Published On: Fri, Jul 1st, 2016

Es Pisang Ijo Tante Ija dan Nuansa Ramadan

Share This
Tags

SETIAP bulan Ramadan, saya teringat masa kecil di kota kelahiran, Masohi, Kabupaten Maluku Tengah. Masa-masa yang mengasyikan dan penuh makna. Ahmad, Ucheng, Idrus, Muna, Nurbaya adalah teman-teman yang sudah menjadi bagian dari kehidupan masa kecil di antara Ony, Cello, Nus, John, Pieter, Ona, dan lain-lain. Bulan Ramadan, adalah waktu yang selalu dinanti-nantikan. Saat Ramadan tiba, sekolah-sekolah diliburkan. Di sini, banyak kesempatan untuk bermain, mulai dari mutel (kelereng) sampai gawang mini. Selain itu, di bulan Ramadan, waktu yang juga kami nantikan adalah saat sahur dan buka puasa. Sahur, sekalipun dini hari, menjadi kebiasaan kami untuk membangunkan mereka yang berpuasa, juga warga lainnya. Berbekal kaleng yang diisi dengan batu-batu kerikil, kami berkeliling di sekitar pemukiman sambil meneriakan, “Sahur… sahur”. Aktifitas ini tak pernah dilarang oleh orang tua kami, sebab mereka pun tidak merasa terganggu dengan suara kami. Setelah sahur, kami kembali tidur sambil menanti fajar, untuk melanjutkan aktifitas kami sebagai anak-anak, bermain. Seharian kami menikmati permainan, dengan tetap menghormati teman-teman yang berpuasa. Tidak ada rasa benci, tidak ada yang saling mengejek. Kalau kami makan, itu pun dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Tibalah waktu yang dinantikan, buka puasa. Keletihan, dahaga, rasa lapar seakan sirna ketika menikmati semangkuk es pisang ijo buatan Tante Ijah (ibunya Nurbaya, […]

Read More: Es Pisang Ijo Tante Ija dan Nuansa Ramadan

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>