Published On: Fri, Jan 15th, 2016

Urun Rembug Untuk Blok Masela

Share This
Tags

tambang-migasMengikuti perkembangan terbaru Blok Masela, termasuk pro-kontra Pembangunan Kilang Gas apakah on-shore (didaratan) atau off-shore (dilaut), saya sebagai salah satu putra MBD di perantauan merasa berkewajiban ikut urun-rembug.

Setidaknya untuk sharing pendapat agar para pengambil keputusan juga “mau” tergugah mempertimbangkan secara seksama dampak baik maupun buruk dari pilihan keputusan yang akan ditetapkan.

Pada dasarnya pilihan apakah on-shore (didaratan) atau off-shore (dilaut) sama-sama akan memberi dampak positif baik bagi pembangunan daerah dan wilayah maupun bagi perekonomian masyarakat MBD, MTB, dan Provinsi Maluku, serta Republik Indonesia secara keseluruhan.

Tetapi untuk bisa menetapkan pilihan manakah dari kedua itu yang lebih tepat, dalam pengertian bahwa dampak negatifnya bagi hidup dan kehidupan masyarakat setempat harus ditekan se-minimal mungkin. Sejarah sudah membuktikan, di ujung bumi manapun, setiap proyek yang dibangun, besar atau kecil, selalu membawa dampak bagi masyarakat lokal yang berdiam disekitar lokasi proyek.

Dalam hal ini, dampak positif sudah tentu merupakan tujuan utama proyek dibangun sehingga terkait Kilang Gas LNG Blok Masela, Pemerintah sudah tentu memperhitungkan manfaat hadirnya proyek tersebut bagi semua pihak terkait terutama bagi masyarakat lokal disekitar lokasi proyek.

Maka dampak positif tidak perlu lagi dipaparkan disini, sebaliknya justru dampak negatif dari kehadiran proyek tersebut menjadi sorotan karena “Membangun adalah untuk mensejahterakan” dan tidak justru meninggalkan Bom waktu yang bisa meledak dikemudian hari.

Membaca, mendengar, dan merenungkan tuntutan tertulis yang disampaikan GEMA MBD kepada Pemerintah cq. Presiden Republik Indonesia, saya sebagai orang yang pernah muda, dan yang sering memotori pergerakan pemuda selama berdiam di kota Ambon dulu (1972 – 1980), saya dapat memahami dengan baik gejolak jiwa para pemuda yang tergabung dalam GEMA MBD.

Akan tetapi berdasarkan sejarah pembangunan bangsa-bangsa melalui proyek-proyek raksasa yang dihadirkan guna mendorong kemajuan perekonomian menuju kesejahteraan rakyat, dan pengalaman saya sendiri yang sudah ikut terlibat dalam proyek-proyek sejenis.

Saya ingin mengajak para pemuda/i MBD dan MTB agar mau berpikir dengan lebih tenang, dan merenungkan secara mendalam inti daripada tuntutan tertulis yang sudah disampaikan kepada Pemerintah tanggal 9 Januari 2016 lalu.

Di lokasi manapun proyek Kilang LNG itu dibangun, sepanjang masih dalam wilayah Republik Indonesia, pengalaman membuktikan bahwa dampak positif yang memang menjadi sasaran utama adanya proyek tersebut sudah pasti akan dicapai, segera ataupun secara bertahap. Tetapi bagaimana dengan dampak negatifnya?

Kita juga tahu, setiap proyek harus mengajukan AMDAL kepada instansi Pemerintah yang berwewenang untuk dikaji sebelum proyek bisa disetujui. Selain itu Pemerintah juga masih mewajibkan perusahaan pengelola proyek untuk memprogramkan adanya CSR – Corporate Social Responsibility. Tetapi tetap saja semua itu tidak pernah bisa secara total menghapus dampak negatif dari sebuah proyek.

Atas dasar itulah lewat tulisan ini saya meminta saudara-saudaraku, adik-adikku yang tergabung dalam GEMA MBD agar bisa ikut memikirkan dampak negatif yang mungkin bisa menimpa masyarakat MBD dan MTB apabila proyek tersebut dibangun didaratan, menurut analisa saya :

