Published On: Mon, Jun 5th, 2017

Remon Puttileihalat Bakal Masuk DPO

Share This
Tags

Sikap keras kepala Paulus Samuel Putti­leihalat alias Remon membuat gerah Pe­nyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Dinas Kehutanan Maluku.

Dua kali dipanggil PPNS Dishut, tersang­ka kasus penyerobotan hutan produksi dan ka­wasan konservasi tahun 2013 di Kecamatan Sawai, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) itu, mangkir tanpa alasan.

Buntut dari sikap bandel itu, Dishut ba­kal memasukan bekas Plt Kepala Dinas PU SBB ini dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Bekas kakak kandung Bupati SBB dua periode Jacobus Puttileihalat itu akan masuk DPO, jika pada panggilan ketiga, tetap mangkir.

Kepala Dinas Kehutanan Pro­­vinsi Maluku, Sadli Ie menya­takan, pihaknya telah melayangkan surat panggilan ketiga kepada Remon pada 31 Mei lalu.

“Nasib” Remon ditentukan Senin (5/6) mendatang, jika tetap ju­ga mangkir, Remon masuk DPO dan ditangkap.  

“Batas waktunya sampai Se­nin pekan depan. Jika Remon tidak hadir juga, PPNS akan berkoor­di­nasi dengan kepolisian untuk mene­tapkan Remon sebagai DPO,” kata Sadli kepada Kabar Timur di kantor DPRD Provinsi Maluku, Karang Panjang, Ambon, Jumat (2/6).

Jika sudah ditetapkan sebagai DPO, PPNS Dishut dan pihak ke­po­lisian akan bertindak tegas de­ngan melakukan penangkapan ter­­hadap mantan calon Bupati SBB itu. “Jadi kalau sudah ditetapkan sebagai DPO, langkah selanjutnya ditangkap oleh polisi,” tegas dia.

Dua kali dilayangka surat pang­gilan, Remon tidak berada di rumah­nya. Diduga Remon sengaja meng­hilang untuk menghindari pang­gilan PPNS Dishut Maluku. “Kita sudah layangkan panggilan per­tama, kedua dan ketiga ini semua surat panggilan ini diterima pihak keluarganya dan RT setempat di SBB. Jadi kita tidak tahu saat ini dia ada dimana. Yang pasti surat panggilannya sudah diterima pihak keluarga,” tuturnya.

Sadli mengimbau agar Remon koopertif menjalani proses hukum dengan memenuhi panggilan PPNS jika tidak ingin ditangkap. “Kita tunggu saja hari Senin. Yang pasti hari ini dia (Remon) belum penuhi panggilan ketiga dari penyidik,” tandasnya.

Alasan dilayangkannya pang­gi­lan ketiga terhadap Remon mes­ki sudah dua kali mangkir, Sadli me­ngatakan jika pihaknya masih memberi kesempatan kepada Re­mon untuk kooperatif.

“Kita kasih dia kesempatan un­tuk datang, makanya kita la­yangkan pang­gilan ketiga. Jika Senin masih tidak hadir juga, kita tempuh lang­kah-langkah selanjutnya ber­koor­dinasi dengan kepolisian un­tuk tetapkan dia sebagai DPO,” tegasnya.

Sebelumnya, surat panggilan pertama telah dilayangkan PPNS Dishut Maluku kepada Remon pada 19 Mei lalu. Mangkir pada panggilan pertama, surat panggilan kedua dilayangkan pada 26 Mei lagi. Lagi-lagi sampai tenggat wak­tu tiga hari, Remon tak kunjung nam­pakkan batang hidungnya me­me­­nuhi panggilan kedua.

Surat panggilan terhadap Re­mon dilayangkan menyusul BAP per­kara penyerobotan hutan itu te­lah dinyatakan lengkap atau P21 oleh Jaksa Penuntut Umum Ke­jak­saan Tinggi Maluku pada 18 Mei lalu. Setelah BAP lengkap di­lan­jutkan proses tahap II yakni, penye­rahan barang bukti dan tersangka dari PPNS Dishut ke JPU.

Kasus yang menyeret Remon sebagai tersangka tunggal ini ber­awal saat personil Dishut bersama Dit­res­krimsus Polda Maluku me­la­kukan operasi gabungan menin­daklanjuti pembukaan ruas jalan di kawasan Ariate-Waisala, Kabu­paten SBB tahun anggaran 2013.

Tim menemukan penyerobotan hutan produksi dan kawasan kon­ser­vasi di Gunung Sahuwai tanpa izin dari Menteri Kehutanan untuk proyek yang dikerjakan PT Karya Ruata.

Remon dijerat dengan pasal berlapis, yakni pasal 50 ayat (3) huruf a dan j, pasal 78 ayat (2) dan ayat (9) serta ayat (15) UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehu­ta­nan, Jo UU Nomor 18 Tahun 2013 ten­tang Pencegahan dan Pem­be­­rantasan Perusakan Hutan. An­caman hukuman 10 tahun penjara dan denda maksimal Rp 5 miliar. (Kabartimur)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>