalam hal ini mas­yarakat juga pasti punya masukan-masukan yang bakal jadi pertimba­ngan buat saya, intinya kita liat nanti, masih banyak kemungkinan yang akan terjadi kedepan,”tandasnya.

Komunikasi

Sementara itu, Rentanubun yang dikonfirmasi Siwalima Selasa (14/3) mengaku, dirinya dan Assagaff kerap menjalin komunikasi dan proses ke arah berpasangan sementara jalan.

Menurutnya, baik dirinya maupun Assagaff saat ini sudah mulai ber­proses menuju Pilkada Maluku. “Iya memang saat ini, saya dan beliau sudah mulai berproses,” ujarnya.

Keseriusan Assagaff dan Renta­nubun berpasangan di Pilkada Gubernur 2018 dibuktikan dengan bermunculan stiker, spanduk dan baliho keduanya di sejumlah tempat.

Menurut Rentanubun, spanduk maupun baliho yang dipasang itu merupakan buah kerja relawan keduanya. “Kalau menyangkut stiker, spanduk dan baliho itu kerjanya relawan. Jadi saya dan Pak Assagaff punya relawan yang juga sementara berproses di lapangan memperkenalkan kita kepada publik Maluku,” kata Rentanubun.

Kendati begitu, disinggung soal partai yang akan mengusung kedua­nya, Rentanubun menandaskan penentuan ada pada hasil survei.

“Sekarang terlalu dini bicarakan soal partai, karena nanti ada survei. Survei yang menentukan kita diusung oleh partai apa. Jadi kalau bicara itu bagi saya masih terlalu dini,” tukas Rentanubun.

Tahapan pilkada Maluku baru akan berlangsung mulai Maret 2018 dan berujung pada pencoblosan Juni 2018. Proses politik tentu akan berlangsung dengan penuh dina­mika setahun kedepan. (Siwalima)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>