  1. Untuk membangun sebuah proyek kilang Gas LNG dibutuhkan lahan yang cukup luas, tidak hanya untuk lokasi pabrik tetapi juga untuk zona penyanggah, lokasi perumahan karyawan, lokasi perkantoran, lahan terbuka penumpukan material, dan lain-lain.
  2. Jumlah karyawan yang dibutuhkan untuk bisa mengoperasikan sebuah pabrik pemrosesan LNG tentu tergantung pada seberapa besar kapasitas produksi pabrik tsb.  Tetapi sebagai perbandingan, Kilang LNG PT Badak NGL Co., di Bontang, Kalimantan Timur, yang mengoperasikan  6 train saat ini, memiliki karyawan staff dan non staff sejumlah tidak kurang dari 7,000 orang.  Bisa dibayangkan seberapa luas tanah yang dibutuhkan untuk perumahan (mengingat semua karyawan nanti adalah pendatang dari luar MBD & MTB).
  3. Jumlah pencari kerja dari luar daerah yang akan membanjiri wilayah sekitar lokasi pabrik LNG akan sangat besar sementara orang MBD sendiri, dari sisi kualitas sumber daya manusia, belum dipersiapkan.
  4. Jumlah pengusaha yang datang dan menetap disekitar lokasi pabrik juga akan meningkat drastis, kebutuhan lahan akan meningkat mendorong harga tanah/lahan meningkat drastis.
  5. Lahan pertanian rakyat local akan tersedot untuk pembangunan pabrik dan fasilitas pendukungnya.
  6. Jumlah tenaga kerja local yang terserap belum tentu bisa mencapai 30% dari lowongan kerja rendahan yang ada (orang MBD dan MTB tidak ada yang ahli dalam pengelolaan Kilang LNG).
  7. Interaksi intensif antara penduduk local dan pendatang (karyawan & non-karyawan) akan sangat berdampak pada kehidupan dan interaksi sosial yang terbangun, termasuk pengaruh budaya, tradisi, dan adat-istiadat bahkan kehidupan keagamaan akan ikut dipengaruhi oleh interaksi antar manusia disekitar kawasan Kilang LNG.

Semua itu akan menimbulkan dampak negative yang terakumulasi seiring waktu, dan pada saatnya bisa meledak memporak-porandakan hidup dan kehidupan masyarakat local dikawasan sekitar Pabrik Pengolahan LNG tsb.

Semua yang saya kemukakan diatas menjadi keprihatinan saya sebagai putra asli MBD yang peduli pada tradisi, budaya, dan adat istiadat MBD serta hidup dan kehidupan masyarakat MBD yang sejak dulu sering dilanda kekeringan (kemarau panjang) yang berakibat krisis pangan.

Dengan paparan diatas, saya berpendapat bahwa pilihan untuk membangun Kilang LNG dilaut akan memberi dampak positif yang lebih bagi pembangunan wilayah/daerah/Negara dan juga bagi masyarakat lokal dibandingkan kalau Kilang tersebut harus dibangun didaratan pulau Babar, ataupun pulau Selaru di MTB.

Kemakmuran dan Kesejahteraan hidup sebuah kelompok masyarakat “tidak semata-mata” bergantung pada meningkatnya pendapatan per-kapita masyarakatnya tetapi juga bergantung pada ketenangan, ketenteraman, dan kenyamanan hidup persaudaraan, kekerabatan, dan kekeluargaan didalam kelompok masyarakat yang bersangkutan.

Sebuah catatan bahwa penempatan lokasi Pabrik LNG dilaut tidak berarti harus sejauh-jauhnya dari pulau berpenghuni tetapi pada posisi sebatas adanya ruang antara sebagai daerah penyangga untuk menghindarkan warga local dari kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja di Pabrik yang bisa menyebabkan ledakan dan kebakaran hebat.

Lokasi itu juga harus memperhitungkan kemudahan evakuasi karyawan pada saat terjadi musibah sebagaimana saya sebutkan. Maka, sebuah lokasi Off-Shore dengan jarak 2 – 3 mil laut dari daratan pulau terdekat adalah lokasi yang bisa dianggap tepat dijadikan lokasi Pabrik LNG Blok Masela tersebut.

Demikian opini saya sampaikan sebagai sebuah wacana penggugah bagi saudaraku, adik-adikku, Pemuda dan Mahasiswa MBD dan MTB agar bisa merenungkan kembali apa yang dituntut kepada Pemerintah Pusat cq. Presiden RI di Jakarta.

Saya juga terbuka untuk berbagi informasi, bertukar pendapat, dan berdiskusi dengan siapa saja yang merasa ikut peduli dengan situasi dan kondisi wilayah serta masyarakat MBD dan MTB yang akan menempati garis depan, menanggung semua dampak negative dari adanya Pabrik LNG tersebut.

Harapan saya, semoga Bpk Menteri Koordinator Kemaritiman bisa mempertimbangkan dampak-dampak negatif yang saya kemukakan dan tidak semata-mata melihat dampak positif yang (bagi saya) akan lebih sebagai sebuah “Isapan Jempol” alias “Angin Surga” bagi Pemuda dan Mahasiswa MBD dan MTB, serta Maluku secara keseluruhan.

Semoga pilihan lokasi Pabrik LNG Blok Masela akan ditetapkan oleh Presiden secara arif dan bijaksana demi kepentingan masa depan bangsa, Negara, dan anak-cucu MBD & MTB

…………………………… K AL W E D O O O ………………………………… !!!!!!!!

Oleh  :  KPTh. Jacobus
(Ekonom & Praktisi Pertambangan) Tribun maluku

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>