Published On: Mon, Aug 8th, 2016

WNI Kembali Disandera, Pemerintah Didesak Segera Lakukan Patroli Tiga Negara

0908202P-20160625-085903-1780x390Anggota Komisi I Charles Honoris menyayangkan masih belum ada realisasi terkait rencana pemerintah melakukan patroli bersama (intelligence sharing) dengan Malaysia dan Filipina guna mengamankan titik-titik rawan di kawasan perompakan dan pembajakan.

Hal tersebut menyusul bertambahnya warga negara Indonesia yang kembali menjadi korban penculikan di wilayah Sabah, Malaysia.

Charles pun mendesak agar pemerintah segera merealisasikan rencana patroli tiga negara.

“Hal ini untuk mejaminan keamanan di kawasan terhadap ancaman terorisme, perompakan dan perampokan bersenjata,” ujar Charles melalui keterangan tertulis, Minggu (7/8/2016).

“Pola-pola lain seperti model eyes in the sky (kerja sama Indonesia, Malaysia dan Singapura) di Selat Malaka yang berhasil menekan angka perompakan dalam beberapa tahun terakhir juga bisa ditiru,” sambung dia.

Charles menambahkan, pemerintah juga harus terus mendorong Filipina untuk memberikan upaya lebih keras dalam mencegah dan menangani kasus-kasus penyanderaan di wilayahnya.

Terlebih, kata dia, Filipina telah 20 tahun lebih meratifikasi International Convention Against The Taking of Hostages.

Dalam beberapa tahun terakhir, lanjut Charles, tercatat ada hingga ratusan penculikan dan penyanderaan dilakukan oleh kelompok kriminal yang berbasis di Filipina Selatan. Sudah 48 hari para keluarga WNI yang disandera menunggu kepulangan sanak saudaranya dengan penuh kecemasan.

Charles menuturkan, teror melalui SMS dan telepon ke pihak keluarga pun terus berdatangan dari pihak penyandera.

“Publik tentunya berharap tidak ada lagi keluarga-keluarga lainnya yang harus mengalami musibah seperti keluarga 10 WNI yang disandera Abu Sayyaf. Kasus-kasus penyanderaan WNI harus segera berhenti,” ujar politisi PDI Perjuangan tersebut.

Seorang warga negara Indonesia menjadi korban diculik di wilayah Kinabatangan, Sabah, Malaysia, berdekatan dengan wilayah perbatasan laut Filipina. Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu (3/8/2016) lalu.

“Kita sudah tahu sejak tanggal 4 (Agustus),” ujar Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia, Lalu Muhammad Iqbal saat dikonfirmasi Kompas.com.

WNI yang diculik itu bernama Herman bin Manggak. Ia adalah kapten kapal nelayan penangkap udang Malaysia.

Selain Herman, ada dua anak buah kapalnya (ABK) yang turut diculik. Namun, kedua ABK yang diketahui merupakan WNI dan WN Malaysia itu dikabarkan telah dilepaskan. Saat ini, keduanya sudah berada di wilayah Sandakan, Malaysia.

“Kami sedang koordinasi dengan otoritas setempat,” kata Iqbal.

Pada akhir Juni 2016, tujuh WNI asal Samarinda, Kalimantan Timur, disandera oleh kelompok Abu Sayyaf di perairan Filipina. Hingga kini, ketujuh ABK Tug Boat Charles itu belum dibebaskan. Penyandera meminta uang tebusan sebagai ganti pembebasan sandera.

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>