Published On: Sun, Mar 10th, 2019

Diperiksa Sebagai Tersangka, Edison Betaubun Tak Datang

Share This
Tags

Calon anggota   DPR RI  asal Maluku dari Partai Golkar, Edison Betaubun,  telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pelanggaran pemilu oleh Sentra Penegakkan Hukum Terpadu (Gakkumdu) Maluku. 

Dan Jumat, 8 Maret 2019, kemarin Politisi Partai Golkar ini harusnya menjalani pemeriksaan pertama kali pasca  ditetapkan sebagai tersangka.

Namun, Edison Batubun, mangkir dari panggilan Subdit I Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Maluku.

Ini merupakan kedua kalinya Edison Betaubun mangkir.  Pertama saat masih menjadi saksi dan kini sebagai tersangka. 

Terkait ketida khadiran Edison Betaubun, Dirrekrimum Kombespol, Antonius Wantri Yulianto, yang dikonfirmasi Rakyat Maluku, membenarkan Betaubun mangkir dari periksa. 

“Iya (tak hadir) ketika hendak diperiksa sebagai tersangka,” kata Antonius Wantri Yulianto, Jumat 8 Maret 2019.

Pihaknya, lanjut dia, belum tahu penyebab sehingga  Aleg DPR RI ini, enggan menghadiri undangan untuk pemeriksaan. 

“Ketidakhadirannya sampai saat ini tak ada kejelasan,” tandas Yulianto.

Sebagaimana diketahui, Edison Betaubun, kini dijerat dengan undang-undang nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilihan Umum atas dugaan tindak pidana pemilu.

Peristiwa hukum yang menjerat mantan advokat  ternama dimasanya itu cukup menyita waktu tim Sentra Penegakan Hukum Terpadu (Gakkumdu) Provinsi Maluku. 

Tak sedikit orang yang harus diperiksa penyidik Gakkumdu untuk mencari posisi pelanggaran yang dilakukan Betaubun pada pertemuan yang terjadi di Hotel Mutiara 4 Januari 2019 lalu.

Ada 12 Kepala Desa dan kepala dusun yang sudah dimintai keterangan terkait pertemuan di Hotel Mutiara.

Sesuai hasil pemeriksaan, sebagian dari para kepala desa hadir waktu itu telah mengakui mereka menerima uang sebesar Rp.300 ribu dari Edison Betaubun. 

Selain itu mereka juga diberi kartu nama yang berisikan nama dan nomor urut Edison Betaubun, yang akan kembali bertarung di Pileg 2019. 

Edison Betaubun memang bukan sembarang politisi, sebelum bergabung dengan partai politik, Edison adalah pengacara yang cukup vokal. Kariernya diakui banyak kalangan.

Saat menjadi anggota DPR-RI, Edison Betaubun kerap bersuara lantang soal isu-isu SARA. Misalnya di Pilgub Maluku tahun lalu, dengan nada berapi-api, dia mengeluarkan pernyataan yang cukup kontroversial. 

Namun waktu itu dia lolos. Tak ada satupun pasal pidana yang dapat dipakai untuk menjerat dia.

Untuk momentum Pemilihan anggota legislatif, Edison juga menyampaikan fakta kontroversial. 

Dalam sebuah pertemuan bersama kader Golkar, dia menyebut pemilih katolik hanya berjumlah 50 ribu orang, itu tidaklah cukup untuk mengantarkan seseorang menjadi anggota DPR-RI dari Maluku. Pernyataan ini sempat viral, namun tak ada yang berani melaporkannya ke pihak berwajib.

Dan kini kasus pertemuannya  di Hotel Mutiara dengan sejumlah kades nampaknya menjadi sandungan yang membuat Ebet (panggilan akrab Edison Betaubun) tak lagi bisa berkutik. (RakyatMaluku)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>