Published On: Mon, Nov 13th, 2017

Transaksi Repo Rp 238 Miliar, OJK Terlibat?

Share This
Tags

Kehadiran saksi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Kejati Maluku untuk penyidikan perkara dugaan korupsi Rp 238 miliar Bank Maluku jadi teka teki. Ada dua analisis yang timbul dari pemeriksaan itu.

Sebagai institusi yang berwenang melakukan pengawasan di dunia perbankan, OJK ikut bertanggungjawab atas setiap kebijakan yang dinilai strategis dari pihak bank. Jika terjadi kesalahan pengambilan keputusan maka OJK ‘sangat’ berkompeten untuk diperiksa.

Pengamat korupsi Yusri M Jusuf mengatakan, kehadiran saksi OJK dalam penyidikan perkara dugaan korupsi Bank Maluku ini, patut dicermati. Menurut dia, keterkaitan OJK dengan kasus-kasus yang terjadi di dunia perbankan, adalah ranah pidana umum. Seperti kasus-kasus penipuan, kredit macet, penggelapan dana bank dan sebagainya.

“Tapi kalau korupsi, itu bukan ranah OJK. Itu ranah kejaksaan. Kalau OJK diperiksa, diambil keterangan oleh jaksa, itu sesuatu yang menarik, bangat,” ujar Yusri dihubungi Kabar Timur, via ponsel, Minggu, kemarin.

Seperti diketahui, kata Yusri, PT Bank Maluku-Malut diberitakan mengeluarkan kebijakan yang keliru. Terkait transaksi surat-surat berharga. Bank tersebut mengambil mitra fiktif di pasar bursa efek, yakni PT Andalan Artha Adversindo (AAA) Sekuritas.

Menurut Yusri, OJK seharusnya mengetahui langkah strategis Direksi PT Bank Maluku-Malut ketika itu. Sesuai SOP di setiap bank, baik swasta maupun milik pemerintah harus terlibat.

Tapi ternyata, keputusan yang diambil direksi bank pelat merah itu keliru. Seolah OJK tidak memberikan informasi yang valid soal PT AAA sekuritas pimpinan Andri Rukminto tersebut.

Menurut dia, sebagai lembaga pengawas dunia perbankan, OJK mempunyai kewenangan melakukan investigasi terhadap PT AAA Sekuritas. Tapi buntutnya, Bank Maluku mengambil pialang saham yang telah diblacklist itu sebagai mitra bisnis gelapnya.

“Yang ditakutkan, OJK-nya masuk angin, gitu lho. Meloloskan transaksi itu, karena ada iming-iming fulus yang gede,” kata Yusri menduga.

Analisis Yusri yang kedua, terkait pemeriksaan investigator OJK, kata dia, bisa saja yang bersangkutan diambil sebagai saksi ahli. Karena tupoksi OJK adalah memastikan kalau transaksi yang dilakukan PT Bank Maluku-Malut dengan PT AAA sekuritas sudah diingatkan oleh lembaga tersebut, agar tidak dilakukan.

“Nah, seperti apa hasil investigasi dan informasi yang disampaikan ke Bank Maluku waktu itu, ini yang ingin dipastikan oleh jaksa,” kata Yusri.

Sebelumnya, salah satu investigator eksekutiv OJK Pusat diperiksa tim penyidikan perkara Reverse Repo Bank Maluku. Investigator OJK berinisial NH ini diperiksa intensif di kantor Kejati Maluku, Kamis (9/11) pekan kemarin.

Kasipenkum Kejati Maluku Samy Sapulette ketika dihubungi, enggan menjelaskan soal kaitan pemeriksaan saksi OJK ini. Dia beralasan, relevansi atau hubungan hukum saksi tersebut dengan perkara ini, hanya tim jaksa penyidik yang tahu.

Sekadar tahu saja, OJK merupakan lembaga yang mengawasi akitvitas dunia perbankan. Sehingga hanya menangani kasus-kasus pelanggaran pidana di dunia perbankan.

Sementara lembaga Kejaksaan dalam penyidikan perkara ini melihat dari sisi dugaan tindak pidana korupsi (tipikor) transaksi Reverse Repo yang diduga fiktif, antara PT Bank Maluku-Malut dan PT Andalan Artha Adversindo (AAA) Sekuritas.

Dari catatan Kabar Timur, sehubungan kasus transaksi surat-surat berharga antara PT Bank Maluku-Malut dan PT AAA Sekuritas, ada dua laporan yang disampaikan ke institusi penegak hukum.
Yang pertama, dugaan penipuan dana perbankan milik PT Bank Maluku-Malut. Dilaporkan oleh Gubernur Maluku Said Assagaff ke Bareskrim Mabes Polri tahun 2013 lalu, terhadap Direktur PT AAA Sekuritas Andri Rukminto.

Laporan Gubernur Maluku itu berdasarkan temuan OJK soal transaksi surat berharga yang dilakukan Bank Maluku dengan pialang saham tersebut.

Sedang, laporan kedua ke Kejaksaan, yakni dugaan korupsi Reverse Repo senilai Rp 238 miliar Bank Maluku. Siapa pelapornya, masih misterius.

Kasipenkum Kejati Samy Sapulette mengaku, tidak tahu menahu identitas pelapor. “Kalau ke Bareskrim seperti diketahui bersama, katanya oleh Gubernur. Sedang untuk laporan dugaan korupsinya ke Kejati, itu yang saya tidak tahu oleh siapa,” timpal Samy.

Catatan Kabar Timur, Kejati Maluku pertama mengendus perkara ini ketika menerima laporan hasil pemeriksaan rutin tahun 2014. Yakni adanya transaksi Reverse Repo atau surat-surat berharga senilai Rp 262 miliar di Bank Maluku.

Di lain pihak, OJK menemukan transaksi pembelian Reverse Repo Surat Berharga sebesar Rp 146 milyar dan U$D 1250 di Bank tersebut. Kedua transaksi, dilakukan antara Bank Maluku-Malut dengan PT AAA Sekuritas. (Kabartimur)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

BALAGU.COM - Berita Informasi Maluku